bbri DONk … 150312

Pilih Saham BMRI atau BBRI?

Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Rabu, 14 Maret 2012 | 13:15 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Kinerja keuangan BMRI dan BBRI sama-sama kinclong sepanjang 2011. Tapi, dari sisi valuasi saat ini, BBRI lebih murah. Berapa target harga belinya?

Pada sesi pertama perdagangan Rabu (14/3/2012), saham PT Bank Mandiri (BMRI) ditransaksikan menguat Rp100 (1,48%) ke level Rp6.850 dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) ditransaksikan menguat Rp100 (1,48%) ke angka Rp6.850.

Pengamat pasar modal Willy Sanjaya mengatakan, saham BMRI dan BBRI sama bagusnya. Sebab, kedua bank ini merupakan bank terbesar di Indonesia. Apalagi, laporan keuangannya dari sisi laba bersih mengalami kenaikan yang signifikan. “Karena itu, secara fundamental, kedua saham ini sangat menjanjikan,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada 2011, BMRI mencatatkan laba bersih Rp12,246 triliun dan BBRI Rp15,087 triliun. Dari sisi valuasi saat ini, Price Earnings Ratio (PER) BBRI lebih rendah (murah) di level 10,72 kali dibandingkan BMRI di level 12,22 kali.

Sedangkan, dari sisi harga saham, kedua saham ini saling kejar sehingga sulit menentukan mana yang lebih keren. “Sebelumnya, harga saham BBRI unggul terlebih dahulu mencapai Rp7.000 per saham dan BBRI turun. Sekarang, BMRI naik sehingga lebih unggul dari harga saham BBRI. Jadi, pada intinya, kedua emiten ini merupakan saham perbankan bagus,” ujarnya.

Karena itu, untuk harga 2012, Willy menargetkan BMRI di level Rp7.800 dan target harga BBRI di level Rp8.000. Dari sisi persentase, kedua saham memberikan persentase yang hampir sama.

Sementara itu, target terdekat (hingga akhir Maret 2012) untuk BBRI di level Rp7.200 dengan memfaktorkan dividend yield yang akan dibagikan pada April 2012. “BMRI dengan target terdekat Rp7.150 hingga akhir Maret 2012,” ujarnya.

Pemerintah, lanjut Willy, sudah meminta BMRI membagikan dividen di atas 20%. Sebelumnya, BMRI memberi dividen di atas 20% dari laba bersih. “Saya sendiri punya hitungan, seharusnya BMRI dan BBRI memberikan dividen pada kisaran 40% masing-masing yang diberikan ke pemegang saham termasuk pemerintah,” timpalnya.

Artinya, laba bersih yang ditahan sebesar 60% untuk melakukan ekspansi usaha. “Saya rekomendasikan akumulasi beli dengan pola strong buy di level Rp6.500-7.300 untuk BBRI karena ke depannya masih sangat menjanjikan. Begitu juga BMRI, strong buy di level Rp6.450-7.250,” paparnya.

Untuk membeli di atas harga itu, lanjutnya, investor harus melihat perkembangan pasar ke depannya. Terutama, pengaruh dari penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). “Saat ini, meski pemerintah mengusulkan kenaikan Rp1.500 per liter, soal ini masih dibahas DPR. Karena itu, investor harus melihat keputusan akhir nantinya,” ungkapnya.

Willy memperkirakan, kenaikan harga BBM akan berpengaruh negatif pada saham-saham perbankan dalam 3 bulan pertama. Jika inflasi naik signifikan, bakal berpengaruh negatif bagi saham-saham perbakan tak terkecuali BMRI dan BBRI.

Dia memprediksi, BI Rate akan kembali naik ke level 6-6,25%. Tapi, jika inflasi terlalu kencang akibat kenaikan harga BBM, BI rate bisa saja naik ke level 6,75%. “Jika BI rate naik akan menguntungkan sektor perbankan dari sisi real interest rate yang positif (suku bunga dikurangi inflasi),” ujarnya.

Sejauh ini pun, kata dia, peluang turun ke bawah 5,75% sudah tertutup seiring rencana kenaikan harga BBM dan Tarif Dasar Listrik (TDL). “Memang, penurunan suku bunga, akan bagus untuk ekspansi kredit. Tapi, dari sisi real interest rate tak lagi menarik karena suku bunga in line dengan inflasi atau justru berada di bawah inflasi,” paparnya.

Dia menjelaskan, jika suku bunga terus diturunkan, orang akan keluar dari perbankan Indonesia sebagai tempat penyimpanan uang sehingga jadi guncangan bagi sektor perbankan. “Orang tak lagi menyimpan dananya di Indonesia dalam jumlah besar. Meskipun, dengan bunga rendah, ekspansi kredit di sektor multifinance diuntungkan,” ucap dia.

Karena itu, suku bunga di level 6,25% sudah terbukti paling aman dan paling ideal untuk sektor perbankan. Artinya, orang bersedia menyimpan dananya di perbankan dan ekspansi kredit juga tetap tumbuh. “Sebaliknya, jika suku bunga terlalu tinggi, memang perbankan kebanjiran uang, tapi dari sisi ekspansi kredit terhambat karena bunga yang lebih tinggi,” imbuhnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s