bbri yang MENAWAN … 011112

Margin bunga turun, laba BRI paling tinggi
Oleh Nina Dwiantika – Kamis, 01 November 2012 | 07:15 WIB
kontan

JAKARTA. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mengalami penurunan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) dari 10,04% pada kuartal III-2011 menjadi 8,43% per kuartal III-2012.

Ada dua faktor penyebabnya. Pertama, bank memangkas bunga kredit sebesar 50 basis poin (bps)-100 bps. Kedua, penyaluran kredit hanya tumbuh 15%.

Meski NIM menyusut, BRI tetap mencatatkan diri sebagai bank pencetak laba tertinggi di Indonesia. BRI meraup laba Rp 13 triliun, melampaui laba Bank Mandiri Rp 11,12 triliun dan laba Bank Central Asia (BCA) yang senilai Rp 8,3 triliun. Setahun terakhir hingga September 2012, laba BRI tumbuh 26%.

Manajemen BRI menilai pencapaian ini menggembirakan, sebab berhasil memenuhi permintaan Bank Indonesia untuk menurunkan NIM tanpa mengurangi kemampuan mencetak untung. “Sesuai dengan keinginan BI, kami menurunkan bunga kredit,” kata Direktur Utama BRI, Sofyan Basir, Rabu (31/10). NIM BRI memang masih tinggi, namun secara tren terus menurun.

Sektor usaha yang bunga kreditnya turun adalah kredit korporasi, kecil dan menengah. Direktur Keuangan dan Internasional BRI, Achmad Baequni, mengatakan, pihaknya akan kembali menurunkan NIM namun tidak terlalu tajam. Sehingga, rasio NIM terjaga pada kisaran 8,4%.

Untuk mengompensasi penurunan bunga, BRI akan menggenjot keuntungan dari komisi atau fee based income. Pada kuartal III-2012, pendapatan nonbunga mencapai Rp 5,3 triliun atau tumbuh 39%.

Pos pendapatan ini tumbuh tinggi berkat besarnya penggunaan transaksi jasa perbankan seperti trade finance, jasa pembayaran dan transaksi di ATM. “Kami sudah mengembangkan jaringan 3 tahun-4 tahun untuk kebutuhan masyarakat,” tandas Baequni.

Dari sisi efisiensi, BRI juga semakin baik. BOPO kini bertengger di level 61,76% alias lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai 67,93%. “Kami akan menjaga BOPO pada kisaran 61% – 63%,” katanya.

Dari sisi kredit hanya tumbuh 15%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kredit pasar sebesar 22% – 24% karena imbas krisis global. Selain itu, BRI tengah membenahi kredit menengah, sehingga segmen ini hanya tumbuh 4,96%. Kontribusinya ke total kredit juga turun menjadi 4,66% dari sebelumnya 5,12%.

Perbaikan kredit menengah ini membuat rasio kredit bermasalah gross turun menjadi 2,33% dari posisi sebelumnya 3,26%. Sedang NPL nett 0,54% dari sebelumnya 0,73%.

Kredit korporasi menjadi motor pertumbuhan dengan kenaikan 52%. Kredit BUMN naik 29% dan kredit mikro naik 15% jadi Rp 101 triliun.

Saham Bank Tetap Menawan

Oleh: Jagad Ananda

INILAH.COM, Jakarta – Saham perbankan, terutama, bank pelat merah, masih terus memperlihatkan ototnya. Kendati PT Bank Tabungan Negara (BBTN) dan PT Bank Mandiri (BMRI) di hari ini mengalami koreksi tipis, namun itu belum merupakan sinyal adanya jenuh beli. Malah, BBRI dan BBNI menunjukkan perilaku sebaliknhya, menguat.

Fakta ini menunjukkan bahwa keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang belum bisa diterapkan secara langsung, tidak berpengaruh pada kinerja sahamn-saham bank persero. Seperti diketahui, akhir bulan lalu, MK memutuskan, piutang bank bukanlah piutang negara. Artinya, penyelesaian kredit bermasalah bisa diputuskan langsung oleh bank yang bersangkutan, alias tak perlu lagi melalui Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN) yang prosesnya berbelit-belit.

Hanya saja, aturan baru itu belum bisa diterapkan sekarang. Sebab, selain belum ada petunjuk pelaksanaannya (Juklak), masih ada beberapa undang-undang yang harus direvisi. “Kami tidak mau ambil risiko masuk bui,” kata seorang bankir pemerintah. Sayang, memang. Padahal, kalau aturan itu diterapkan, bank pemerintah bisa langsung mengolah kredit bermasalah yang jumlahnya kini mencapai Rp92 triliun.

Namun, kendati begitu, saham yang diterbitkan sektor ini tetap menarik. Lihat saja, pergerakan salam lainnya termauk BMRI dan BBTN yakni PT Bank Negara Indonesia (BBNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), yang cenderung terus menanjak.

Kokohnya fundamental perusahaan, ditambah cerahnya perekonomian nasional, membuat bisnis perbankan kian mencorong. “Tanpa harus dapat tambahan untung dari pencairan kredit bermasalah, laba bank pemerintah pasti meningkat,”kata seorang investor asing.

Itu sebabnya, sahamnya mendapatkan rekomendasi beli untuk jangka pendek maupun panjang. BBTN yang pada transaksi Senin (15/12/2012) terkoreksi hingga ke level Rp 1.420, misalnya, diprediksi akan segera menuju Rp1.620. Ini merupakan level harga yang diprediksi akan dipakai untuk melakukan rigts issue 14,29% sahamnya dalam waktu dekat ini.

Sementara untuk BMRI, sejumlah analis memasang target harga di kisaran Rp9.800–9.900, BBRI di Rp 8.400, dan BBNI dengan target 4.900. [mdr]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s