NIM the prince of BBRI … 310712

Terbentur LDR tinggi, bank genjot NIM
Oleh Roy Franedya – Selasa, 31 Juli 2012 | 07:38 WIB

kontan

JAKARTA. Kebijakan loan to deposito ratio (LDR) yang dikaitkan dengan giro wajib minimum (GWM), dan permintaan Bank Indonesia (BI) agar bank menurunkan marjin bunga bersih (NIM), menimbulkan dilema. Bagi bank ber LDR tinggi, ruang penyaluran kredit mereka semakin sempit. Saat sama, bank memiliki target laba. Alhasil, bank lebih memilih menaikkan NIM.

Cara tersebut ditempuh Bank Danamon dan CIMB Niaga. Bila dilihat dari kreditnya, pertumbuhan kredit kedua bank ini masih di bawah rata-rata industri yang mencapai 28% (yoy). Kredit Danamon hanya tumbuh 19% menjadi Rp 110,4 triliun (yoy), dan CIMB Niaga tumbuh 18% menjadi Rp 137,4 triliun.

Rendahnya pertumbuhan kredit lantaran mengetatnya likuiditas yang terindikasi dari LDR. Semester I-2012, LDR Bank Danamon menyentuh 97,11% , lebih rendah dari periode yang sama 2011 sebesar 99,04%. Adapun LDR CIMB Niaga berada di level 98,83% atau naik dari posisi 93,42%.

Selain faktor likuiditas, kredit seret juga dipengaruhi oleh penurunan permintaan, terutama di sektor usaha yang berorientasi ekspor.

Alhasil, untuk mencetak kenaikan laba yang tinggi, kedua bank menaikkan marjin bunga bersih. Bank Danamon mengerek NIM dari 7,77% menjadi 8,39%. Adapun NIM CIMB Niaga naik dari 5,77% menjadi 5,93%. Danamon mencetak laba Rp 1,1 triliun atau meningkat 23%, sedangkan CIMB Niaga meraup laba Rp 1,98 triliun, tumbuh 28%.

Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) lain lagi ceritanya. Bank milik Texas Pasific Grup (TPG) ini tetap mampu mengerek NIM dan pertumbuhan kredit yang tinggi. Bank ini masih punya ruang bertumbuh, baik dari sisi kecukupan likuiditas maupun pangsa pasar.

BTPN menyalurkan kredit Rp 34,4 triliun atau tumbuh 28% dibandingkan tahun lalu. NIM nya meningkat dari 12,76% menjadi 12,85% sehingga laba bersih menanjak 57,4% menjadi Rp 921 miliar.

Direktur Utama CIMB Niaga, Arwin Rasyid, menjelaskan, pada semester I-2012 pihaknya memilih penyaluran kredit yang rendah tetapi kualitasnya terjaga. Agar lebih menguntungkan, manajemen memperbesar kredit-kredit berbunga tinggi.

Di antaranya, kredit mikro tumbuh 150% menjadi Rp 1,73 triliun, personal loan tumbuh 737% menjadi Rp 0,76 triliun dan kartu kredit tumbuh 33% menjadi Rp 3,17 triliun. “Kami tidak ingin agresif menyalurkan kredit tetapi harus memupuk dana mahal,” ujarnya.

Direktur Utama Bank Saudara, Yanto M Purbo, mengatakan, kebanyakan bank pasti menjaga posisi LDR di bawah 100%. Pasalnya, jika bank memiliki LDR tinggi, berarti likuiditas sedang ketat. Dan jika terjadi penarikan dana dalam jumlah besar, bank dengan LDR tinggi akan menghadapi masalah, kendati rasio kecukupan modal (CAR) jauh di atas batas aman bank sentral yakni sebesar 8%.

“Bank pasti deg-degan. Di pasar uang antar bank (PUAB) belum tentu ada bank yang meminjamkan. NIM menjadi salah satu alternatif bank disaat kredit rendah, bank juga punya target laba yang harus dipenuhi,” ujarnya.

Ketua Umum Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional, Sigit Pramono, menegaskan NIM tinggi bukan kejahatan. Itu justru prestasi, sebab bankir mampu menjalankan bisnis. “NIM itu hak, bukan inefisien. Dengan NIM besar, bank bisa menggaji karyawan dan direksi. Lucu kalau NIM kecil diapresiasi, kalau NIM besar malah diprotes,” tuturnya.

Penyaluran kredit genjot laba bank

Oleh Nina Dwiantika, Christine Novita Nababan, Anna Suci Perwitasari, Nurul Kolbi – Selasa, 31 Juli 2012 | 07:50 WIB

kontan

JAKARTA. Rata-rata bank papan atas mengumumkan kenaikan laba bersih fantantis sepanjang semester I-2012. Bank Mandiri mencicipi laba sebesar Rp 7,1 triliun, Bank Central Asia (BCA) senilai Rp 5,29 triliun dan Bank BNI meraup laba sebesar Rp 3,29 triliun. Jika dijumlahkan laba Bank Rakyat Indonesia (BRI) senilai Rp 8,8 triliun, keempat bank terbesar ini meraih total untung hingga Rp 24,5 triliun.

Pencapaian keempat bank ini meninggalkan jauh para pesaing mereka. Kompetitor terdekat, Bank Danamon dan Bank CIMB Niaga, hanya meraup laba di Rp 1,9 triliun – Rp 2 triliun. Sedangkan Bank Internasional Indonesia (BII) dan Bank Permata, yang sama-sama memiliki aset di atas Rp 100 triliun, mencatatkan perolehan laba di bawah Rp 1 triliun (lihat infografis).

Dari sisi kemampuan mendulang untung, Bank Permata dan BII masih kalah dibandingkan Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN). Bank spesialis kredit mikro ini hanya beraset Rp 52 triliun tapi laba bersihnya menembus Rp 920 miliar.

Akumulasi laba 9 bank terbesar di negeri ini mencapai Rp 29,76 triliun. Dibandingkan total laba bank umum hingga akhir Mei 2012 senilai Rp 36,35 triliun, laba bank besar tersebut berkontribusi 81%.

Sekadar informasi, Bank Indonesia (BI) baru merilis data statistik Juni 2012 pada Agustus mendatang. Bank besar lain, Bank Tabungan Negara (BTN), belum mempublikasikan laporan.

Pencapaian kinerja bank lantaran banyak faktor. Bank Mandiri dan BCA misalnya, tertopang pertumbuhan kredit. Kedua bank ini agresif menggenjot kredit demi mengerek rasio loan to deposit ratio (LDR).

Penyaluran kredit BCA melonjak 41,5% menjadi Rp 226 triliun sedangkan kredit Mandiri tumbuh 26,6% menjadi Rp 350 triliun. BNI dan BRI hanya mencatatkan kenaikan kredit 17,4% dan 14%, jauh di bawah rerata pertumbuhan industri per Juni 2012 sebesar 28%.

Penopang kredit BCA tertolong lonjakan kredit konsumer, terutama kredit pemilikan rumah (KPR). Promo bunga KPR rendah selama lima tahun pertama terbukti efektif mengerek permintaan.

Kredit konsumer BCA tumbuh di atas 50% atau menjadi Rp 60 triliun. KPR berkontribusi Rp 36,5 triliun atau sekitar 60% dari total kredit konsumer. Kredit kendaraan dan kartu kredit masing-masing menyumbang Rp 18 triliun dan Rp 5 triliun. “KPR mencatat kenaikan tertinggi, yaitu 73,5% (year on year),” ujar Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, Senin (30/7). Lini usaha konsumer ini berkontribusi 25% – 27% dari total kredit BCA.

Namun, Jahja memprediksi, kinerja kinclong lini konsumer ini tak akan terulang di semester II-2012. Aturan loan to value mulai berdampak, terutama pada kredit kendaraan. Segmen ini bisa menurun 10% -15%. Sedangkan KPR menunjukkan penurunan pengajuan aplikasi hingga 30% selama sebulan terakhir. “Ke depan kredit korporat menjadi tumpuan, ini sejalan dengan siklus bisnis,” katanya.

KPR juga menjadi penyelamat BNI. Gatot Suwondo, Direktur Utama BNI, menjelaskan, produk BNI Griya tumbuh 46,7% menjadi Rp 21,6 triliun. Alhasil kredit konsumer ikut meningkat 30,7%.

Berbeda dengan BNI dan BCA, Bank Mandiri bertumpu pada kredit mikro dan UMKM. Kredit mikro tumbuh 77,2% menjadi Rp 15,1 triliun dan sektor kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) tumbuh 33,6% menjadi Rp 47,6 triliun. Tentu porsi kredit segmen ini terlihat kecil dibandingkan total kredit yang mencapai Rp 350 triliun.

Direktur Keuangan dan Strategi Mandiri, Pahala Nugraha Mansury, mengatakan melihat perkembangan kredit, perseroan mengubah rencana bisnis bank (RBB). Target kredit naik menjadi 22%-24% dari sebelumnya 20%-22%. “Semester satu 2012, penyaluran kredit kami sudah 29%, maka kami merevisi penyaluran kredit,” kata Pahala.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s