utaaa(1816 T)aanK … 220212

JAKARTA – Manajemen utang Indonesia dinilai makin mengkhawatirkan. Pasalnya, pemerintah semakin sulit melepaskan diri dari jebakan utang. Meski beban utang makin besar, penambahan stok utang baru tidak bisa dihindari tiap tahunnya.

Data keseimbangan primer mengindikasikan posisi utang yang mengkhawatirkan karena penerimaan pajak dan bukan pajak dikurangi belanja serta kewajiban membayar utang telah menurun 7.000 persen, dari 791 triliun rupiah pada 2005 menjadi 0,73 triliun rupiah pada 2011.

Sementara itu, pembayaran bunga utang dalam lima tahun terakhir naik 200 persen, dari 65,2 triliun rupiah menjadi 116,4 triliun rupiah. Tahun ini, total pembayaran cicilan bunga utang yang akan dibayar pemerintah mencapai 122,218 triliun, naik dari 2011 yang sebesar 106,584 triliun rupiah.

Utang jatuh tempo pada 2012 mencapai 139 triliun rupiah, terdiri atas 35 persen pinjaman dan 65 persen surat utang. “Data keseimbangan primer menunjukkan sudah dalam tahap mengkhawatirkan,” kata anggota Komisi XI DPR Sadar Subagyo di Jakarta, Rabu (22/2).

Padahal, ia mengingatkan sejak Januari hingga November 2011, pemerintah membayar cicilan pokok dan bunga utang sebesar 209,872 triliun rupiah. Menurut Sadar, angka itu merupakan jumlah sangat besar yang timbul dari utang negara yang kini mencapai lebih dari 1.900 triliun rupiah.

“Jumlah ini sangat fantastis dan diperkirakan dapat digunakan untuk membangun infrastruktur jalan dan jembatan secara nasional. Atau dapat digunakan untuk biaya pembangunan negara ini selama satu tahun dengan target pertumbuhan lebih kurang 7 persen,” tegas dia.

Sadar mengungkapkan kian besarnya beban utang dan semakin kewalahannya pemerintah mengelolanya antara lain terbaca dari rencana pemerintah memperlebar target defi sit dari semula 1,5 persen, dibarengi dengan penurunan target pertumbuhan ekonomi dari sebelumnya 6,7 persen.

Pelebaran defisit menunjukkan penurunan kemampuan pemerintah membiayai APBN dari penerimaan internal di luar penarikan utang baru, sedangkan penurunan target pertumbuhan ekonomi menandakan penambahan defisit itu tidak dimanfaatkan untuk sektor produktif yang bisa menstimulasi pembangunan ekonomi.

“Ya, pelebaran defisit anggaran akan menambah utang baru untuk menutupnya dan pada akhirnya mengorbankan pos lain yang sangat dibutuhkan rakyat. Lebih dari itu, anggaran banyak terserap untuk membayar utang karena pengelola anggaran memprioritaskan pembayaran kewajiban utang kepada kreditor.”

Bukan Cuma-cuma
Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati menambahkan defisit merupakan kebijakan fiskal yang ekspansif guna menstimulasi pertumbuhan ekonomi. Kendati demikian, defisit anggaran ini bukan barang yang cuma-cuma karena secara otomatis berarti menggadaikan masa depan dengan berutang dan menimbulkan biaya.

“Seharusnya itu bisa mendorong guna meningkatkan investasi dan kinerja sektor lainnya, tetapi di kita defisit ini dihabiskan hanya untuk subsidi yang sifatnya konsumtif. Ini berbahaya. Jadi jangan terlena suku bunga utang rendah,” jelas dia.

Ia mengatakan berdasarkan asumsi pemerintah, rasio utang masih terbilang aman bila berada di bawah 30 persen. Hal tersebut bukan satu-satunya ukuran, tetapi harus dilihat juga berapa porsi beban pembayaran bunga terhadap total anggaran negara.

“Porsi beban bunga atau bayar utang jauh lebih besar, melebihi alokasi belanja infrastruktur di dalam negeri. Utang ini harus di-warning berbahaya bagi manajemen fiskal kita,” tegas Enny. Direktur Koalisi Anti Utang Dani Setiawan mengemukakan utang kian membengkak karena hingga saat ini belum ada kebijakan yang tegas dari pemerintah untuk menghentikan utang.

“Kita mengkhawatirkan pemerintah kembali mengambil jalan pintas yang tidak cerdas, menambal defisit dengan pembiayaan utang yang besar. Sebaiknya dicari sumber-sumber alternatif selain utang,” ujar Dani. Dani mengungkapkan sebenarnya ada beberapa upaya yang harus dilakukan pemerintah untuk menutup defisit APBN.

Pertama, mengurangi pemborosan anggaran di semua pos belanja pemerintah, terutama dari belanja barang dan pegawai. “Kedua, optimalisasi sumber penerimaan negara dari pajak dan sumber daya alam,” katanya.

http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/84274

Sumber : KORAN-JAKARTA.COM
Jakarta – Mantan Menko Perekonomian Kwik Kian Gie mengatakan pemerintah bakal sulit menyelesaikan jumlah utang Indonesia yang sudah menembus Rp 1.800 triliun. Menurutnya utang-utang ini penipuan luar biasa. Kenapa?

“Sudah sejak 30 tahun yang lalu saya sudah menulis banyak (soal utang). Contohnya lebih besar pasak dari tiang. Ini menjadi penipuan yang luar biasa. Utang itu tidak disebut utang dalam APBN, tetapi pemasukkan pembangunan dalam negeri. Jadi 30 tahun lamanya anggaran minus ditutupi utang. Anggaran harus berimbang, biar bisa disebut berimbang ya nipu,” kata Kwik.

Hal ini disampaikan Kwik usai sebuah dialog ekonomi di Hotel Millenium, Jakarta, Selasa (21/2/2012).

Dikatakan Kwik, jumlah utang pemerintah yang tembus Rp 1.800 triliun ini sudah sangat membahayakan dan sulit dicarikan solusinya.

“Ini bukan bahaya lagi karena sumber daya mineral di perut bumi dihabiskan oleh mereka elit-elit pemerintah. Sudah kayak gini sulit (solusinya). Saya nggak tahu harus bagaimana,” tegas Kwik.

Sebelumnya, Presiden SBY mengakui jumlah nominal utang pemerintah Indonesia naik menjadi Rp 1.816 triliun di 2011 lalu. Namun rasionya turun bahkan sangat rendah dibandingkan negara-negara maju di Eropa dan Asia.

Total utang pemerintah Indonesia hingga akhir 2011 mencapai Rp 1.803,49 triliun atau naik Rp 126,64 triliun dalam setahun dibandingkan 2010 yang mencapai Rp 1.676,85 triliun.

(dnl/hen)

sumber : detik Finance : Kwik Kian Gie: Utang Indonesia Rp 1.800 Triliun Hasil Nipu
Senin, 13/02/2012 21:23 WIB
Ini Penjelasan SBY Soal Utang RI Tembus Rp 1.816 Triliun
Rachmadin Ismail – detikFinance

Jakarta – Presiden SBY mengakui jumlah nominal utang pemerintah Indonesia naik menjadi Rp 1.816 triliun di 2011 lalu. Namun rasionya turun bahkan sangat rendah dibandingkan negara-negara maju di Eropa dan Asia.

“Di 2004 PDB kita Rp 2.295 trilun, dan utang kita Rp 1.299 triliun atau hampir Rp 1.300 triliun. Rasionya 56% atau lebih dari separuh PDB, itu potret di 2004. Tujuh tahun kemudian ada keperluan pembangunan infrastruktur dan alutsista (persenjataan) yang urgent masih menggunakan pinjaman. Tapi tolong lihat angkanya di 2011 utang kita Rp 1.816 triliun naik Rp 500 triliun, tapi PDB kita Rp 7.226 triliun atau naik Rp 5.000 triliun. Sehingga rasio utang turun jadi 25%,” tutur SBY.

Hal ini disampaikan SBY dalam jumpa pers di Istana Negara, Jakarta, Senin (13/2/2012).

Dikatakan SBY, jika dibandingkan dengan negara-negara maju di Eropa, Asia, dan juga Amerika yang rasio utangnya ada yang mencapai 100%, maka utang Indonesia belum jadi masalah serius.

“Jadi rasio utang 25% itu bukan jadi masalah yang serius meskipun semangat kami mendapatkan penerimaan dalam negeri ketimbang utang,” kata SBY.

Dia mengatakan, pemerintah serius mengurangi jumlah utang luar negeri. Jika di 2004 porsi utang luar negeri pemerintah mencapai 50% dari total utang, sekarang di 2011 tinggal 32%. “Artinya sumber utang kita ada di dalam negeri,” ujar SBY.

Seperti diketahui, total utang pemerintah Indonesia hingga akhir 2011 mencapai Rp 1.803,49 triliun atau naik Rp 126,64 triliun dalam setahun dibandingkan 2010 yang mencapai Rp 1.676,85 triliun.

Pada akhir tahun ini rencananya utang pemerintah bakal bertambah menjadi Rp 1.937 triliun atau naik Rp 134 triliun.

SBY mengatakan telah menginstruksikan jajarannya untuk membatasi utang pemerintah. “Kalau tidak sangat kita butuhkan jangan berutang. Kredit ekspor juga disetop. Tawaran pinjaman dari pihak luar negeri yang tidak perlu harus dihentikan. Kita ingin benar-benar mengurangi sumber anggaran dari utang, utamanya utang luar negeri,” tutup SBY.

(dnl/hen)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s