utaaa(Rp1.937 T)aanK … 130312

SELASA, 13 MARET 2012 | 14:57 WIB
Utang Pemerintah Tembus Rp 1.937 triliun

TEMPO.CO, Jakarta -Jumlah utang Indonesia (kumulatif) hingga 2012 ini diperkirakan mencapai Rp 1.937 triliun. Artinya, setiap warga negara Indonesia akan memikul beban sekitar Rp 8 juta. Peningkatan akumulasi utang itu merupakan akibat melesetnya penerimaan pajak dan turunnya target penerimaan pajak.

Pengamat Kebijakan Perkumpulan Prakarsa Setyo Budiantoro di Jakarta, 13 Maret 2012, mengatakan sekitar Rp 615 triliun merupakan utang luar negeri (kumulatif) pemerintah. Sedangkan Rp 1.322 triliun adalah utang (kumulatif) dalam negeri. “Jumlah utang terus meningkat setiap tahun,” kata dia.

Persoalannya, menurut Setyo, peningkatan jumlah utang itu tidak diimbangi dengan kenaikan penerimaan pajak. “Tak hanya rendah, penerimaan pajak juga tak adil karena lebih dibebankan kepada para pegawai,” ucap Research Associate Perkumpulan Prakarsa J. Prastowo.

Berdasarkan data realisasi APBN 2010, penerimaan pajak penghasilan karyawan (PPh pasal 21) mencapai Rp 55,3 triliun. Di sisi lain, penerimaan pajak penghasilan pribadi non pegawai atau pengusaha (PPh 25/29) hanya Rp 3,6 triliun.

Lembaga Penjamin Simpanan mencatat ada 1,3 persen nasabah yang memiliki jumlah dana pihak ketiga di perbankan sebesar Rp 2.000 triliun dari keseluruhan DPK yang mencapai Rp 2.400 triliun. “Ini menandakan adanya potensi kehilangan pajak dari nasabah-nasabah tersebut,” ujar Setyo.

Rendahnya penerimaan pajak juga tercermin dari rasio pajak. Tahun ini, pemerintah memproyeksikan penerimaan pajak sebesar Rp 1.033 triliun. Nilai ini hampir setara dengan empat per lima penerimaan negara. Sedangkan rasio pajak Indonesia hanya 12 persen.

Rasio pajak Indonesia terhadap Pendapatan Domestik Bruto masih tergolong rendah jika dibandingkan rasio pajak negara miskin menurut IMF yang kini mencapai 14,3 persen. “Padahal, Indonesia termasuk dalam negara berpendapatan menengah,” tambah Setyo. Negara-negara yang sekelompok Indonesia, mestinya rasio pajak mencapai 19 persen.

Setyo mengkritisi status investment grade yang diberikan lembaga pemeringkat internasional kepada Indonesia, yang menimbulkan paradoks. “Di satu sisi Indonesia mendapat pujian dari dunia internasional, namun penerimaan kita tak imbang dengan jumlah utang.” Status investment grade dikhawatirkan tak berdampak pada sektor riil. “Mungkin hanya menjadi embel-embel pada level makro, namun tak menyentuh sektor riil.”

SUBKHAN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s