rupiaaa(9800)aaH … eksp0r VITAL : 111012

Akhir Tahun Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp 9.800/Dolar
Tribunnews.com – Kamis, 11 Oktober 2012 08:43 WIB

Laporan Wartawan Tribun Jakarta, Arif Wicaksono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Mata uang rupiah dinilai akan melemah pada akhir tahun ini. Diperkirakan pelemahan ini akan terjadi seiring dengan banyaknya transaksi menggunakan dolar AS.

Ali Setiawan, Head of Global Market HSBC Indonesia, memperkirakan bahwa banyaknya transaksi impor bahan mentah dan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) akan menjadi pemicu bagi kenaikan dollar AS.

“Kami perkirakan rupiah akan mencapai Rp 9.600-9.800 per dolar pada akhir tahun ini,” katanya di Pacific Place, Jakarta (10/10/2012).

Transaksi itu meliputi pembelian BBM dan Impor untuk kebutuhan industri yang akan semakin meningkat. Pembelian BBM akan meningkat karena dana subsidi yang meningkat seoring dengan pembatalan kenaikan BBM dan kebutuhan alokasi BBM yang terus meninggi.

Ia juga mengatakan bahwa impor raw material atau bahan baku akan meningkat kembali sampai dengan akhir tahun meskipun sempat menurun pada Agustus 2012. “Meskipun sempat menurun, kita yakin bahwa akan naik lagi, soalnya akan menaikan industri manufaktur kita pada tahun ini,” ujarnya.

Sedangkan menurunya harga komoditas menjadi penyebab bagi menurunnya ekspor sampai dengan akhir tahun ini. “Komoditas terus menurun, seperti Batubara yang tadinya 100-120 Dollar AS per ton menjadi 70-80 Dollar AS per ton, jadi harus dilihat lagi sampai akhir tahun penurunanya berapa,” katanya.

Namun ia yakin bahwa akan menjaga nilai rupiah dalam batasan yang wajar mengingat hal ini akan memajukan ekspor indonesia. “Ya rupiah turun akan bagus bagi ekspor kita, maka akan menaikan neraca perdagangan kita,” ujarnya.

Bank Papan Atas di Indonesia Kelebihan Likuiditas Valas
Tribunnews.com – Rabu, 4 Juli 2012 08:27 WIB

TRIBUNNEWS.COM JAKARTA. Bank-bank papan atas di Indonesia mengalami kelebihan (ekses) likuiditas valuta asing (valas). Buktinya, empat kali lelang term deposit (TD) valas di Bank Indonesia (BI) tetap terjadi kelebihan permintaan (oversubscribed) lebih dari sekali. Lelang TD Valas berlangsung setiap Rabu.

Setiap lelang, rata-rata ada penawaran sekitar US$ 1,26 miliar. Artinya, hampir semua ekses likuiditas valas di perbankan luar negeri sudah beralih ke dalam negeri. BI mencatat rata-rata penempatan valas perbankan di luar negeri sekitar US$ 2 miliar. Saat ini, likuiditas valas perbankan yang parkir di BI mencapai US$ 1,45 miliar.

Di lelang 27 Juni 2012, BI menyerap likuiditas valas US$ 750 miliar, lebih tinggi 25% dari target indikatif. Komposisinya, TD 7 hari sebesar US$ 260 juta, 14 hari US$ 300 juta, dan sebulan US$ 155 juta.

Zulkifli Zaini, Direktur Utama Bank Mandiri, menjelaskan pihaknya memasukkan penawaran lebih dari US$ 400 juta pada lelang pertama. Saat ini kelebihan likuiditas valas Mandiri di atas US$ 1miliar.

Selain itu, parkir di TD valas juga tanpa risiko. Sementara bila ditempatkan di bank luar negeri rawan risiko krisis Eropa. “Penyebaran valas juga bagian dari asset liability management,” tambahnya.

BNI juga memiliki dollar berlebih dan siap ambil bagian di lelang TD valas. “Apalagi bunganya menarik,” kata Adi Setianto, Direktur Treasury and Finansial Institution Bank BNI. Rata-rata yield penempatan di nostro (rekening bank domestik di bank luar negeri) 0,01% sementara TD valas bisa 0,1%.

Menurut Adi, kebijakan TD valas sangat tepat, sebab bisa mengalihkan dana valas dari luar negeri. Selama ini bank menyimpan valas di luar negeri karena di dalam negeri tidak ada tempat penyimpanan. “Kami menjaga likuiditas valas dalam bentuk secondary reserve di atas US$ 500 juta,” tambahnya.

Ryan Kiryanto, Kepala Ekonom BNI berkata, instrumen TD valas untuk menyerap tingginya likuiditas dollar akibat kebijakan devisa hasil ekspor (DHE). Bank besar pasti akan kebanjiran valas karena DHE mewajibkan eksportir membawa pulang hasil perdagangan.(KONTAN/ Roy Franedya )
BI Rate Diperkirakan Tetap di 5,75 Persen
Penulis : Robertus Benny Dwi Koestanto | Kamis, 11 Oktober 2012 | 07:57 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia kemungkinan masih akan menetapkan suku bunga acuan atau BI rate tetap di 5,75 persen, Kamis (11/10/2012). Pasar pun diperkirakan akan merespon netral hal itu.

Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Lana Soelistianingsih, di Jakarta, menyatakan tampaknya BI masih akan menjaga pergerakan nilai tukar rupiah agar tidak terlalu berfluktuasi dengan kecenderungan tekanan pelemahan yang lebih besar.

Kendati inflasi kumulatif Januari hingga September masih tercatat sebesar 3,49 persen (4,31 persen year on year/yoy), dan hingga akhir tahun bahkan masih ada ekspektasi deflasi pada Oktober atau November karena panen, membuka peluang turunnya BI rate 25 bps.

Pelemahan rupiah saat ini, menurut Lana, menolong mengurangi tekanan impor, tetapi faktor eksternal yang masih sangat tidak pasti bisa membuat gejolak rupiah melesat di luar perkiraan.

Sedangkan untuk Fasilitas Simpanan BI (FasBI) kemungkinan masih tetap di 4 persen karena likuiditas masih cukup besar di pasar uang antar bank.

Suku bunga Jakarta Interbank Offered Rate (Jibor) dalam tren turun. Kebijakan BI hari ini diperkirakan akan direspon netral investor yang masih lebih fokus pada faktor eksternal.
Editor :
Robert Adhi Ksp

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s