inflaaa(6%)aa$1 … 010713

Mengukur dampak inflasi terhadap IHSG
Oleh Dityasa H Forddanta – Senin, 01 Juli 2013 | 19:45 WIB

kontan

JAKARTA. Hari ini, Senin (1/7), Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Juni 2013 sebesar 1,03%. Angka inflasi ini belum mencakup seluruh dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang baru dinaikkan pemerintah di bulan Juni.

Kepala Riset PT Trust Securities, Reza Priyambada, mengatakan, angka inflasi bulan Juni belum merasakan dampak kenaikan harga BBM. Soalnya, dampak kenaikan harga BBM butuh waktu satu sampai dua bulan.

“Jadi, dampak inflasi akibat kenaikan BBM baru bisa dirasakan pada Agustus nanti, seiring dengan rilis inflasi bulan Juli ini,” tukas Reza. Hal ini juga mampu mendorong inflasi tahun ini beranjak ke level 6,5%-6,8% dan bahkan bisa di atas 7%.

Jika menyinggung ke Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sebenarnya pergerakan IHSG secara teknikal masih memungkinkan kembali ke level 5.200 poin. Namun, jika melihat sisi inflasi, IHSG justru bisa terjembab ke level 4.300 – 4.400 poin.

Potensi itu kian besar mengingat The Fed berencana untuk mengurangi stimulus pada September nanti. Menurut reza, jika ingin bermain saham di tengah situasi seperti ini, sebaiknya investor membidik saham sub sektor industri ritel, makanan olahan, atau sub sektor telekomunikasi.

Untuk sub sektor ritel, saham emiten yang bergerak di sektor ini adalah; JPFA dan CPIN yang bergerak di pakan ternak. Kedua emiten ini menurut Reza merupakan sektor yang memiliki prospek cerah di tengah ancaman inflasi pasca kenaikan BBM.

Selain itu, sub sektor makanan olahan juga akan mengalami kenaikan, begitu juga dengan sub sektor telekomunikasi yang juga akan mendulang kenaikan pasar selama puasa dan Lebaran. Setidaknya, marjin keuntungan emiten yang bergerak di ketiga sub sektor itu bakal terkerek naik.

“Kenaikan harga BBM bisa mempengaruhi daya beli masyarakat. Tapi, menjelang hari raya umumnya masyarakat menerima tunjangan hari raya (THR) yang bisa menjadi penyeimbang daya beli akibat dampak kenaikan BBM,” jelas Reza.

Untuk itu, Reza menyarankan, investor lebih awas terhadap saham-saham yang bergerak di sektor konsumer dan seperti AISA dan INDF. Produk kedua emiten itu laku saat jelang Lebaran. Daya beli masyarakat juga terjaga dengan adanya THR.

Akan tetapi, kenaikan harga BBM bisa memberatkan operasional emiten-emiten. “Jadi, marjin keuntungan di sektor ini mungkin tidak begitu besarnya,” pungkasnya.

Soal dampak inflasi tersebut, Ahmad Sujatmiko, analis PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) sepakat dengan Reza. Ia menilai, dampak inflasi tidak begitu terasa bulan ini. Efeknya, kata Ahmad, baru terasa beberapa waktu ke depan, sehingga secara tahunan inflasi bisa di atas 7%.

Sementara dampaknya ke IHSG, Ahmad menilai inflasi akan menekan IHSG cukup kuat. Apalagi jika kenaikan inflasi dibarengi kenaikan suku bunga bank yang saat ini di level 6%, dari sebelumnya 5,75%. “Hal ini akan membuat investor memindahkan sebagian dananya dari pasar modal ke instrumen investasi di perbankan,” tutur Ahmad.

Lebih jauh, Ahmad menjelaskan, andai IHSG ada di level 5.000 pada akhir tahun nanti, hal itu hanya didorong kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia. Kepercayaan bertambah jika rilis kinerja emiten semester I 2013 bisa mencatatkan kinerja positif yang melebihi ekspektasi analis. “Hal itu akan berpengaruh positif terhadap laju IHSG sampai dengan akhir 2013,” pungkasnya.

Inflation May Rise to 6% Rate in July, Indonesia’s Basri Says
By Novrida Manurung and Berni Moestafa – Jul 1, 2013
bloomberg
Indonesia’s inflation may rise to an annual rate of 6 percent in July after the government raised subsidized-fuel prices last month for the first time since 2008, Finance Minister Chatib Basri said.

“We’re optimistic inflation will reach our full-year target, Basri said in an interview today with Bloomberg TV Indonesia in Jakarta. “It’s not impossible that there will be deflation in September if we can ensure smooth supply and distribution flow of food.”

Basri, who became finance chief in May, oversaw Indonesia’s first price increase for subsidized fuel in five years as President Susilo Bambang Yudhoyono grapples with a declining currency near the end of his second term. The country raised domestic diesel and gasoline rates last month to cut energy spending and stem imports that have hurt the rupiah. The central bank raised its benchmark interest rate for the first time since 2011 to contain inflation expectations.

The fuel-price increase will strengthen the rupiah and the trade balance as oil imports fall while removing the incentive for smugglers to sell subsidized products abroad, Basri said last month. The nation will meet its budget assumption of the rupiah averaging 9,600 per dollar this year, Basri said then.

The government estimates that energy subsidies would have ballooned to $30 billion this year if left unchanged, eating up funds that could instead be spent on benefits for the poor or infrastructure projects. Imports of subsidized gasoline have fallen significantly in the past two weeks, Basri said.
Loan Growth

PT Bank Mandiri, Indonesia’s largest lender by assets, has said profit and loan growth will be hurt by higher interest rates and fuel prices. Inflation in June increased to 5.9 percent from a year earlier, the statistics office said today.

Growth in Southeast Asia’s biggest economy will be at the lower end of a forecast range of 5.9 percent to 6.1 percent in the second quarter, Bank Indonesia Governor Agus Martowardojo said last week. Gross domestic product rose 6.02 percent in the January-March period from a year earlier, the 10th consecutive quarter when growth exceeded 6 percent.

The central bank cut its 2013 economic expansion forecast in April to between 6.2 percent and 6.6 percent from the previous estimate of 6.3 percent to 6.8 percent, citing the drag on exports caused by the recession in Europe.

Indonesia’s economy faces challenges, and policy makers need to monitor the property market in Jakarta, Bali and other areas, as well as the impact of the fuel-price increase on inflation, Assistant Governor Hendar said today.

A parliamentary committee assessed three candidates for a vacancy on the central bank’s policy board today. The committee will announce its choice for deputy governor on July 8. The candidates are Hendar, who goes by one name, Treesna Wilda Suparyono, a director of the foreign-exchange management department at the central bank, and Mulya Siregar, an assistant governor.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s