rupiaaa(c3m4$ 10K)aaH … 140113

Nilai tukar rupiah pada Senin pagi (14/1) bergerak menguat sebesar 125 poin
terhadap dolar AS seiring dengan penjagaan Bank Indonesia (BI). Mata uang rupiah
yang ditransaksi antarbank di Jakarta pagi ini bergerak menguat 125 poin menjadi
Rp 9.665 dibanding sebelumnya di posisi Rp 9.790 per dolar AS. (finance roll/dk)
Empat Sebab Nilai Tukar Rupiah Melemah
Penulis : Didik Purwanto | Senin, 14 Januari 2013 | 02:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan ada empat sebab nilai tukar Rupiah melemah. Hal itu disebabkan oleh faktor eksternal dan internal.

“Pergerakan nilai tukar rupiah saat ini dinilai tidak wajar. Pergerakan tersebut sudah di atas rata-rata prediksi analis pasar,” kata Purbaya di Jakarta, Senin (14/1/2013).

Menurut Purbaya, penyebab pertama adalah sentimen negatif terhadap memburuknya neraca pembayaran, khususnya neraca berjalan (current account). Hal ini disebabkan karena perlambatan ekspor sementara impor bertumbuh cukup pesat.

Kedua, masih ada ketidakpastian penyelesaian krisis hutang Eropa. Sehingga masih ada investor yang melakukan safe haven. Ketiga, Purbaya menilai Bank Indonesia (BI) kurang memadai dalam mengintervensi Rupiah. Ini berbeda dengan bulan Agustus-September 2011 saat bank sentral dinilai all out menguatkan Rupiah.

Keempat, likuiditas dollar AS terbatas akibat tidak terbatasnya repatriasi ekspor. Serta terbatasnya instrumen penempatan dana valas di dalam negeri. “Nilai wajar Rupiah saat ini sekitar Rp 9.300 per dollar AS. Namun kini justru melemah hingga di atas Rp 9.500 per dollar AS,” tambahnya.

Jika tidak diantisipasi, Rupiah bisa melemah hingga Rp 10.000 per dollar AS. Namun pelemahan ke level sakral tersebut dinilai tidak akan lama. “Indikator makro ekonomi Indonesia masih membaik. Sehingga masih ada harapan Rupiah kembali menguat,” katanya.

Hal itu ditunjukkan oleh arus modal asing (capital inflow) masih deras. Selama November 2012 masih ada net buy asing di pasar obligasi Rp 19,5 triliun dan Rp 290 miliar selama Desember 2012.

Di pasar saham masih terjadi net sale asing Rp 3,1 triliun di November karena isu fiscal cliff dan Yunani. Serta ada net buy sebesar Rp 100 miliar. Dana asing juga cenderung meningkat yang diindikasikan dari cadangan devisa.

Hingga akhir Desember 2012 sudah ada 112,78 miliar dollar AS. “Indikator lainnya seperti inflasi, aktivitas perekonomian masih meningkat, suku bunga acuan BI tetap rendah dan pelaku bisnis juga baik,” tambahnya.

Prediksinya, Rupiah akan menguat ke level Rp 9.059 per dollar AS atau Rp 9.185 untuk rata-rata dalam setahun. Posisi yang masih lemah hanya didorong oleh ekspektasi pelaku pasar serta masih adanya ketidakpastian di Eropa.
Editor :
Benny N Joewono
Rupiah Bakal Menembus 10.000 Per Dollar AS
Penulis : Didik Purwanto | Jumat, 11 Januari 2013 | 15:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Nilai tukar rupiah diperkirakan akan menembus level Rp 10.000 per dollar AS di tahun ini. Hal itu seiring dengan harga komoditas yang belum stabil.

Global Head of Forex Research Standard Chartered Bank Callum Henderson menjelaskan isu neraca perdagangan yang masih defisit bisa menekan nilai tukar rupiah. Pasalnya, defisit tersebut disebabkan kenaikan harga komoditas dan memburuknya ekspor.

“Rupiah di akhir semester I-2013 ini bisa menembus Rp 10.000 per dollar AS. Namun di akhir tahun bisa menguat kembali ke Rp 9.500 per dollar AS,” kata Callum di Hotel Mandarin Jakarta, Jumat (11/1/2013).

Menurut Callum, defisit neraca perdagangan Indonesia pada akhir tahun 2012 (khususnya November 2012) merupakan yang tertinggi di dunia. Hal ini yang menyebabkan rupiah terus terpuruk terhadap nilai tukar mata uang asing, khususnya dollar AS.

Namun, menurut Callum, neraca perdagangan yang defisit tersebut bukan terlalu menjadi masalah bagi Indonesia. Sebab, defisitnya tercipta dari penurunan ekspor Indonesia. Terlebih lagi, 65 persen ekspor Indonesia merupakan ekspor komoditas yang mayoritas harganya anjlok di dunia.

“Ini masalah siklikal (terkait siklus) saja. Lambat laun, harga komoditas akan membaik, ekspor juga membaik, dan neraca perdagangan juga akan surplus. Imbasnya rupiah juga akan menguat,” tambahnya.

Ekonom Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan, menambahkan Bank Indonesia (BI) masih memiliki cadangan devisa yang cukup kuat untuk mengintervensi kondisi rupiah yang terus melemah.

“Hingga akhir 2012 lalu, cadangan devisa BI masih 112,78 miliar dollar AS. Itu masih cukup,” kata Fauzi. Terlebih lagi, BI juga masih punya kebijakan Devisa Hasil Ekspor yang memaksa para pengekspor untuk menaruh dananya di perbankan nasional. Hal ini masih bisa menambah posisi cadangan devisa BI beberapa waktu.
Editor :
A. Wisnubrata
Simalakama Rupiah Jeblok
Penulis : Didik Purwanto | Sabtu, 12 Januari 2013 | 12:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Nilai tukar rupiah yang jeblok memang bagaikan buah simalakama bagi investor. Bagi eksportir tentu saja makin untung, tapi importir malah buntung. Sepanjang 2012, Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 5,91 persen (yoy) ke level Rp 9.638 per dollar AS. Namun secara year to date hingga akhir pekan ini, rupiah hanya terdepresiasi 0,2 persen ke level Rp 9.660 per dollar AS.

Global Head of Forex Research Standard Chartered Bank Callum Henderson memproyeksikan bahwa kemungkinan rupiah juga bakal menembus level Rp 10.000 per dollar AS di semester I-2013 ini. Hal ini mengantisipasi nilai neraca perdagangan Indonesia yang makin defisit. Jika benar demikian, maka rupiah akan terus terdepresiasi semakin dalam. Hal ini bisa jadi ancaman, namun bisa juga sekaligus menjadi peluang bagi investor.

Menurut Callum, defisit neraca perdagangan Indonesia pada akhir tahun 2012 (khususnya November 2012) merupakan yang tertinggi di dunia. Hal ini yang menyebabkan rupiah terus terpuruk terhadap nilai tukar mata uang asing, khususnya dollar AS. Namun, menurut Callum, neraca perdagangan yang defisit tersebut bukan terlalu menjadi masalah bagi Indonesia. Sebab, defisitnya tercipta dari penurunan ekspor Indonesia. Terlebih lagi, 65 persen ekspor Indonesia merupakan ekspor komoditas yang mayoritas harganya anjlok di dunia.

“Ini masalah siklikal (terkait siklus) saja. Lambat laun, harga komoditas akan membaik, ekspor juga membaik, dan neraca perdagangan juga akan surplus. Imbasnya rupiah juga akan menguat,” kata Callum.

Sehingga ia memprediksi rupiah akan kembali menguat di level Rp 9.500 per dollar AS di pertengahan tahun hingga akhir tahun 2013.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Chatib Basri menilai, pelemahan nilai tukar rupiah ini jangan dianggap sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan. “Sebab, ini jadi potensial keuntungan bagi importir. Ini juga bisa mendorong impor produk-produk tertentu yang dibutuhkan negeri ini,” katanya.

Menurut Chatib, dari kacamata investor tentu saja pelemahan rupiah ini akan menjadi peluang karena dapat membantu mereka untuk kebutuhan repatriasi. “Jadi rupiah ini tidak selalu mengkhawatirkan. Saya optimis, likuiditas di pasar masih sangat deras,” katanya.

Hal ini dibuktikan karena perekonomian Indonesia saat ini mengontribusikan 48 persen perekonomian di ASEAN. Dalam soal populasi, penduduk Indonesia juga sudah mencapai 42 persen dari populasi penduduk ASEAN. Dengan kondisi tersebut, maka pasar Indonesia sangat menjanjikan, baik mencukupi kebutuhan pasar domestik sendiri, maupun pasar bagi asing untuk masuk ke Indonesia.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan juga menjelaskan hal senada. Pelemahan nilai tukar rupiah ini juga meningkatkan impor di Tanah Air. “Sepanjang 2012, impor bahan baku untuk bahan modal naik 10-12 persen. Ini akan terus terjadi di 2013 ini,” kata Gita.

Memang kondisi penguatan impor dibanding ekspor ini justru akan menekan neraca perdagangan di Tanah Air. Tapi menurut Gita, hal itu bukan menjadi penyebab rupiah terdepresiasi. “Rupiah anjlok itu dipicu oleh sentimen negatif dari kebijakan pemerintah, sentimen politik dan isu soal tenaga kerja. Ini yang sedikit memengaruhi pandangan dunia dan menyebabkan rupiah melemah,” kata Gita.

Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution memiliki pandangan berbeda. Menurut dia, rupiah terdepresiasi karena terkait dengan memburuknya kondisi perekonomian global, khususnya di kawasan Eropa, yang berdampak pada penurunan arus masuk portfolio asing ke Indonesia.

Menurut Darmin, dari sisi domestik, tekanan rupiah berasal dari tingginya permintaan valas untuk keperluan impor di tengah perlambatan kinerja ekspor. Nilai tukar rupiah kembali bergerak stabil pada kuartal IV-2012 seiring dengan peningkatan arus masuk modal asing yang cukup besar, baik dalam bentuk arus masuk modal portofolio maupun investasi langsung.

Ke depan, Bank Indonesia akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan kondisi fundamental perekonomian. Pihak Bank Indonesia akan terus melakukan intervensi, khususnya saat kurs rupiah sudah menembus level nilai wajarnya.

“Memang neraca perdagangan kita sedang disoroti pemain pasar. Tapi ya begitulah, ada yang ambil untung, ada yang menganggap ini hanya sementara. Jadi ya macam-macam ya investornya,” kata Darmin.

Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pergerakan nilai tukar rupiah saat ini dinilai tidak wajar. Pergerakan tersebut sudah di atas rata-rata prediksi analis pasar. Menurut dia, dibandingkan dengan mata uang lain, secara nominal nilai tukar rupiah lebih lemah 5 persen dari rata-rata tahun 2010. Pada tahun 2011, rupiah juga terus melemah dan terus dilanjutkan pada 2012, yang masih juga dipengaruhi kondisi global. Namun, jika nilai tukar rupiah selalu di atas Rp 9.500 per dollar AS, nilai tukar tersebut sudah dianggap tinggi.

“Padahal, nilai wajarnya (fair value) sekitar Rp 9.300 per dollar AS,” kata Purbaya.

Saat ini, nilai tukar rupiah diperkirakan sudah berada di bawah perkiraan rata-rata (undervalue) sebesar 4-5 persen. Namun, masih ada peluang bagi rupiah untuk menguat dalam waktu dekat. Kondisi pelemahan nilai tukar rupiah saat ini, kata Purbaya, dipengaruhi sentimen negatif memburuknya neraca pembayaran, khususnya neraca berjalan atau current account akibat pelambatan ekspor. Adapun impor masih bertumbuh cukup pesat.

Hal lain yang turut memengaruhi kondisi tersebut adalah ketidakpastian penyelesaian krisis utang Eropa sehingga masih ada investor yang melakukan safe haven. Demikian pula intervensi kurang memadai dari Bank Indonesia yang berbeda dari Agustus-September 2011.

“Sementara likuiditas dollar AS juga terbatas akibat tidak terbatasnya repatriasi ekspor serta terbatasnya instrumen penempatan dana valas di dalam negeri,” kata Purbaya.

Jadi, tergantung pelaku pasar. Pelemahan rupiah ini mau dijadikan ancaman atau malah dijadikan peluang?
Editor :
Hertanto Soebijoto

DEPRESIASI RUPIAH: Dampaknya Dirasakan Industri 2-3 Bulan lagi

Christin Franciska

Senin, 14 Januari 2013 | 01:40 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA—Depresiasi rupiah yang terjadi beberapa pekan ini dinilai dapat mempengaruhi biaya produksi sejumlah industri, terutama yang memiliki ketergantungan impor bahan baku. Jika depresiasi tak juga dikontrol, pengaruhnya dinilai lebih besar ketimbang penaikan upah dan tarif dasar listrik.

Sekertaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Franky Sibarani, mengatakan depresiasi rupiah akan menaikan beban biaya bahan baku dan bahan kemasan pada indusri makanan dan minuman (mamin).

Namun, peningkatan beban ini disinyalir akan terasa pada 3 bulan mendatang saat produsen makanan dan minuman melakukan order baru.

“Industri memiliki asumsi kurs sendiri yang umumnya ditetapkan lebih tinggi dari proyeksi Bank Indonesia. Tetapi beberapa pekan ini, asumsi yang dibuat industri sudah meleset. Industri tentu harus hitung ulang,” katanya kepada Bisnis, Minggu (13/1/2013).

Franky menambahkan, jika harga rupiah terus tertekan pada 3 bulan pertama tahun ini dikisaran Rp10.000 per dolar, harga produk makanan dan minuman berpotensi naik lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Kenaikan harga bahan baku dapat memberi pengaruh lebih besar dibandingkan dengan penaikan upah dan tarif dasar listrik.

Seperti diketahui, GAPMMI memerkirakan kenaikan harga jual tahun ini berkisar 5% hingga 10% akibat penaikan upah dan tarif dasar listrik. Kalau skenario terburuk mengenai rupiah terjadi, kenaikan harga mamin bisa melampaui persentase itu pada 3 bulan mendatang.

“Dampaknya memang tidak selalu kepada harga jual. Tetapi kalau rupiah terus melemah harga produk bisa terkoreksi lagi pada Maret akhir atau awal April,”

katanya.

Menurut Franky, hampir tak ada produsen makanan dan minuman (mamin) yang terlepas dari komponen impor. Bahan baku seperti gula, tepung terigu, dan kedelai misal, sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri. Secara keseluruhan, komponen impor memiliki porsi sekitar 30% dari seluruh bahan baku industri mamin.

Senada, beberapa perusahaan elektronik dalam negeri dinilai juga dapat terkena imbas dari depresiasi rupiah karena komponen produksi banyak diimpor dari luar.

“Pastinya akan besar pengaruhnya karena beberapa komponen dibeli dengan dollar. Sejauh ini belum terasa imbasnya, karena pembelian komponen saat ini biasanya sudah beli sebelumnya. Berdasarkan pengalaman, biasanya 2 sampai 3 bulan ke depan baru akan terasa,” jelas Public Relations & Marketing Event Manager PT Hartono Istana Teknologi, Santo Kadarusman.

Produsen elektronik, lanjutnya, diperkirakan masih akan bertahan dengan harga jual awal walau rupiah menyentuh Rp10.000 per dolar. “Kita tentu khawatir konsumen akan pindah ke produk lain. Sementara kita bertahan dengan keuntungan yang lebih sedikit atau cari vendor baru yang harganya lebih rendah namun mutu kualitas masih oke.”

Seperti diketahui, beberapa pekan ini rupiah terus tergerus terhadap dolar mendekati angka Rp10.000. Beberapa ekonom menilai, Bank Indonesia harus segera melakukan intervensi terhadap adanya potensi pelemahan lebih lanjut. (sut)

Bertindak atau tembus Rp 10.000
Oleh Agung Jatmiko, Dina Farisah – Sabtu, 12 Januari 2013 | 08:58 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA. Pergerakan kurs rupiah di pasar spot semakin melesu, mendekati Rp 10.000 per dollar Amerika Serikat (AS). Kemarin, pairing USD/IDR bahkan sempat menyentuh level 9.902 pada perdagangan sesi siang. Untunglah, sore harinya perdagangan rupiah di tutup pada kurs 9.866 per dollar.

Ini merupakan level terendah rupiah sejak 15 September 2009. Berbeda dengan di pasar spot, dollar AS di kurs tengah Bank Indonesia (BI), kemarin justru melemah 0,56% di 9.660.

Raditya Ariwibowo, analis BNI Divisi Tresuri mengatakan, kinerja neraca perdagangan Indonesia yang buruk menjadi penyebab utama loyonya rupiah. Bulan November 2012 lalu, defisit neraca perdagangan tercatat US$ 478 juta. Bahkan  jika dihitung sejak Januari 2012, defisit neraca dagang mencapai US$ 1,33 miliar.

Fundamental ekonomi dalam negeri masih belum mampu menahan keperkasaan dollar AS. Namun, perekonomian Eropa dan China yang diprediksi membaik bisa menjadi bantalan untuk menahan penguatan dollar AS. “Ini bisa dimanfaatkan untuk menjaga rupiah,” kata Raditya, kemarin.

Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa menilai, selain neraca perdagangan yang memburuk, ketidakpastian penyelesaian krisis utang di Eropa turut andil melemahkan rupiah. Itu lantaran investor tetap mempertahankan dollar AS sebagai aset safe haven.

Pelemahan rupiah juga merupakan imbas intervensi Bank Indonesia (BI) yang kurang memadai. Menurut Purbaya, intervensi BI tidak sekuat saat terjadi gejolak kurs pada bulan Agustus-September 2011 silam.

Kondisi ini juga diperburuk oleh likuiditas dollar AS di dalam negeri yang seret lantaran instrumen penempatan dana valas di Indonesia masih terbatas.

Meski begitu, Purbaya memperkirakan, otot rupiah masih bisa berpotensi menguat tahun ini. “Dana asing masih akan tumbuh signifikan di bursa saham maupun di sektor riil, seperti tecermin dalam foreign direct investment (FDI),” prediksi dia.  Â

Purbaya optimistis, otot rupiah akan kembali berkasa. Apalagi, berdasarkan grafik short term indicator rupiah, ia memperkirakan, rata-rata USD/IDR sepanjang tahun 2013 ini berkisar 9.185.

Zulfirman Basir, analis Monex Investindo Futures memiliki hitungan berbeda. Menurut dia, rupiah berpotensi menembus Rp 10.000Â per dollar AS pada kuartal pertama ini. Pembahasan debt ceiling AS serta bailout Cyprus bisa menambah tenaga bagi dollar AS.

Namun, ada harapan rupiah menguat terbatas pada pekan depan. Sejumlah analis percaya, pidato Gubernur The Fed Ben Bernanke, Selasa nanti (15/1) tentang keputusan quantitative easing (QE) akan membawa sentimen baik bagi pertumbuhan ekonomi Amerika. Â

Jika QE jadi dilaksanakan, pasokan dollar AS di pasar global akan meningkat. Ini berpotensi melemahkan dollar AS terhadap mata uang dunia, termasuk rupiah.

Tambahan tenaga di akhir pekan depan adalah rilis produk domestik bruto terbaru China. “Jika datanya positif, ada optimisme kinerja ekspor Indonesia membaik karena China merupakan mitra dagang utama Indonesia,” ujar Zulfirman.

Raditya memprediksi, rupiah masih cenderung tertekan selama sepekan ke depan di rentang 9.690 – 9.850 per dollar AS. Adapun Zulfirman juga memperkirakan, rupiah masih akan cenderung melemah pada pekan depan, yakni di kisaran 9.700 – 9.950.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s