masa sih, bbri CENAT cenuT … 250312

Bankir Kini Kian Cenat-cenut

Oleh: Jagad Ananda
Ekonomi – Minggu, 25 Maret 2012 | 07:01 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Larisnya Sukuk Ritel merupakan sinyal, betapa perbankan muilai dtinggalkan para pemilik uang. Alasannya jelas, kendati hanya menawarkan yield 6,25%, surat berharga syariah ini jauh lebih menarik ketimbang bunga deposito yang ditawarkan perbakan.

Seperti diketahui, sejak Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menurunkan tingkat suku bunga penjaminan ke level 5,5%, tak banyak lagi deposan yang tergiur menyimpan uangnya di bank.

Apalagi, gara-gara penaikan harga BBM April nanti (kalau jadi), tingkat inflasi tahun ini diperkirakan akan menjulang di atas 7%. Artinya, menyimpan uang di bank sama halnya dengan membiarkan nilai kekayaan tergerus.

Makanya, tidak mengherankan kalau permintaan atas sukuk ritel mencapai Rp19 triliun, kendati pemerintah memutuskan hanya akan menyerap senilai Rp13,6 triliun saja. “Terus terang, akhir-akhir ini, banyak nasabah yang mencairkan depositonya. Mereka tak mau rugi,” kata seorang direktur bank BUMN.

Kalau gejala ini terus berlangsung, tutur sang bankir, akan menyulitkan posisi bank dalam mengelola likuiditas. Itu pula yang menyebabkan sejumlah bank mulai menarik simpanan mereka di Bank Indonesia.

Lihat saja dana perbankan yang selama ini disimpan di Bank Indonesia (BI), sedikit demi sedikit mulai ditarik. Sepanjang Februari lalu saja tercatat ada dana sebesar Rp27 triliun yang ditarik. Berdasarkan data BI, yang dicairkan kebanyakan deposit facility yang berjangka sehari hingga sebulan dan term deposit bertenor 7 hari sampai 6 bulan.

Dana itulah yang kemudian dipakai untuk membiayai kredit plus sebagian lagi ditanamkan di sejumlah Surat Berharga Negara (SBN). Itu terlihat dari pemilikan SBN oleh perbankan, yang sepanjang 2,5 bulan terakhir naik Rp17,6 triliun menjadi 285,11 triliun (20/3).

Jadi, begitulah, para bankir kini benar-benar sedang pening, karena memutar uang di tahun naga ternyata jauh lebih sulit dibanding tahun kelinci. [mdr]
Optimisme Masyarakat pada 2012
Sat, 24 Mar 2012, 18:39 WIB Analisis, Headline
infobank
Persepsi masyarakat terhadap 2012 cenderung membaik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Konsumen yang confident terhadap keadaan ekonomi diyakini akan lebih berani membelanjakan uangnya dan memberi ruang tumbuh bagi banyak bisnis termasuk perbankan. Harry Puspito

Tidak terasa 2011 sudah berlalu dan kita sekarang memasuki 2012. Indonesia berhasil mengakhiri 2011 dengan angka pertumbuhan yang cukup menggembirakan, yaitu sebesar 6%.

Berita lain yang menggembirakan adalah pertumbuhan jumlah kelas menengah yang cukup signifikan, yaitu dari 80,6 juta pada 2003 menjadi 134,2 juta pada 2011. Sudah barang tentu segmen ini menjadikan pasar Indonesia makin menarik bagi investastor asing.

Namun, di lain sisi, situasi ekonomi di Amerika Serikat (AS) yang belum pulih dan Eropa yang cenderung memburuk membuat para pelaku bisnis waswas. Betapa pun dunia telah menjadi satu pada era globalisasi ini. Keadaan yang memburuk di Eropa akhirnya akan berdampak negatif terhadap kinerja ekonomi negeri ini.

Dengan pulihnya perekonomian AS, ekspor Indonesia ke negeri dengan ekonomi dunia terbesar juga akan mengalami dampak negatif. Di tengah kondisi seperti ini, bagaimana kondisi psikologis konsumen Indonesia?

Marketing Research Indonesia (MRI) kembali menyajikan hasil survei tahunannya yang bertajuk “Consumer Confidence Toward 2012” yang bertujuan mendapatkan gambaran bagaimana perasaan masyarakat terhadap situasi sosial ekonomi Indonesia pada 2012.

Berbeda dengan berbagai survei consumer confidence yang umumnya dikaitkan dengan kondisi pada saat survei dilaksanakan, pada survei consumer confidence MRI tersebut, walau dilaksanakan pada akhir 2011, responden di-prime dengan kondisi pada 2012.

Dengan pendekatan ini diharapkan survei akan menghasilkan bacaan terhadap emosi konsumen mengenai tahun depan.

Bagi Indonesia, pengaruh belanja masyarakat sangat penting untuk menunjang angka pertumbuhan ekonomi yang masih sangat didominasi konsumsi dengan kontribusi sekitar 60% nilai produk domestik bruto (gross domestic product atau GDP).

Pemerintah berkepentingan menjaga situasi psikologis ini untuk menjaga angka pertumbuhan ekonomi ke depan. Konsumen yang “confident” terhadap keadaan ekonomi diyakini lebih berani membelanjakan uangnya.

Namun, ketika mereka kecut hati, konsumen cenderung menahan uangnya dan mengurangi belanja mereka. Selain itu, sudah barang tentu banyak perilaku lain yang terpengaruh. Karenanya, informasi ini diharapkan menambah insight bagi dunia bisnis ketika membuat rencana strategis atau rencana tahunan mereka.

Survei ini dilaksanakan di Jakarta dengan mewawancarai 500 responden laki-laki dan wanita berusia 20 tahun ke atas dan dari kelas sosial ekonomi menengah atas (ABC+). Segmen ini dipilih untuk membaca tren yang terjadi, mengingat mereka yang memiliki cukup dana, yang dengan keterbatasannya akan menunjukkan sensitivitas terhadap situasi ekonomi. Survei dilaksanakan pada akhir 2011 dan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara via telepon.

Salah satu pertanyaan yang secara rutin diajukan dalam survei ini adalah seputar masalah utama Indonesia yang seharusnya menjadi prioritas pemerintah untuk di-handle. Masalah krisis ekonomi, walau masih dilihat utama oleh cukup banyak orang (40%), tampaknya sudah bukan yang paling utama lagi dalam pikiran masyarakat seperti tahun sebelumnya (69%). Tampaknya bagi masyarakat, situasi ekonomi di Indonesia akan terus membaik tahun ini, kendati masih dibayangi krisis ekonomi di Eropa dan AS.

Melalui pertanyaan terpisah, kesadaran masyarakat terhadap terjadinya krisis ekonomi global tampak cenderung meningkat dan sekarang lebih dari separuh mengklaim kalau mereka mengetahui hal ini (dari 48% menjadi 54%). Menurut mereka yang tahu, dampak krisis terutama adalah negatif terhadap ekonomi Indonesia (75%).

Selain itu, mereka tahu bahwa krisis ekonomi global ini belum selesai. Namun, kebanyakan masyarakat tidak dapat memperkirakan kapan krisis ekonomi akan selesai (74%).

Masalah lain yang sudah kurang menghantui pikiran masyarakat adalah bencana alam (11%) yang pada tahun sebelumnya menjadi masalah utama kedua paling sering disebut (33%). Kita tahu pada tahun lalu terjadi sejumlah gempa bumi, banjir, dan gunung api meletus, termasuk Gunung Merapi.

Sebaliknya, tahun ini masyarakat tampak khawatir mengenai lebih banyak hal. Namun, di antara berbagai persoalan yang terjadi di bangsa ini, masyarakat paling khawatir dengan masalah kenaikan harga barang dan jasa, termasuk harga bahan bakar minyak (BBM), sembilan bahan pokok (sembako), tarif listrik, dan sebagainya (60%)—yang pada tahun sebelumnya belum mengganggu pikiran banyak orang (9%).

Masalah sosial meningkatnya angka penggangguran (41%) termasuk salah satu dari tiga persoalan bangsa yang paling banyak disebut, selain masalah ekonomi tadi (40%) dan korupsi (40%). Semuanya melejit dibandingkan dengan perhatian masyarakat pada tahun sebelumnya.

Dari ketiga persoalan bangsa ini, yang paling melejit dibandingkan dengan tahun lalu adalah kekawatiran akan meningkatnya korupsi (dari 18%). Tampaknya dengan makin terbongkarnya kasus-kasus korupsi yang demikian parah, seperti kasus suap wisma atlet oleh Nazaruddin yang melibatkan banyak orang besar, kasus suap anggota DPR untuk memenangkan Miranda Goeltom sebagai Deputi Direktur Bank Indonesia (BI), kasus suap pejabat Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi sehubungan dengan program Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah (PPID), dan kasus Bank Century, menyadarkan masyarakat betapa bobroknya mental para pejabat negeri ini dan rakusnya mereka akan uang.

Hal berikut yang mengkhawatirkan bagi masyarakat (ibu kota) adalah masalah kemacetan lalu lintas yang tampak menonjol tahun ini (naik dari 11% menjadi 28%). Kita tahu hampir tidak ada hari di Jakarta tanpa macet dan pada hari-hari tertentu, khususnya kalau ada kejadian tertentu seperti hujan deras atau banjir, kemacetan di jalan membuat orang stres.

Bagaimana dengan keyakinan masyarakat terhadap situasi ekonomi negeri ini pada 2012? Survei MRI menunjukkan persepsi masyarakat terhadap 2012 cenderung membaik (skor 105, dalam hal ini 100 berarti tidak membaik, tidak memburuk) dibandingkan dengan tahun sebelumnya (skor 92).

Kondisi ini didukung oleh evaluasi terhadap kinerja ekonomi Indonesia tahun berjalan (2011) yang membaik (skor 95) dibandingkan dengan tahun sebelumnya (skor 86) sekaligus harapan membaiknya kondisi ekonomi tahun ini (skor 111) ketimbang tahun sebelumnya (skor 96).

Indeks keyakinan masyarakat tersebut walaupun membaik, sebenarnya masih pada level tanda tanya (skor mendekati 100). Dalam satu dasawarsa, pengukuran tingkat keyakinan masyarakat oleh MRI ini menunjukkan keyakinan masyarakat paling tinggi adalah pada 2004 (skor 146) dan 2005 (skor 148), yaitu tahun terpilih dan tahun awal pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang juga presiden pilihan rakyat pertama kali.

Namun, kebijaksanaan SBY menaikkan harga BBM pada 1 Oktober 2005 merontokkan keyakinan masyarakat bahwa keadaan mereka akan lebih baik pada tahun berikutnya (skor 83). Kondisi pesimistis ini tidak pernah terangkat cukup kuat hingga SBY terpilih untuk yang kedua kalinya pada 2009, walaupun hal itu sedikit membangkitkan optimisme masyarakat terhadap 2010.

Tampaknya reformasi belum mampu membangun, paling tidak harapan masyarakat ke depan secara konsisten akan membaik. Saat angka-angka kinerja ekonomi kita membaik, masyarakat masih pesimistis.

Indonesia membutuhkan pemimpin yang kredibel kalau bangsa ini ingin menikmati kesejahteraan, tidak terus waswas, serta memiliki optimisme yang terpelihara—yang diperlukan untuk berjuang dan mengangkat bangsa ini ke level yang lebih tinggi. (*)

Penulis adalah Presiden Direktur Marketing Research Indonesia (MRI).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s