utaaa(MELULU)aaNK … 300612

Pemerintah Segera Kantongi Utang US$3,5 M

Oleh: Mosi Retnani Fajarwati
ekonomi – Jumat, 29 Juni 2012 | 19:40 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Pemerintah akan menyepakati komitmen pinjaman siaga senilai US$5,5 miliar pada pertengahan Juli 2012.

Pinjaman ini diberikan negara donor dan lembaga multilateral. “Pertengahan Juli kita akan lakukan penandatanganan komitmen itu,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Rahmat Waluyanto, di Jakarta, Jumat (29/6/2012).

Ia mengungkapkan, Bank Pembangunan Asia (ADB) akan memberikan komitmen sebesar US$500 juta, Bank Dunia senilai US$2 miliar dan pemerintah Australia sebesar US$1 miliar dolar AUS.

Sementara pemerintah Jepang melalui lembaga keuangan Japan Bank for International Cooperation (JBIC), belum memastikan berapa besar komitmen pinjaman yang akan dikucurkan ke Indonesia. “Yang JBIC saya belum dapat konformasi, tapi mudah-mudahan mereka memberikan konfirmasi dalam waktu dekat,” tuturnya.

Pinjaman siaga ini merupakan dana cadangan siaga yang akan digunakan pemerintah untuk menghadapi krisis global. Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyatakan, dana akan digunakan pemerintah bila tidak mampu memenuhi kebutuhan pembiayaan dan defisit anggaran yang diperkirakan mencapai 2,23% dalam APBNP 2012. [hid]

Indonesia Tidak Akan Bebas Utang

Oleh: Mosi Retnani Fajarwati
ekonomi – Jumat, 29 Juni 2012 | 15:02 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Pemerintah tidak menyangkal, Indonesiatidak bisa terbebasdari utang. Hal ini terkait fungsi utang yang tidak dapat dihapus begitu saja.

Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto menyatakan, utang baik dalam bentuk surat Berharga Negara (SBN) maupun pinjaman luar negeri, tidak hanya berfungsi sebagai sumber pembiayaan. Namun memiliki fungsi lain seperti pembiayaan kembali (refinancing) dan acuan penentuan imbal hasil (benchmarking) pada pasar keuangan negara.

Terkait hal tersebut, lanjutnya, maka utang tidak akan sepenuhnya habis. “Tapi ‘kan kita terbitkan utang ini juga untuk refinancing dan benchmarking, obligasi korporasi dan saham juga pakai benchmarking dari yield (imbal hasil) SBN itu. Jadi kita tetap perlu menerbitkan,” ungkapnya di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (29/6/2012).

Mengenai utang dalam bentuk pinjaman, ia menyatakan jumlahnya masih bisa dikurangi. “Dalam enam tahun terakhir, pinjaman ini semakin berkurang,” ujarnya.

Sementara untuk SBN, akan mengalami peningkatan karena diperlukan untuk menutupi defisit anggaran negara.”Jadi selagi APBN masih defisit maka tetap akan ada tambahan utang. Kalau pun sudah surplus baru bisa (dikurangi),” jelasnya.

Demikian pula dengan pinjaman luar negeri. Ia mengakui sulit dihapus walau jumlahnya bisa ditekan. Pasalnya, pinjaman ini bisa berfungsi sebagai tukar-menukar ilmu dalam menjalankan keuangan negara.

“Untuk pinjaman luar negeri, itu tergantung kebijakan pemerintah. Saya memperkirakan tidak akan hilang sama sekali, karena World Bank, ADB, IDB, mereka berikan pinjaman tapi dapat technical assistence untuk tangani isu-isu tertentu. Jadi memang kita sulit bebas dari utang,” paparnya.

Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Utang Kemenkeu per Mei 2012, total utang pemerintah Indonesia mencapai Rp1.944,14 triliun, naik Rp140,65 triliun dari posisi di akhir 2011 yang nilainya Rp1.803,49 triliun.

Jika dihitung dengan denominasi dolar AS, jumlah utang pemerintah pada Mei 2012 mencapai US$203,26 miliar. Jumlah ini naik dari posisi pada akhir 2011 yang mencapai US$198,89 miliar. Utang pemerintah tersebut terdiri dari pinjaman Rp639,88 triliun dan surat berharga Rp1.304,26 triliun.

Sementara rincian pinjaman yang diperoleh pemerintah pusat hingga akhir Mei 2012 adalah bilateral Rp392,37 triliun, multilateral Rp24,55 triliun, komersial Rp221,33 triliun, dan supplier Rp480 miliar, dan pinjaman dalam negeri Rp1,15 triliun. [ast]

Pemerintah Pede Bisa Bayar Utang

Oleh: Mosi Retnani Fajarwati
ekonomi – Jumat, 29 Juni 2012 | 14:44 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Pemerintah percaya diri mampu melunasi kewajibannya. Hal ini karena posisi rasio utang Indonesia terhadap PDB yang lebih rendah dari negara maju.

Direktur Strategi dan Portofolio utang Kementerian Keuangan Scenaider CH Siahaan menyatakan, rasio utang terhadap PDB Indonesia jauh lebih rendah dibanding negara-negara maju, seperti Jepang yang mencapai 200% terhadap PDB dan AS yang mencapai 70%-80% terhadap PDB.

“Indonesia kurang dari 25%, sekarang 24%. Kalau kita lihat dari indikator, ini menunjukkan Indonesia dalam kondisi sangat mampu dalam melunasi kewajibannya,” tuturnya di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (29/6/2012).

Menurutnya, kunci utama agar utang terkontrol adalah dengan perencanaan yang baik. Mulai dari penentuan besar surat utang yang akan diterbitkan, menetapkan nilai tukar, dan jatuh tempo. “Kalau kita mengubah term and condition, berarti mencabut omongan kita. Itu tidak konsisten dalam pengelolaan utang,” ujarnya.

Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Utang Kemenkeu per Mei 2012, total utang pemerintah Indonesia mencapai Rp1.944,14 triliun, naik Rp140,65 triliun dari posisi di akhir 2011 yang nilainya Rp1.803,49 triliun.

Jika dihitung dengan denominasi dolar AS, jumlah utang pemerintah pada Mei 2012 mencapai US$203,26 miliar. Jumlah ini naik dari posisi pada akhir 2011 yang mencapai US$198,89 miliar. Utang pemerintah tersebut terdiri dari pinjaman Rp639,88 triliun dan surat berharga Rp1.304,26 triliun.

Sementara rincian pinjaman yang diperoleh pemerintah pusat hingga akhir Mei 2012 adalah bilateral Rp392,37 triliun, multilateral Rp24,55 triliun, komersial Rp221,33 triliun, dan supplier Rp480 miliar, dan pinjaman dalam negeri Rp1,15 triliun.

Sedangkan total surat utang yang telah diterbitkan oleh pemerintah sampai Mei 2012 mencapai Rp1.304,26 triliun, atau naik dibandingkan posisi pada akhir 2011 yang sebesar Rp 1.859,43 triliun.

Berikut catatan utang pemerintah pusat dan rasionya terhadap PDB sejak 2000:

Tahun 2000: Rp 1.234,28 triliun (89%)

Tahun 2001: Rp 1.273,18 triliun (77%)

Tahun 2002: Rp 1.225,15 triliun (67%)

Tahun 2003: Rp 1.232,5 triliun (61%)

Tahun 2004: Rp 1.299,5 triliun (57%)

Tahun 2005: Rp 1.313,5 triliun (47%)

Tahun 2006: Rp 1.302,16 triliun (39%)

Tahun 2007: Rp 1.389,41 triliun (35%)

Tahun 2008: Rp 1.636,74 triliun (33%)

Tahun 2009: Rp 1.590,66 triliun (28%)

Tahun 2010: Rp 1.676,15 triliun (26%)

Tahun 2011: Rp 1.803,49 triliun (25%)

Mei 2012: Rp 1.944,14 triliun (26,9%)

Kendati optimistis bisa membayar utangnya, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto menyatakan utang Indonesia tidak akan sepenuhnya habis. “Hal ini terkait fungsi utang yang tidak dapat dihapus begitu saja,”katanya.

Misalkan saja utang dalam bentuk surat Berharga Negara (SBN) maupun pinjaman luar negeri, yang tidak hanya berfungsi sebagai sumber pembiayaan. Namun memiliki fungsi seperti pembiayaan kembali (refinancing) dan acuan penentuan imbal hasil (benchmarking) pada pasar keuangan negara.

“‘Kan kita terbitkan utang ini juga untuk refinancing dan benchmarking, obligasi korporasi dan saham juga pakai benchmarking dari yield (imbal hasil) SBN itu. Jadi kita tetap perlu menerbitkan,” ungkapnya.

Menurutnya, jumlah utang dalam bentuk pinjaman masih bisa dikurangi. Dalam enam tahun terakhir, pinjaman terlihat semakin berkurang. Sementara untuk SBN, akan mengalami peningkatan karena diperlukan untuk menutupi defisit anggaran negara.”Jadi selagi APBN masih defisit maka tetap akan ada tambahan utang. Kalau pun sudah surplus baru bisa (dikurangi),” jelasnya.

Demikian pula dengan pinjaman luar negeri, yang sulit dihapus walau jumlahnya bisa ditekan. Pasalnya, pinjaman ini bisa berfungsi sebagai tukar-menukar ilmu dalam menjalankan keuangan negara.

“Untuk pinjaman luar negeri, itu tergantung kebijakan pemerintah. Saya memperkirakan tidak akan hilang sama sekali, karena World Bank, ADB, IDB, mereka berikan pinjaman tapi dapat technical assistence untuk tangani isu-isu tertentu. Jadi memang kita sulit bebas dari utang,” paparnya.[ast]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s