infla$1 @ -0,03% … 030613

Pertama Kali dalam 10 Tahun, Mei Alami Deflasi
Martin Bagya Kertiyasa – Okezone
Senin, 3 Juni 2013 10:52 wib

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Mei 2013 mengalami deflasi pada angka 0,03 persen. Deflasi yang terjadi pada Mei ini, merupakan yang pertama kali sejak 10 tahun terakhir.

Kepala BPS Suryamin menjelaskan, inflasi tahun kalender berada sekira 2,3 persen dan inflasi secara year-on-year (YOY) berada di 5,47 persen. Sementara, inflasi inti secara YOY berada di 3,99 persen, dan untuk inflasi inti pada Mei berada di 0,06 persen.

“Data sebelumnya dari 10 tahun terakhir Mei pertama deflasi. Ini salah satu kemungkinan inflasi cukup lumayan, karena adanya penurunan komoditas,” kata Suryamin di kantornya, Jalan Raya Pasar Baru, Jakarta, Senin (3/6/2013).

Menurut dia, dari 66 kota IHK tercatat di 23 kota mengalami inflasi, sementara 43 kota deflasi. Inflasi tertinggi di Ambon 2,25persen dan Pontianak 1,40 persen.

Sedangkan untuk 43 kota IHK yang deflasi, Lanjut Suryamin, deflasi tertinggi Mataram 1,03 Kupang 0,86 persen. Serta deflasi terendah di Pekabaru dan Tasikmalaya 0,01 persen. “Ini karena ada penurunan harga komoditi, bawang merah, bawang putih dan cabe,” ujar Suryamin.
(mrt)
Emas & Listrik Masih Hambat Deflasi Mei
Fakhri Rezy – Okezone
Senin, 3 Juni 2013 13:33 wib

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2013 ini mengalami deflasi sebesar 0,03 persen. Penyebab utamanya adalah bawang merah.

Ketua BPS Suryamin mengatakan penyebab utama deflasi yakni bawang merah dengan andil deflasi sebesar 0,23, atau kenaikan 21,55 persen. Meski mengalami deflasi, namun Tarif Tenaga Listrik (TTL) tetap menggerus daya beli masyarakat.

“Tarif listrik inflasi 0,09-3,18 persen. Sementara, penyesuaian TTL di 66 kota IHK 0,7-3 persen,” ujar Kepala BPS Suryamin, di kantornya, Jakarta, Senin (3/6/2013).

Suryamin melanjutkan, selain bawang merah, bawang putih juga terjadi deflasi 0,13 persen, dengan perubahan harga sebesar 24,68 persen yang terjadi di 64 kota IHK. Kenaikan tertinggi di Palopo 51 persen, dan Pangkal Pinang 40 persen.

“Bawang putih sudah mulai berangsur normal, tapi masih ada satu kota IHK alami inflasi di Tanjung Pinang, dan ada yang stabil di Sumeneb,” tambah Suryamin.

Suryamin mengatakan, emas dan perhiasan mengalami deflasi 0,1 persen dengan perubahan harga 4,55 persen. Terjadi di 64 kota IHK, terbesar di Uat Ampone 12 persen dan Kendari 11 persen. “Tomat sayur dan cabai juga mengalami deflasi cabai 0,03 masing-masing sebesar 0,03 persen,” ujar Suryamin. (mrt)
Harga Bawang dan Emas Turun, Mei Terjadi Deflasi
Ramdhania El Hida – detikfinance
Senin, 03/06/2013 11:21 WIB

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan terjadi deflasi selama Mei 2013 hingga 0,03%. Bawang putih, bawang merah dan emas yang turun menyebabkan terjadinya deflasi.

Sejak tahunan atau year on year, inflasi Mei 2013 tercatat 5,47%. Jika melihat tahun kalender, inflasi sejak Januari 2013 hingga akhir Mei 2013, BPS mencatat mencapai 2,3%

“Dalam 10 tahun terakhir baru bulan Mei 2013 ini yang terjadi deflasi 0,03%,” ungkap Kepala BPS Suryamin dalam acara konferensi pers di kantornya, Jalan Dr. Sutomo, Jakarta, Senin (3/6/2013).

“Pengontrolan ketat dilakukan pemerintah dan menunjukkan hasil. Bawang merah dan bawang putih turun. Serta emas perhiasan juga turun harganya,” imbuh Suryamin.

Dari 66 kota di Indonesia, terjadi deflasi di 43 kota dan 23 kota terjadi inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Mataram mencapai 1,03 persen dan Kupang 0,86 persen.

“Hal ini dikarenakan penurunan harga cabai rawit, bawang merah dan putih. Deflasi terendah di Pekanbaru dan Tasikmalaya sebesar 0,01,” ungkap Suryamin.

Inflasi terjadi di Ambon terbesar yang mencapai 2,25 persen dan Pontianak 1,4 persen. Hal ini dikarenakan tingginya biaya angkutan udara dan ikan segar karena iklim yang kurang bersahabat.

(dru/dnl)

April, Ekspor RI Alami Penurunan 2,18%
Fakhri Rezy – Okezone
Senin, 3 Juni 2013 13:58 wib

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Indonesia pada April 2013 mencapai USD14,70 miliar. Angka ini mengalami penurunan 2,18 persen dibandingkan Maret 2013.

“Penurunan ekspor April 2013 disebabkan oleh penurunan ekspor migas sebesar 18,37 persen, dari USD2,93 miliar menjadi USD2,39 miliar,” ujar Kepala BPS Suryamin, di kantornya, Jakarta, Senin (3/6/2013).

“Penurunan ekspor migas disebabkan oleh menurunnya minyak mentah sebesar 21,94 persen, dan ekspor hasil minyak sebesar 20,47 persen, demikian pula ekspor gas menurun 15,92 persen,” ujar Suryamin.

Suryamin menambahkan, volume ekspor migas April 2013 menurun apalagi untuk minyak mentah dan gas turun masing-masing 23,22 persen dan 10,30 persen. Sementara hasil minyak naik 21,65 persen.

“Kemudian harga minyak mentah pun turun dari USD107,42 per barel pada Maret 2013 menjadi USD104,19 per barel pada April 2013,” ujar Suryamin.

Sedangkan untuk ekspor nonmigas, lanjut suryamin, terjadi kenaikan sebesar 1,74 persen dari USD12,1 miliar menjadi USD12,31 miliar.

Selain itu, Direktur Statistik, Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengatakan untuk volume-volume impor masih ada beberapa yang meningkat. Akan tetapi harganya mengalami penurunan.

“(Komoditas utama CPO) menurun harga sekira 17 persen dibandingkan Januari-April 2012, kalau volume naik 10 persen, tapi nilainya turun tujuh persen, jadi total penurunan harganya 17 persen,” ujar Sasmito. (mrt)
alert02
Masyarakat Berat, Kenaikan Harga BBM Dibarengi Puasa, Lebaran dan Uang Sekolah
Ramdhania El Hida – detikfinance
Senin, 03/06/2013 17:09 WIB

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan pemerintah terhadap potensi meledaknya inflasi pada bulan Juli 2013. Hal ini terjadi jika pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sekitar pertengahan Juni.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo menyatakan di bulan Juli 2013 ini siklus tekanan inflasi berkumpul pada satu waktu. Kondisi ini bisa menjadi inflasi yang hebat.

“Juli ada puasa, liburan, uang sekolah, lengkap,” ujar Sasmito di kantornya, Jalan Dr. Sutomo, Jakarta, Senin (3/6/2013).

Sasmito mengharapkan lonjakan inflasi pada bulan tersebut tidak akan membuat asumsi inflasi dalam RAPBN-P 2013 sebesar 7,2 persen tak sampai terlampaui.

“Mudah-mudahan tidak sampai segitu (di bawah 7,2%), tapi saya kira menjelang pemilu pemerintah akan all out juga untuk jaga ini, saya kira akan tercapai, malah kemungkinan bisa di bawah itu,” ujarnya.

Ini bisa terjadi, asalkan seluruh pasokan pangan masyarakat bisa tersedia sehingga tidak terjadi inflasi karena kenaikan harga pangan tersebut.

“Kalau nanti suplai sehari-harinya memadai saya kira tidak akan besar juga sepanjang suplai kebutuhan Lebaran yang pokok sebangsa cabai, ayam, daging sapi, telur, terigu, margarin, minyak goreng semua tersedia, artinya suplainya aman saya kira akan aman,” tegasnya.

Sasmito menambahkan dampak inflasi akibat kenaikan BBM bersubsidi yang direncanakan pada pertengahan bulan Juni ini akan terasa sekitar bulan Juni dan Juli. Namun, berdasarkan tren beberapa tahun terakhir, pada bulan Juni, inflasi tidak akan melebihi 1 persen.

“Bulan Juni moderat lah, biasanya sekitar 0,5%, mudah-mudahan tidak berat-berat amat lah karena kalau BBM naik di tengah bulan itu inflasi dampak langsungnya di bulan Juni dan Juli, jadi tidak numpuk di satu bulan,” katanya.

(nia/hen)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s