inflaaa(8,5?%)aa$1 … 120412

Apabila pemerintah tetap bersikukuh akan menaikkan harga BBM bersubsidi pada pertengahan tahun ini, para pengamat memperkirakan akan berdampak pada peningkatan inflasi setidaknya hingga tiga bulan kemudian. Seperti pengalaman pada tahun 2005 silam, dampaknya terhadap penurunan laju inflasi setelah tiga bulan berturut-turut. Akan lebih baik kenaikan BBM ini dilakukan saat tekanan inflasi rendah baik dari makanan maupun musiman.

“Jadi pemerintah harus bisa memanage dampak negatif dari kenaikan harga BBM ini,” ungkap Ekonom Senior Asian Development Bank (ADB) Edimon Ginting di Jakarta, baru baru ini.

Menurut ekonom senior Lembaga Pengkajian Ekonomi dan Sosial Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Arianto Patunru, inflasi merupkan sesuatu yang normal dalam pertumbuhan ekonomi. Inflasi merupakan refleksi dari pergerakan ekonomi perlu ada pemanasan meskipun keadaan ekonomi tidak boleh terlalu panas karena akan membahayakan bagi ekonomi.

“Kalau seperti mobil panas itu agar bisa jalan, melihat pengalaman tahun 2005 kenaikan harga BBM dilakukan pada bulan Oktober dan pada bulan Januari inflasi akan kembali ke track yang normal. Hal serupa juga terjadi di tahun 2008 dan tidak lama kembali ke level yang normal,” tutur Arianto Patunru.

Meski begitu, katanya, yang menjadi perhatian dan layak untuk dikhawatirkan adalah terjadi inflasi karena masyarakat membentuk ekspektasi. Terus terang, Arianto mengaku kecewa dengan managemen pemerintah dalam memberikan informasi ke masyarakat dengan ketidakpastian menentukan kebijakan energi.

“Karena ekspektasi tidak dikelola (manage) dengan baik, maka ekspektasi orang itu akan susah untuk diturunkan kalau bisa diturunkan maka goncangannya akan sebentar,” tegasnya.

Sementara, Kepala Ekonom Bank Internasional Indonesia (BII) Juniman mengatakan dengan mempertimbangkan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) pada bulan April ini, tentunya pihak otoritas akan cenderung menahan karena keputusan penundaan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Juniman juga mengaku tidak bisa memperkirakan sampai kapan penundaan ini. Setidaknya sesuai dengan fakta kebijakan yang ada paling cepat kenaikan BBM bersubsidi terjadi pada bulan Juli mendatang. “Itu kan jangka pendeknya dan BI akan melakukan monetary policy tapi tidak semata-mata menaikan BI rate tapi ada ruang menaikan Giro Wajib Minimum (GWM) sampai dengan 2 persen.”

Kendati demikian, juga belum diketahui sampai kapan BI rate bisa bertahan di level 5,75 persen. Kalau kenaikan BBM tidak dilakukan pada bulan Juli, maka diperkirakan akan terjadi pada September mendatang. Kenaikan ini bisa disertai pengendalian subsidi dengan aturan-aturan bagi mobil tertentu.

“Paling yang mungkin dilakukan (kenaikan) di September saat bersamaan dengan panen raya dan abis lebaran jadi secara timing masih bisa dilakukan, dan Oktober BI bisa menyesuaikan dengan kebijakan moneter berupa GWM,” paparnya.

Apabia kebijakan yang dikeluarkan BI tidak mampu mengerem dampak kenaikan BBM terhadap inflasi, maka tambahnya kenaikan BI rate paling cepat di lakukan pada bulan November-Desember sebesar 25 basis poin. “Kalau kenaikannya dibulan Juli maka BI rate sampai dengan akhir tahun akan meningkat 25-50 basis poin, tapi kalau ppercaya diri tidak usah dinaikan saja,” tuturnya.

http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/88255

Sumber : KORAN-JAKARTA.COM
JAKARTA – Pengamat ekonomi Aviliani mengatakan, laju inflasi pada 2012 dapat mencapai angka 8,5% apabila pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada April mendatang.

Dia memperkirakan, inflasi paling buruk bisa berada pada kisaran 8–8,5%. “Kemungkinan terbaik, laju inflasi akan berada di kisaran 6–7%,”ujar Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) dalam diskusi soal BBM di Jakarta kemarin. Chairperson Ec-Think ini mengingatkan, laju inflasi yang meningkat tinggi akibat kenaikan harga BBM bersubsidi harus diperhatikan oleh pemerintah karena kemungkinan paling buruk yang ditimbulkan akan berpengaruh kepada kenaikan harga kebutuhan pangan.

Untuk itu,pemerintah harus kembali mempertimbangkan opsi pembatasan BBM bersubsidi karena risiko politik maupun ekonomi yang diakibatkan lebih kecil dibandingkan menaikkan harga BBM. Apalagi,dampak laju inflasi yangdisebabkanolehpengaturan BBM bersubsidi adalah di bawah 1,5%.

Dia menyarankan, penggunaan BBM bersubsidi dibatasi hanya untuk pengguna sepedamotor,angkutanbarang, maupun kendaraan umum karena sosialisasi maupun implementasinya lebih mudah dilakukan. “Mobil pribadi sudah kriteria tidak layak subsidi, karena definisi orang yang layak mendapat subsidi adalah diberikan kepada orang yang tidak mampu,yaitu yang menggunakan roda dua dan kendaraan umum,”katanya.

Sementara,Menteri BUMN Dahlan Iskan berpendapat,kenaikan harga BBM merupakan keharusan yang dilakukan pemerintah. Kenaikan tersebut seiring naiknya harga minyak mentah internasional dan membengkaknya subsidi BBM oleh pemerintah. “Kenaikan harga BBM itu kan suatu keharusan,”kata Dahlan di Jakarta kemarin.

Kendati rencana kenaikan harga BBM bersubsidi banyak mendapat penolakan dari masyarakat, Dahlan berharap pemerintah tetap konsisten dengan keputusannya. “Pemerintah tidak boleh mundur, harus kuat dan tidak boleh lemah,” imbuh Dahlan. Di sisi lain,The Royal Bank of Scotland (RBS) menilai Indonesia harus bekerja lebih keras untuk dapat tetap bertahan dalam situasi perekonomian global yang masih tidak menentu, khususnya setelah memperoleh peringkat investment grade.

Dia mengatakan, Indonesia sudah pantas mendapatkan investment grade. “Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu bagian dari liga negara-negara besar yang lebih kompetitif,sehingga menuntut para regulator untuk bekerja lebih keras untuk dapat tetap bertahan dalam situasi global yang masih belum stabil,” kataRBS HeadofRatesand FX Strategy Asia Local Markets Chia Woon Khien dalam satu seminar di Jakarta,kemarin.

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/481279

/Sumber : SEPUTAR INDONESIA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s