NKRI @imf … 100712

Tak Jadi Pinjaman, RI Beli Obligasi IMF
Nilai pembelian surat utang IMF itu sekitar US$1 juta.
Selasa, 10 Juli 2012, 12:36 Syahid Latif, Suryanta Bakti Susila

VIVAnews – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa, mengungkapkan pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Managing Direktur Dana Moneter Internasional atau IMF, Christian Lagarde, sama sekali tidak membahas pinjaman US$1 juta.

Namun demikian, Indonesia menegaskan akan tetap berkontribusi dalam upaya pemulihan ekonomi global dengan cara membeli surat berharga IMF. Rencananya nilai pembelian surat utang itu berada di kisaran US$ 1 juta.

“Tapi tadi tidak dibahas (soal pinjaman),” kata Hatta di Istana Presiden, Jakarta, Selasa, 10 Juli 2012.

Posisi Indonesia sebagai salah satu negara anggota G20 terpanggil turut andil membenahi perekonomian dunia. Terlebih lagi, negara lain juga ikut tergabung dalam aksi global tersebut. “Indonesia berada dalam posisi seperti ini, dan negara ASEAN lain beri kontribusi seperti ini,” katanya.

Pemerintah menjamin, dana pembelian surat berharga IMF tersebut takkan diambil dari APBN. Sumber dana akan diupayakan dari semacam devisa yang dikelola BI.

Dengan kontribusi Indonesia dalam bentuk pembelian surat berharga, pemerintah cukup yakin, cadangan devisa negara tidak berkurang. “Jadi devisa kita tidak berkurang. Ada dua keterangan, Indonesia bisa beli obligasi, atau pinjaman bilateral,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution menambahkan, pembelian surat berharga IMF merupakan kontribusi Indonesia untuk stabilitas perekonomian global. Disamping itu, Indonesia juga bisa memperoleh keuntungan dengan memegang surat berharga itu. “BI yang melakukan, bukan pemerintah,” kata Darmin.

Dia menjelaskan, nilai surat berharga itu nantinya akan tetap berlaku sebagai cadangan devisa Indonesia. Hal itu sekaligus menampik kabar bahwa Indonesia akan memberikan pinjaman kepada IMF.

“Jadi bukannya kita pinjamkan uang, lalu habis. Tidak ada seperti itu dalam surat berharga. Dan ini tetap diakui di dunia internasional sebagai cadangan devisa negara kita,” kata Darmin.

Darmin menegaskan, uang dari Indonesia itu hanya akan digunakan sebagai pelapis. Artinya, IMF baru akan menggunakan dana bila jumlah nilai aktiva bersih (NAB) IMF kurang dari US$100 milliar.

“Sekarang itu masih US$436 miliar. Kalau sampai menyentuh US$100 miliarbaru dipakai. Sehingga sebetulnya, kalau dari segi penggunaannya kecil sekali probabilitasnya kalau dipakai,” katanya. (umi)
Beda Kunjungan IMF Tahun 1998 dan 2012
“Indonesia bagian dari G-20, mampu tidak kita memberikan? Ya mampu.”
Senin, 9 Juli 2012, 18:01 Syahid Latif, Iwan Kurniawan

VIVAnews – Dana Moneter Internasional atau dikenal dengan sebutan IMF mungkin pernah menjadi lembaga paling dibenci masyarakat di tanah air. Namun bagi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, kedatangan pimpinan tertinggi IMF, Christine Lagarde, kali ini harus dilihat dari sisi yang berbeda.

“Tahun 1998, IMF datang ke sini dengan begini (sambil menunjukan telapak tangan menengadah seolah Indonesia hendak meminta). Hari ini, IMF datang juga, tapi Indonesia tempatnya di atas,” kata Hatta Rajasa di Jakarta, Senin, 9 Juli 2012.

Untuk diketahui, sebagian pihak masih menuding ekonomi Indonesia di era 1998 banyak diatur oleh IMF. Bahkan lembaga itulah yang mencetuskan ide agar pemerintah melonggarkan iklim investasi untuk sektor-sektor yang sebelumnya diatur ketat.

Sedikit menilik ke belakang, tepatnya 15 Januari 1998, juga sempat terjadi ‘insiden’ kecil. Sebuah foto dengan pose Managing Director IMF kala itu, Michel Camdessus, yang berdiri dengan menyilangkan tangan di dada di samping mantan Presiden RI Soeharto saat menandatangani perjanjian dengan IMF, dianggap tidak sopan untuk budaya timur.

Hatta menegaskan, saat ini justru IMF yang memerlukan Indonesia untuk membantu mengatasi masalah krisis ekonomi dunia. Bahkan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono telah memerintahkan untuk memberikan pemikiran-pemikiran yang bisa diberikan Indonesia terhadap perekonomian global.

Tak hanya pemikiran, pemerintah Indonesia juga mengaku mampu memberikan pinjaman pada IMF untuk memperkuat modal yang dimilikinya.

Untuk diketahui, IMF membutuhkan dana hingga US$430 miliar. Dari kebutuhan tersebut, lembaga keuangan internasional ini berharap negara-negara G-20 dimana Indonesia menjadi salah satu anggotanya, untuk ikut berperan.

“Indonesia bagian dari G-20, mampu tidak kita memberikan? Ya mampu,” kata Hatta.

Namun, tegas Hatta, Indonesia yang pernah dikenakan sejumlah persyaratan ketat terkait dana pinjaman di era 1998, kini bisa melakukan hal yang sama pada IMF.

“Kalau kita berikan pinjaman, Indonesia bisa meminta agar dananya jangan dihabiskan untuk Eropa doang, bantu juga rakyat-rakyat di Afrika,” kata dia.

Guna memperkuat alasan pemberian pinjaman kepada IMF, pemerintah mengatakan perekonomian global yang tengah mengalami kesulitan harus segera diatasi agar tak berdampak luas. Penurunan konsumsi di Eropa, dikhawatirkan berdampak pada ekonomi China, India, termasuk Indonesia.

Selain itu, Indonesia sebagai anggota G-20 juga dianggap memiliki kemampuan sehingga dianggap patut memberikan perhatian pada kondisi perekonomian dunia.

“Kalau kita membiarkan, nanti kita dibiarkan negara lain juga,” ujar Hatta. (adi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s