inflaaa(3.56%)aa$1 … 010312

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pada Februari 2012 terjadi inflasi sebesar 0,05%. Inflasi di Februari ini merupakan yang terendah sejak 2007.

“Memang perubahan harga belum cukup tinggi. Ini dari 2007 inflasi yang terendah,” ujar Kepala BPS, Suryamin dalam konferensi pers di kantornya, Jalan DR Sutomo, Jakarta, Kamis (1/3/2012).

Besaran inflasi year on year di Februari 2012 lalu mencapai 3,56%. Sementara inflasi di Januari-Februari 2012 mencapai 0,81%.

Dari 66 kota di Indonesia, sebanyak 40 kota mengalami inflasi, dan 26 kota mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi adalah di Mataram 1,73%, dan Pontianak 1,7%. Sementara inflasi terendah adalah di Tangerang 0,03%. Kalau untuk deflasi tertinggi 1,29%.

“Pendorong inflasi naik karena harga emas dan perhiasan akibat gejolak perekonomian dunia. Jadi harga emas meningkat,” jelasnya.

Lalu pendorong inflasi utama lainnya adalah harga beras, karena pasokan beras belum banyak dari sentra produksi. Kemudian bawang merah juga mendorong inflasi karena pasokan berkurang akibat hujan. Harga emas menyumbang inflasi 0,7%, beras 0,5%, dan bawang merah menyumbang 0,2%.

Sementara yang menyumbang deflasi adalah cabai merah yang pasokannya cukup banyak. Kemudian tomat sayur juga harganya turun, dan juga daging ayam yang harganya turun 25% karena banyaknya pasokan.

Sumber: detikcom

JAKARTA – Badan Pusat Statisktik (BPS) mencatatkan pencapaian ekspor pada Januari 2012 mengalami penurunan sebesar 9,28 persen dari Desember 2011 dan berada di kisaran USD15,49 miliar.

“Namun jika dilihat secara year on year (yoy) ekspornya naik sebesar 6,07 persen,” ungkap Kepala BPS Suryamin di acara pengumuman angka inflasi di Kantor Pusat BPS, Jalan Pasar Baru, Jakarta, Kamis (1/3/2012).

Menurutnya, ekspor nonmigas pada Januari 2012 mengalami kenaikan secara yoy sebesar 4,4 persen menjadi USD12,52 miliar. Share terbesar ekspor tersebut berasal dari bahan bakar mineral sebesar USD2,17 miliar dan lemak dan minyak nabati sebesar USD2,14 miliar.

Adapun negara tujuan ekspor tertinggi berada dalam tiga negara yaitu Jepang sebesar USD1,61 miliar, China mencapai USD1,36 miliar, dan Amerika Serikat (AS) mencapai USD1,2 miliar.

Di sisi lain, impor pada Januari 2012 mengalami penurunan sebesar 11,57 persen dibandingkan dengan Desember 2011 mencapai USD14,57 miliar. Untuk impor nonmigas di Januari 2012 mencapai USD11,58 miliar yang naik 20,80 persen yoy.

Sementara impor terbesar berasal dari mesin dan peralatan mekanik sebesar USD2,32 miliar lalu mesin dan peralatan listrik menyumbang sekira USD1,57 miliar.

Negara terbesar tujuan impor yang pertama datang dari China sebesar USD2,53 miliar, kemudian Jepang sebesar USD1,174 miliar dan Singapura USD0,85 miliar.

http://economy.okezone.com/read/2012/03/01/320/585168/ekspor-indonesia-kembali-tergerus

Sumber : OKEZONE.COM
BI: Ekonomi Global Turun, Domestik Tetap Kuat
Ester Meryana | Erlangga Djumena | Kamis, 9 Februari 2012 | 14:28 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Dewan Gubernur Bank Indonesia melihat bahwa prospek ekonomi global terus menurun seiring krisis Eropa yang masih berlanjut dan perlambatan ekonomi negara-negara berkembang. Sekalipun demikian, menurut BI, ekonomi domestik Indonesia tetap kuat. “Pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2012 diprakirakan menjadi 3,3 persen, lebih rendah dari prakiraan sebelumnya sebesar 3,7 persen. Penyelesaian krisis yang dialami negara-negara Eropa terkait utang dan defisit fiskal masih akan memakan waktu dan mengandung ketidakpastian, sementara pemulihan ekonomi AS masih lemah,” sebut Kepala Biro Hubungan Masyarakat Bank Indonesia, Difi A Johansyah, dalam siaran pers, Kamis (9/2/2012).

Turunnya kondisi ekonomi global bisa berdampak pada perdagangan global yang menurun dan berpengaruh pada penurunan kinerja ekonomi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Karena sejalan dengan aktivitas ekonomi global yang melemah, harga komoditas global non-energi cenderung menurun, dan disertai dengan penurunan tekanan inflasi global. “Di sisi domestik, Dewan Gubernur menilai perekonomian Indonesia masih memiliki daya tahan yang kuat, meskipun dengan kecenderungan pertumbuhan yang lebih rendah seiring dengan menurunnya prospek perekonomian global,” tambah Difi.

Untuk triwulan I-2012, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi domestik sebesar 6,5 persen. Sementara untuk keseluruhan tahun 2012 akan cenderung pada batas bawah prakiraan 6,3-6,7 persen.

Sumber pertumbuhan ekonomi domestik terutama dari permintaan domestik, didukung oleh konsumsi rumah tangga dan investasi yang tetap kuat. Konsumsi rumah tangga yang kuat ditopang oleh perbaikan daya beli dan keyakinan konsumen yang membaik seiring dengan terkendalinya inflasi. Sedangkan, peningkatan investasi didukung oleh iklim investasi yang kondusif dan persepsi terhadap prospek ekonomi Indonesia yang positif.

Akan tetapi, pertumbuhan ekspor diperkirakan akan melambat seiring dengan perlambatan ekonomi global. “Dari sisi produksi, sektor-sektor yang diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi adalah sektor industri, sektor transportasi dan komunikasi, serta sektor perdagangan, hotel dan restoran,” tutup Difi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s