top BANK … 050213

Saham Perbankan Tak Ada Matinya
Mon, 4 Feb 2013, 18:31 WIB Headline, Pasar Modal
infobank
Sebanyak 15 saham bank yang termasuk ke dalam indeks infobank15 cukup likuid di perdagangan belakangan ini. Saham-saham bank mana saja yang mampu memberikan imbal hasil (yield) menarik kepada investor? Dwi Setiawati

Pada 7 November 2012 Majalah Infobank bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan indeks infobank15. Dengan diluncurkannya indeks tersebut, para pemain saham di bursa, khususnya peminat saham-saham perbankan, seperti investor, analis saham dan keuangan, manajer investasi, serta pemerhati pasar modal, akan mendapat tambahan informasi mengenai perkembangan saham perbankan.

Indeks infobank15 juga bisa dijadikan sebagai bahan acuan oleh para pelaku industri pasar modal. Dengan demikian, mereka dapat menciptakan produk-produk pengelolaan dana berbasis saham, semacam reksa dana, exchange traded fund (ETF), atau produk derivatif lainnya.

Sejak diluncurkan, pergerakan indeks infobank15 terus menanjak. Hari pertama dibuka indeks berada di level 410,2 poin dan pada periode 19 November 2012 naik menjadi 416,2 poin. Pergerakan indeks yang positif tersebut merupakan angka statistik yang mempresentasikan pergerakan harga saham perbankan, khususnya 15 saham bank di bursa.

Kinerja saham perbankan yang termasuk ke dalam indeks infobank15 ini untuk periode Oktober 2012 sampai dengan Mei 2013. Yang tampak agresif adalah saham-saham perbankan yang berkapitalisasi besar, seperti BMRI, BBRI, dan BBCA.

Aktivitas perdagangan ke-15 saham perbankan tersebut cukup bervariasi. Bahkan, setahun belakangan ini terus menggeliat, misalnya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Bank Danamon Tbk (BDMN)—pertumbuhan sahamnya 14,72% sampai dengan akhir 2013.

Menurut Michael Tjoajadi, Direktur Utama PT Schroders Indonesia, awal November 2012, turunnya margin bunga bersih (net interest margin atau NIM) perbankan dalam beberapa tahun terakhir tidak membuat investor bergeser ke lain saham. Kerisauan investor terhadap NIM di perbankan tetap mengangkat potensi pertumbuhan bisnis suatu bank masih akan berprospek baik selama pendapatan modalnya masih besar, apalagi ruang perbankan untuk ekspansi usaha saat ini masih cukup besar.

Rencana Bank Indonesia (BI) untuk menetapkan izin berjenjang (multiple license) terhadap perbankan akan membuat bank makin bersinergi—agar dapat terus tumbuh. Koefisien sinergi tersebut akan membuat perbankan kian efisien, tapi ruang untuk ekspansi usaha akan kian besar.

Elvyn G. Masassya, Direktur Utama PT Jamsostek, mengatakan, secara fundamental dalam lima tahun terakhir tingkat imbal hasil indeks sektoral saham perbankan jauh melebihi (outperformed) tingkat pertumbuhan IHSG sehingga investor harus mempertimbangkan sektor perbankan dan keuangan.

Kita lirik kinerja keuangan BMRI (saham Bank Mandiri). Saham ini masih sangat berpotensi untuk dikoleksi mengingat prospek laba yang positif. Saat ini (periode 19 November 2012) harga saham BMRI berada di level Rp8.400. Dengan kondisi tersebut, banyak analis menargetkan bahwa harga saham ini bisa mencapai Rp9.600 karena ada potensi yang mengimplikasikan bahwa PBV 2013 sebesar 2,6 kali dan potensi naik 17%.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s