bbri @Rp 18,52 T … 01 Februari 2013

BRI Bukukan Laba Bersih Rp 18,5 Triliun
Kamis, 31 Januari 2013 | 19:23
suara pembaruan

[JAKARTA] PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencatatkan kinerja positif sepanjang 2012 lalu. Hingga akhir Desember 2012, BRI membukukan perolehan laba bersih sebesar Rp.18,5 triliun atau meningkat 22,79 persen dibanding tahun 2011.

“Perolehan laba tersebut merupakan hasil nyata dari transformasi bisnis yang dilakukan BRI selama ini, yaitu memperkuat fokus pada segmen UMKM dengan tetap mengedepankan kebijakan prudential banking, memperluas jaringan unit kerja dan e-channel, serta melakukan pengembangan e-banking, termasuk juga produk & layanan berbasis IT lainnya,” ujar Direktur BRI, Djarot Kusumayakti dalam pemaparan kinerja keuangan BRI 2012 di Kantor BRI, Sudirman, Jakarta, Kamis (31/1).

Hasil dari transformasi bisnis tersebut, lanjut Djarot, tampak dalam pertumbuhan kredit BRI yang mencapai 22,8 persen secara YoY. Bahkan, kualitas kredit BRI dapat terjaga secara baik yang tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) gross per Desember 2012 yang berada pasa posisi 1.78 persen atau menurun dari posisi di akhir Desember 2011 yang tercatat sebesar 2.30 persen.

Dirinci Djarot, pertumbuhan kredit mikro mengalami akselerasi sejak kuartal dua 2012. “Pertumbuhan secara QoQ dalam kuartal tersebut mencapai Rp.4,8 trilyun, dan di kuartal ke 4 mencatat pertumbuhan (net) QoQ tertinggi yaitu sebesar Rp. 5,73 trilyun, lebih dari dua kali pertumbuhan di periode yang sama di tahun 2011 yang lalu,” katanya.

Pertumbuhan outstanding pinjaman tersebut diikuti dengan petumbuhan jumlah nasabah yang signifikan. “Artinya ekspansi kredit mikro yang dilakukan BRI mampu merambah pasar baru dan mampu menjangkau lebih banyak nasabah mikro,” ujarnya.

Ditambahkannya, kualitas kredit mikro BRI juga membaik. Hingga akhir Desember 2012, NPL gross kredit mikro BRI tercatat sebesar 1,09 persen. “BRI secara berkesinambungan dalam lima tahun terakhir berhasil menjaga NPL (gross) kredit mikronya di bawah 2 persen,” imbuhnya.

Selain itu, BRI juga terus meningkatkan kemampuan e-banking nya melalui pengembangan e-channel secara lebih intensif. Selama periode 2009 – 2012, jumlah ATM BRI meningkat secara signifikan, dari 3.778 ditahun 2009 menjadi 14.292 pada akhir tahun 2012, menjadikan BRI sebagai bank dengan jaringan ATM terbesar di Indonesia.

Peningkatan jumlah ATM tersebut diikuti oleh peningkatan transaksi, baik secara jumlah maupun secara nominal. Jumlah transaksi ATM BRI meningkat lebih dari 5 kali lipat selama periode 2009 – 2012, dari sekitar 144.2 juta transaksi di tahun 2009 menjadi 789,2 juta transaksi diakhir tahun 2012. Secara nominal terjadi peningkatan yang juga sangat signifikan, dari Rp 71,6 triliun di tahun 2009 menjadi Rp 429,2 triliun diakhir 2012, atau terjadi peningkatan sekitar enam kali lipat. Layanan SMS banking juga mengalami peningkatan jumlah user dari hanya 244ribu user di tahun 2009, menjadi 3.4juta user pada akhir tahun 2012.

Dengan jumlah rekening simpanan lebih dari 35juta rekening, BRI berhasil mempertahankan dominasi sumber dana murah dalam komposisi dana pihak ketiganya. Per akhir Desember 2012, CASA terjaga di kisaran 60 persen, dengan penurunan CoF dari sekitar 6.02 persen di tahun 2009 menjadi 3.68 persen di akhir tahun 2012. Pertumbuhan funding yang sehat ikut menjaga tingkat likuiditas BRI, yang tercermin dari rasio LDR per akhir Desember 2012 yang tercatat sebesar 79.85 persen.

Peningkatan kinerja tersebut tercermin dari pembaikan rasio-rasio keuangan BRI di tahun 2012. ROA per akhir Desember 2012 tercatat 5.15%, meningkat dari posisinya di tahun 2011 sebesar 4.93%, ROE pada level 38.66%, dan BOPO sebesar 59.93% masih dibawah rata rata perbankan nasional. Kondisi capital pun cukup kuat, tercermin dari rasio CAR sebesar 16.95%. [Y-9]
Kamis, 31 Januari 2013 | 19:22 WIB
Kredit Bermasalah Pulih, Laba Bersih BRI Naik

TEMPO.CO, Jakarta – Laba bersih PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sepanjang 2012 naik 22,79 persen menjadi Rp 18,5 triliun dari periode yang sama di 2011. Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia, Sofyan Basir menjelaskan, laba terdorong peningkatan pendapatan berbasis biaya (fee based), rasio kredit bermasalah yang membaik, meningkatnya recovery risk kredit bermasalah dan penurunan biaya dana (cost of fund).

“Itu yang membuat laba kami meningkat,” ujar Sofyan dalam paparan kinerja 2012 di Gedung Bank Rakyat Indonesia, Kamis, 31 Januari 2013.

Sofyan memaparkan, pendapatan berbasis biaya dan pendapatan non operasional dari perbaikan kredit bermasalah naik 47,8 persen dari posisi Rp 5,5 triliun pada Desember 2011 menjadi Rp 8,2 triliun pada Desember 2012. Adapun pendapatan berbasis biaya diantaranya disokong oleh peningkatan transaksi melalui anjungan tunai mandiri (ATM).

Selama periode 2009-2012, jumlah ATM BRI meningkat signifikan, dari 3.778 pada 2009 menjadi 14.292 pada akhir 2012. Peningkatan jumlah ATM diikuti peningkatan transaksi. “Jumlah transaksi ATM BRI meningkat lebih dari 5 kali lipat selama periode 2009-2012,” ucapnya. Dari sekitar 144,2 juta transaksi di tahun 2009 menjadi 789,2 juta transaksi di akhir tahun 2012. Adapun secara nominal terjadi peningkatan signifikan dari Rp 71,6 triliun di tahun 2009 menjadi Rp 429,2 triliun di akhir 2012. “Terjadi peningkatan sekitar 6 kali lipat,” ucap Sofyan.

Sofyan menjelaskan, NPL BRI juga terjaga meski kredit tumbuh cukup tinggi yakni 22,80 persen secara tahunan. BRI menargetkan pertumbuhan berada di kisaran 18-22 persen pada 2012. Rasio kredit bermasalah (NPL) tercatat menurun dari 1,78 persen (gross) pada Desember 2012 menjadi 2,30 persen pada Desember 2011.

Direktur Bisnis Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) BRI Djarot Kusumayakti mengungkapkan NPL kredit mikro bahkan tercatat menurun meski kredit segmen ini tumbuh pesat. Pada kuartal III 2012 kredit tercatat mencapai Rp 4,8 triliun dan naik menjadi Rp 5,73 triliun pada kuartal IV 2012. “Dibanding tahun sebelumnya, peningkatan mencapai dua kali lipat,” ucapnya. Adapun NPL kredit UMKM BRI per akhir Desember 2012 tercatat 1,09 persen.

Tahun ini, BRI menargetkan pertumbuhan kredit bertahan di kisaran 18-22 persen. Adapun laba diproyeksikan tumbuh 15-18 persen.

MARTHA THERTINA
Jum’at, 01 Februari 2013 | 11:47 WIB
Saham Perbankan Antar Indeks Tembus 4.500

TEMPO.CO, Jakarta – Perburuan saham perbankan yang dilakukan oleh investor berhasil mengantar indeks menyentuh level 4.500 untuk pertama kalinya dan juga merupakan level tertinggi sepanjang sejarah bursa.

Sentimen negatif dari tingginya inflasi bulan Januari kemarin serta turunnya kinerja ekspor tidak menghalangi kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia di akhir pekan ini. melonjaknya saham sektor perbankan di atas 2 persen yang diikuti sektor lainnya mampu mendongkrak indeks.

Pada perdagangan sesi pertama hari ini, Jumat, 1 Februari 2013, indeks saham melambung 64,115 poin (1,44 persen) ke level 4.517,818. Dan investor asing kembali mencatat pembelian bersih Rp 553 miliar.

Volume perdagangan mencapai 3,15 miliar saham, dengan nilai Rp 3,13 triliun, serta frekwensi 94 ribu kali transaksi lebih. Harga 153 saham, 64 saham turun, serta 98 saham lainnya stagnan.

Analis PT Samuel Sekuritas Indonesia, Muhammad Alfatih, menjelaskan ekspektasi tumbuhnya kinerja perbankan 2012 dan prospek di tahun 2013 membuat saham perbankan kembali diborong pemodal. Saham Bank BNI (BBNI) naik 8,3 persen menjadi Rp 4.250, Bank Mandiri (BMRI) 4,4 persen ke Rp 9.450, serta Bank BCA juga menguat 3,9 persen menjadi Rp 9.950 per saham.

Meskipun sudah naik cukup kencang, namun potensi kenaikan masih ada walau sudah mulai terbatas. Tetap tumbuhnya perekonomian domestik membuka peluang tumbuhnya kredit perbankan. Fokus investor saat ini tertuju pada laporan keuangan emiten. “Saham – saham yang diperkirakan masih mencatat pertumbuhan kembali diakumulasi pemodal, dan untuk saat ini sektor perbankan,” tuturnya.

Mulai stabilnya perekonomian global dan naiknya harga komoditas bisa dimanfaatkan untuk mengakumulasi saham pertambangan dan perkebunan. Meskipun permintaan global belum terlihat pertumbuhan yang berarti, namun membaiknya harga komoditas logam bisa dijadikan momen untuk membeli saham pertambangan.

Setelah indeks menyentuh 4.500, target indeks berikutnya akan menuju ke 4.750. Indeks akan tetap bergerak fluktuatif dan akan diselingi aksi ambil untung, namun trennya masih positif.

VIVA B. K
KINERJA BANK: Fee-based income naik, laba bersih BRI tembus Rp18,52 triliun

Anissa Margrit, Roberto A. Purba

Kamis, 31 Januari 2013 | 18:52 WIB

bisnis indonesia
JAKARTA–PT Bank Rakyat Indonesia Tbk mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp348,23 triliun sepanjang tahun 2012. Jumlah tersebut tumbuh 22,8% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Dalam paparan kinerja perseroan yang berlangsung Kamis (31/1), Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia Sofyan Basir mengatakan peningkatan kinerja juga ditunjukkan dari naiknya dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun.

DPK perseroan hingga akhir Desember 2012 mencapai Rp436,1 triliun dari sebelumnya Rp372,15 triliun, atau naik 17,8%. Sekitar 60% dari jumlah itu berupa dana murah, yaitu tabungan dan giro.

Sementara, laba bersih tercatat meningkat 22,79% dari Rp15,08 triliun menjadi Rp18,52 triliun. “Laba bersih naik karena

fee-based income naik, recovery rate membaik, dan cost of fund turun

,” terangnya.

Perseroan membidik pertumbuhan kredit di kisaran 18% sampai 22% tahun ini, sedangkan laba bersih diharapkan naik 15% hingga 18%. (Faa)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s