pam0r pa$4r keuangan indo … 190312

Kajian Pasar Keuangan RI pada Kuartal I 2012
Anastasia Joice | Erlangga Djumena | Senin, 19 Maret 2012 | 08:09 WIB

KOMPAS.com – Memasuki tahun 2012 ini kita dibanjiri oleh banyak perkembangan yang mengangkat pamor Indonesia ke tahap baru dalam dunia keuangan.
Pada tanggal 18 Januari 2012, Moody’s meningkatkan sovereign rating Indonesia dari Ba1 menjadi Baa3 dengan prospek stabil. Dengan demikian, tiga lembaga pemeringkat kredit telah menempatkan Indonesia pada kelompok layak investasi, yaitu Moody’s Investor Service, Fitch ratings serta Japan Credit Rating. Padahal, Moody’s pulalah yang pernah menyebabkan Indonesia kehilangan status layak investasi pada Desember 1997.

Euforia akibat peningkatan rating ini telah menyebabkan turunnya imbas-hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor acuan 10 tahun dari 6,20 persen menjadi 5,10 persen hanya dalam waktu kurang dari dua bulan. Hal tersebut sejalan dengan antisipasi pasar akan adanya kenaikan peringkat dari S&P, lembaga pemeringkat terakhir yang belum menaikkan peringkat Indonesia.

Dalam dua bulan pertama pula angka inflasi tahunan mencetak tren penurunan berturut-turut dari 4,15 persen, 3,79 persen, 3,65 persen dan terakhir ini menjadi 3,56 persen (tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu pada 1 Maret kemarin.

Setelah pengumuman angka inflasi untuk bulan Januari yang sebesar 3,65 persen, Bank Indonesia kembali mengejutkan pasar dengan penurunan BI rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur 9 Februari. Langkah terakhir BI ini menggenapi total penurunan suku bunga acuan BI menjadi 100 bps dalam kurun waktu kurang dari enam bulan. Masih segar di ingatan kita, ketika BI menurunkan suku bunga acuannya sebanyak 50 bps di bulan November lalu, saat ekspektasi pasar memperkirakan penurunan suku bunga acuan hanya sebesar 25 bps.

Langkah penurunan suku bunga acuan ini mencerminkan meningkatnya optimisme pemerintah akibat beberapa kali peningkatan peringkat sovereign rating Indonesia, penurunan tren inflasi, ditambah dengan antisipasi melemahnya pertumbuhan ekonomi global akibat krisis yang dipicu dari Eurozone- guna memastikan Indonesia tetap akan mengukirkan pertumbuhan GDP 2012 sesuai target yaitu antara 6,3 dan 6,7 persen. Langkah ini pun diharapkan secara perlahan akan mendorong masuknya arus dana penanaman modal asing menggantikan aliran hot money yang selama ini hanya menyebabkan volatilitas nilai tukar rupiah dan naik-turunnya komposisi pendanaan bank-bank domestik.

Sementara itu di belahan dunia yang lain, pada tanggal 13 Februari, Moody’s kembali menurunkan peringkat beberapa negara Eropa seperti Italia, Portugal dan Spanyol. Penurunan ini disertai perubahan outlook menjadi negative untuk peringkat AAA dari Austria, Perancis dan Inggris. Apakah hal ini kemudian mendorong perpindahan arus dana ke Indonesia?

Mari kita tengok sekilas kinerja beberapa sektor pasar keuangan selama 2 bulan pertama di tahun 2012. Mereka yang memiliki portfolio SBN sejak awal tahun, telah membukukan imbal hasil 10-12 persen – contohnya dapat dilihat di penurunan yield SBN acuan 10 tahun dari 6,2 persen menjadi 5,1 persen, porsi asing di kepemilikan SBN sejak awal Januari pun menunjukkan kenaikan sebesar Rp 7,48 triliun menjadi Rp 230,34 triliun pada 27 Februari yang lalu. IHSG bergerak di kisaran 3850-4040 dan saat tulisan ini diturunkan masih mencoba bergerak menembus level psikologis 4.000.

Setidaknya semua event yang terjadi di kuartal pertama 2012 membuat banyak investor berpikir untuk mengkaji ulang portofolio aset mereka. Mayoritas menganggap bahwa suku bunga acuan sekarang ini sudah di level bottom menunggu perkembangan ekonomi lebih lanjut.

Ketidak-berhasilan IHSG untuk menembus level 4.000 banyak dimungkinkan oleh aksi ambil untung para investor asing, ini ditunjukkan dengan besaran YTD net outflow yang negatif. Aksi serupa juga terjadi di pasar SBN di mana imbal hasil dalam tahun ini sebesar 8-12 persen sudah sangat masuk akal untuk dilakukannya ambil untung apalagi ketika kurs rupiah menguat di bawah levelRp 9.100 seperti sekarang ini.

Memasuki kuartal ke-2, perlu kita cermati dampak lanjutan akibat penyesuaian harga bahan bakar minyak subsidi sebesar Rp 1.500- Rp 2.000 maupun rencana kenaikan tarif dasar listrik 1 April mendatang. Mengutip komentar Gubernur BI Darmin Nasution usai membuka Seminar Indonesia Economic Policy in a Challenging Global Economy, jika kenaikan harga bahan bakar minyak di atas Rp 1.000 maka dampaknya ke inflasi dapat mencapai di atas 5,5 persen.

Ancaman lain terhadap inflasi Q1 ini adalah musuh lama yaitu harga bahan pangan, seperti tercermin pada besaran nilai inflasi inti yang terus bergerak naik, sekarang di level 4,31 persen – saat inflasi utama berada di posisi 3,61 persen.

Dengan demikian, sangat wajar jika dalam waktu 1-2 bulan ke depan, terjadi koreksi di pasar, terutama aksi ambil untung di sektor perdagangan obligasi negara, terpadu dengan gelombang lindung nilai (hedging) portofolio melalui instrumen nilai tukar. Koreksi akan membawa harga-harga aset Indonesia ke level yang menarik untuk re-entry level demi kesinambungan sentimen pasar yang bullish.

Sejalan dengan itu Bank Indonesia terus menerus memastikan peningkatan kematangan pelaku pasar dan menekan gejolak kurs nilai tukar yang berlebihan. Belum lagi ‘senjata simpanan’ yaitu bond stabilization framework yang meningkatkan tingkat kepercayaan investor asing akan kedalaman pasar SBN dan komitmen Indonesia terhadap regim kurs devisa bebas.

Dalam jangka panjang, penyesuaian harga BBM subsidi tentu akan berdampak sangat positif terhadap pengurangan defisit anggaran, sejalan dengan naiknya harga minyak mentah dunia menembus level 100 dollar AS per barrel. Timing kenaikan harga BBM subsidi di awal kuartal ke-2 juga dinilai tepat yaitu saat daya beli masyarakat meningkat dengan sehat (kenaikan retail sales data menjadi sekitar 20 persen), dan kenaikan indeks kepercayaan konsumen menjadi 119.2 di bulan Januari dari 116.6 (Desember 2011). Rendahnya suku bunga acuan BI dan tersedianya pasokan likuiditas di pasar menjamin daya tahan pasar akan curahan efek negatif dari menurunnya laju perekonomian dunia sebagai akibat dari krisis di Eropa.

Pada akhirnya, pasar juga perlu bergerak ke arah penyesuaian ekuilibrium, demi terciptanya ekuilibrium baru yang lebih sesuai dengan perubahan parameter-parameternya. (Lucky Syafril, Executive Vice President, Head of Treasury Commonwealth Bank)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s