NPL v. LIKUIDITA$ … 211112

Bank kian agresif raup dana nasabah
Oleh Roy Franedya – Rabu, 21 November 2012 | 11:24 WIB
kontan

JAKARTA. Tingginya pertumbuhan kredit mendorong perbankan lebih gencar memupuk dana pihak ketiga (DPK). Berdasarkan survei kuartal IV 2012, biaya dana akan meningkat untuk mengimbangi target penyaluran kredit sebesar 27,1% hingga 27,3%.

Bank Indonesia menggelar survei pada 42 bank umum yang berkantor pusat di Jakarta dengan pangsa kredit sebesar 80%. Pada kuartal IV 2012, rata-rata biaya dana rupiah diprediksikan akan meningkat 0,18% dibandingkan kuartal III 2012 menjadi 5,47%. Adapun rata-rata biaya dana valas (valuta asing) mengalami peningkatan sebesar 0,04% menjadi 1,58%.

Peningkatan cost of fund juga diimbangi dengan biaya penyaluran kredit (cost of loanable fund) rupiah dan valas. Rata-rata biaya dana penyaluran kredit rupiah akan naik 0,15% dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi 8,38%. Sedangkan rata-rata biaya penyaluran kredit valas tumbuh 0,04% menjadi 3,52%.

Kenaikan kedua biaya ini bisa mengerek bunga kredit. Untuk rata-rata kredit modal kerja (KMK) rupiah menjadi 13,15%, kredit investasi (KI) 12,91% dan kredit konsumer (KK) 13,96%. Rata-rata KK valas meningkat menjadi 6,38%. Untuk rata-rata KI dan KMK valas turun masing-masing menjadi 6,22% dan 6,31%.

Wakil Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN), Evi Firmansyah, mengatakan peningkatan biaya dana valas disebabkan terbatasnya pasokan valas di pasar. Suplai valas juga labil akibat krisis keuangan di Eropa belum pulih sampai sekarang.

Di saat benua biru belum pulih, muncul ancaman finansial cliff atau ancaman kebangkrutan ekonomi karena utang terlalu besar di Amerika Serikat, tahun depan. “Kenaikan biaya dana rupiah karena adanya permintaan dana menjelang akhir tahun untuk membiayai kredit ataupun proyek Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD),” ujarnya, Selasa (20/11).

“Saat ini tengah berlangsung perang suku bunga simpanan di bank-bank kecil, meski belum mengkhawatirkan,” Ekonom LPS.

Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini mengatakan pihaknya menargetkan pertumbuhan DPK 14%-16%. Per September 2012, DPK Mandiri tumbuh 14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp 430,9 triliun. “Untuk menyiasati likuiditas kami akan menambah jumlah cabang, ATM, EDC dan berinovasi dengan produk baru,” ujarnya.

Ekonom Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Mohammad Doddy Arifianto punya pandangan berbeda. Menurutnya, saat ini tengah berlangsung perang suku bunga simpanan di bank-bank kecil, meski belum mengkhawatirkan.

Menurut Doddy, berdasarkan penelitian LPS, hingga September 2012 tren suku bunga terus menurun pada posisi 4,1%, termasuk di bank kecil meski masih di level 7,13%. “Kami menghitung menggunakan implied cost of fund (biaya dana terselubung),” kata Doddy.

Dia menilai, biaya dana sudah berada di titik terendah. Kondisi ini akan bertahan beberapa bulan ke depan, kendati distribusi likuiditas hanya berputar di bank-bank besar.

Dia juga melihat saat ini ada tren kenaikan bunga pasar uang antar bank (PUAB) dan instrumen fasilitas BI (FasBI) tetapi belum berpengaruh terhadap biaya dana perbankan. Perkiraan dia, kenaikan biaya dana akan terjadi jika pemerintah menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) sehingga inflasi melonjak. n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s