6% @bI rat3 … 160613

BI klaim kondisi pasar sudah kondusif
Oleh Annisa Aninditya Wibawa – Jumat, 14 Juni 2013 | 15:10 WIB
kontan

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mengklaim bahwa kondisi moneter dan pasar finansial saat ini telah kondusif. BI menilai, kondisi pasar kondusif setelah BI memutuskan untuk menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin dari 5,75% menjadi 6%.

“Kebijakan yang sudah kita keluarkan kemarin yaitu bagaimana merespons tantangan termasuk ekspektasi inflasi. Hari ini, pasar sangat kondusif,” kata Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo, Jumat (14/6).

Ia menyebut bahwa nilai tukar rupiah terhadap dollar sudah normal. Ini karena suplai dan permintaansudah berjalan lancar. Eksportir dan bank-bank juga sudah menjual valuta asing (valas) mereka. Buktinya, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) per hari ini sudah berada di titik Rp 9.886. Ini sedikit menurun sedikit dibanding kemarin (12/6) yang sekitar Rp 9.887.
Menurut Perry, kondisi pasar Surat Berharga Negara (SBN) juga sudah sangat kondusif dan terdapat kecenderungan menguat. Bahkan, BI sudah berencana melelang SBN sebesar Rp 2 triliun, namun yang masuk yakni Rp 1,2 triliun.

Ia menyebut, ini menunjukkan minat investor asing untuk menjual SBN sudah turun. “Sudah kelihatan bahwa minat menjual ini dalam jumlah kecil. Sehingga kita menjual SBN dari pasar sekunder secara bilateral saja,” ucapnya.

Namun, Perry menyadari, masih terdapat tekanan pada pasar saham. Cuma, ia menilai, tekanan saham di Indonesia masih lebih rendah dbanding negara-negara kawasan. “Kemarin walaupun ada penurunan -1,9%, masih jauh lebih rendah dibandingkan Filipina, Jepang, maupun negara kawasan lain,” katanya.

Menurutnya, ini menunjukkan keberhasilan dari langkah koordinasi yang pihaknya lakukan dengan pemerintah, Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Koordinasi ini penting untuk menjaga stabilitas makro dan sistem keuangan.
BI rate naik, tekanan terhadap rupiah mereda
Oleh Barratut Taqiyyah – Kamis, 13 Juni 2013 | 14:25 WIB

kontan

SINGAPURA. Setelah sempat menyentuh level terlemah sejak September 2009, pelemahan rupiah pada siang hari ini (13/6) mulai melambat. Mengutip situs Bloomberg, pada pukul 13.29 WIB, rupiah di pasar spot melemah 0,2% menjadi Rp 9.875 per US$. Pada transaksi sebelumnya, rupiah sempat menembus posisi Rp 9.925 per US$, yang merupakan level terlemah sejak 15 September 2009.

Sementara itu, harga kontrak rupiah di pasar non deliverable forwards (NDF) untuk pengantaran satu bulan ke depan melemah 0,1% menjadi Rp 10.125 per US$, setelah sebelumnya keok 1,3%. Itu artinya, kontrak NDF rupiah terdiskon 2,5% dibanding posisi rupiah di pasar spot.

Meredanya tekanan terhadap rupiah terjadi setelah Bank Indonesia (BI) secara tidak terduga meningkatkan suku bunga acuannya untuk kali pertama sejak 2011 lalu. Asal tahu saja, BI memutuskan untuk menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 6%. Langkah BI ini berbeda dengan prediksi 19 ekonom yang disurvei Bloomberg di mana mereka meramal BI akan menahan suku bunga acuannya.

“Sepertinya BI sangat memperhatikan volatilitas rupiah dan penggunaan cadangan devisa Indonesia merupakan upaya untuk menstabilkan rupiah,” jelas Sacha Tihanyi, foreign-exchange strategist Bank of Nova Scotia di Hong Kong. Dia menambahkan, tekanan terhadap rupiah masih akan besar ke depannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s