rupiaaa(9638)aaH … 121212

Rabu, 12 Desember 2012 | 13:32 WIB
Mengkhawatirkan, Rupiah Melorot ke Level 9.638

TEMPO.CO, Jakarta – Pengamat ekonomi dari PT Samuel Sekuritas Indonesia, Lana Soelistianingsih, menilai saat ini kondisi kurs rupiah dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data yang ia himpun dari Januari hingga minggu pertama Desember 2012 (year to date), rupiah sudah melemah hingga 6,7 persen.

“Kemarin sudah di angka Rp 9.638 per dolar Amerika Serikat. Ini sudah rawan,” kata Lana saat dihubungi, Rabu, 12 Desember 2012.

Menurut Lana, selama ini fundamental ekonomi yang dapat menopang penguatan rupiah diperoleh dari valuta asing, seperti tingginya neraca perdagangan, portofolio, dan pinjaman. Hal tersebut tentu didukung oleh penanaman modal asing (PMA) atau kinerja ekspor yang harus produktif. “Masalahnya, neraca perdagangan ekspor sedang turun. Itu tidak bisa diabaikan.”

Jika dilihat dari sisi eksternal, kemungkinan penguatan rupiah sangat sulit karena kondisi ekonomi global kian tidak menentu yang mengakibatkan kinerja ekspor terus turun. Jika melihat kondisi tersebut, Bank Indonesia seharusnya melakukan intervensi. Salah satunya adalah dengan menaikkan suku bunga fasilitas simpanan Bank Indonesia. “Sepertinya BI tidak khawatir sehingga tidak melakukan hal itu,” katanya.

Namun, Lana yakin kinerja ekspor pada November dan Desember 2012 membaik. Menurut dia, di bulan tersebut biasanya permintaan ke Indonesia cukup besar. Apalagi adanya perayaan Hari Natal. “Ada optimisme. Mudah-mudahan memang membaik.”

Terkait dengan defisit transaksi berjalan (current account deficit) pada akhir tahun 2012, ia memperkirakan angka riil akan jauh dari perkiraan bank sentral yang berada 2,3 persen dari Produk Domestik Bruto. “Saya memperkirakan ada di kisaran 2,8 persen,” ujar dia.

Berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur BI, nilai tukar rupiah yang mengalami depresiasi pada triwulan II dan III 2012. Tekanan depresiasi diakibatkan ketidakpastian ekonomi global dan tekanan pada neraca pembayaran Indonesia. Pada triwulan IV 2012 intensitas depresiasi diyakini akan menurun sejalan dengan kebijakan bank sentral untuk melakukan stabilisasi sesuai tingkat fundamentalnya.

Pada November 2012, BI merilis secara point-to-point rupiah menguat sebesar 0,12 persen (mtm) ke level Rp 9.594 per dolar AS atau secara rata-rata melemah 0,25 persen (mtm)Rp 9.617 per dolar AS. Ke depan, bank sentral yakin nilai rupiah akan bergerak stabil didukung oleh kondisi neraca pembayaran yang diperkirakan akan tetap surplus.

ANGGA SUKMA WIJAYA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s