bbri @Q1 2012 … 270412

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) membukukan laba bersih pada Quarter 1 2012 sebesar 4,23 triliun. Hal ini lebih baik bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2011 sebesar 3,26 triliun. Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 176.50 per lembar.

Berikut Laporan keuangan BBRI Quarter 1 2012 :

Last Price 6,700
Share Out. 24.4 B
Market Cap. 163630.6 B

Balance Sheet
Cash 8967.5 B
Total Asset 439339.3 B
S.T. Borrowing 0
L.T. Borrowing 18050.6 B
Total Equity 54545.2 B

Income Statement
Revenue 12031.2 B
Gross Profit 0
Operating Profit 0
Net. Profit 4233.0 B
EBITDA 0
Interest Expense 0

Ratio
EPS 176.5
PER 37.96x
BVPS 2233.4
PBV 3.00x
ROA 0.96%
ROE 7.76%
EV/EBITDA 0
Debt/Equity 0.33
Debt/TotalCap 0.25
Debt/EBITDA 0
EBITDA/IntExps 0

Sumber : IPS RESEARCH
INILAH.COM, Jakarta – Level maksimum penguatan saham BMRI diprediksi mencapai Rp8.000 untuk jangka menengah. Sedangkan BBRI Rp7.700. Di harga berapa Anda layak beli kedua saham itu?

Pada sesi pertama perdagangan Jumat (27/4/2012) Saham PT Bank Mandiri (BMRI) ditutup melemah Rp100 (1,36%) ke angka Rp7.200 dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp200 (2,87%) ke angka Rp6.750 per saham.

Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, dari sisi besaran Dividend Payout Ratio (DPR), sebenarnya 2% dari harga saham sudah cukup untuk mengangkat harga saham-saham besar di sektor perbankan dalam jangka pendek. Tapi, jika dividend yield tinggal 1%, harga sahamnya sudah tidak menarik lagi.

Pasalnya, harga saham bisa naik lebih dari 1% dalam sehari. “Jadi, dividen merupakan pemanis pertimbangan orang untuk memilih saham. Patokannya tetap, apakah dividen di atas 2% atau di bawah,” katanya kepada INILAH.COM.

Tapi, lanjutnya, untuk jangka panjang, pasar lebih melihat capital gain dibandingkan dividend yield. Mereka berekspektasi gain jangka panjang baik valuasi maupun pergerakan harga. “Tapi, selama harga masih naik, dividen bisa menjadi bonus tersendiri bagi pemegang saham,” imbuhnya.

Artinya, lanjut Satrio, pemegang saham, merasa mendapat harga lebih rendah dibandingkan orang-orang yang membeli dengan harga yang sama. “Misalnya, harga saham BMRI sekarang di Rp7.100, plus dividen di Rp150, yang beli sekarang lebih untung dibandingkan yang beli besok,” timpal dia.

Sebaliknya, lanjut dia, jika tren harga saham turun, kalaupun dapat dividen, justru investor bisa terjebak rugi jika tidak sempat jual akibat penurunan harga. “Misalnya, hari ini dapat harga BMRI Rp7.150 plus dividen, jika trennya turun, besok pagi, harganya bisa dibuka di Rp6.950,” tuturnya.

Tapi, jika tren jangka menengah-panjang naik, meski setelah dividen harganya anjlok, orang masih tetap berani beli.

Di atas semua itu, Satrio masih menyukai saham BMRI dan BBRI. Menurutnya, jika dilihat dari posisi terakhirnya, secara teknikal, BMRI punya potensi kenaikan ke testing harga ke Rp8.000. “Akan tetapi, beberapa hari terakhir, resistance Rp7.100-7.150 tidak bisa bertahan. “Artinya, investor harus agak berhati-hati. Jangan-jangan ada berita buruk di depan,” imbuhnya.

Sementara itu, secara teknikal, potensi kenaikan maksimum BBRI untuk jangka menengah adalah ke Rp7.700. Rekor harga BBRI di angka Rp7.250. “Karena itu, Rp7.000-7.250 jadi kisaran resistance BBRI sehingga tampak pergerakannya berhenti dalam beberapa hari terakhir,” imbuhnya.

Karena itu, Satrio merekomendasikan, jika mau masuk saham BMRI, bisa beli di support Rp6.900, karena pergerakannya belakangan juga cukup datar. “Jika Rp6.900 ditembus ke bawah, di angka Rp6.400-6.600 bisa diakumulasi,” timpalnya.

Begitu juga untuk BBRI yang kondisinya. BBRI sudah melewati support pertama Rp6.900. Karena itu, bisa diakumulasi di Rp6.400-6.600.

Sedangkan saham PT Bank Negara Indoensia (BBNI) dikabarkan berencana aksi korporasi program Management Stock Option Plan (MSOP)/pembagian opsi saham untuk managemen. “Secara historis, saham yang sedang MSOP, pergerakan harganya agak berat. Tapi, ini baru rumor. Hanya saja, jika saham-saham perbankan secara umum naik, BBNI juga akan naik,” imbuhnya.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1855376/inilah-level-maksimum-penguatan-bmri-bbri

Sumber : INILAH.COM
INILAH.COM, Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Sofyan Basir memastikan akuisisi terhadap perusahaan sekuritas bisa dituntaskan pada Juni 2012.

“Saat ini kami tengah melakukan uji tuntas (due dilligence) atas dua perusahaan sekuritas. Kami mengharapkan closingnya bisa terlaksana pada Juni 2012,” kata Direktur Utama BRI Sofyan Basir usai paparan kinerja kuartal I 2012 perseroan di Jakarta, Jumat (27/4/2012).

Ia mengungkapkan perusahaan sekuritas yang tengah diuji tuntas itu berasal sekuritas asing dan lokal. “Untuk mengakuisisi sekuritas tersebut BRI menginginkan kepemilikan mayoritas di atas 50%,” tukasnya.

Untuk mengakuisisi sekuritas tersebut, kata Sofyan, BRI sudah menyiapkan dana dari internal sebesar Rp2 triliun. “Kalau untuk beli PT Danareksa Sekuritas dan PT Bahana Securities, bisa dong. Tapi, kalau beli Mandiri Sekuritas kayaknya mahal, soalnya Mandirinya sudah gede,” tuturnya.

Sebelumnya diberitakan BRI berharap rencana akuisisi terhadap salah satu perusahaan sekuritas ini bisa terealisasi semester II-2012. Direktur Utama BRI Sofyan Basir mengaku jika rencana tersebut harus terlebih dahulu dibicarakan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang akan dilaksanakan pada Mei mendatang. “RUPS dulu baru action. Harapan tahun ini, semester dua mudah-mudahan masuk,” katanya beberapa waktu lalu.

Diakuinya, dalam membidik perusahaan sekuritas tersebut, akan dipilih perusahaan yang nilai asetnya masuk dalam kategori 10 besar. “Yang size-nya besar, mungkin 10, 20, ya 10 besar lah,” akunya.

Sebagaimana diketahui, BRI telah mempersiapkan Rp300 miliar untuk mengakuisisi perusahaan sekuritas. Sofyan menuturkan, hal tersebut dilakukan karena perbankan pelat merah tersebut ingin mengembangkan sayap ke bidang industri brokerage (sekuritas).

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1855398/bri-bakal-tuntaskan-akuisisi-sekuritas-juni-2012

Sumber : INILAH.COM
INILAH.COM, Jakarta – Untuk meningkatkan kapasitas bongkar muat dermaga PT Petrokimia Gresik, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berkomitmen untuk memberikan fasilitas kredit sebesar Rp324,1 miliar yang memiliki tenor 5-7 tahun.

“Hari ini, kami akan menandatangani perjanjian fasilitas kredit dengan Petrokimia,” kata Direktur Bisnis Kelembagaan & BUMN BRI Asmawi Syam usai paparan kinerja BRI di kantor pusat BRI, Jakarta, Jumat (27/4/2012).

Menurut Asmawi, fasilitas kredit ini merupakan fasilitas baru yang diterima Petrokimia. BRI sudah berkomitmen menyalurkan pinjaman kepada Petrokimia sebesar Rp1,5 triliun, ditambah dengan anak-anak perusahaan Petrokimia sekitar Rp500 miliar, sehingga, total yang sudah kami janjikan untuk Petrokimia mencapai Rp2 triliun.

Adapun modal kerja ini akan digunakan untuk peningkatan kapasitas bongkar muat dermaga Petrokimia Gresik menjadi 7 juta ton per tahun dan komplek pergudangan untuk menampung hasil produksi pupuk.

Selain itu, BRI sudah menyalurkan kredit untuk proyek infrastruktur, meliputi jalan, pelabuhan, dan listrik. Selain itu, BRI ikut mendukung ketahanan pangan, ketahanan energi seperti PT Pertamina Persero, dan ketahanan nasional seperti Alutsista. “Bagi BRI, bila listrik khususnya di daerah-daerah terpencil tetap menyala, maka ini juga menjaga kepentingan nasabah BRI di daerah tersebut,” tuturnya.

Untuk tahun ini, BRI berkomitmen menyalurkan fasilitas kredit kepada Badan Usaha Milik Negara berkisar Rp10-12 triliun. Jumlah ini yang sudah tertera di pipeline perseroan.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1855400/bri-pinjami-petrokimia-rp3241-miliar

Sumber : INILAH.COM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s