LIKUIDIT4$ @perbankan indon … 130112

Sektor Perbankan Terancam Krisis Likuiditas
Oleh Agust Supriadi
Kamis, 12 Januari 2012 | 20:44 WIB

JAKARTA: Pemerintah dan Bank Indonesia perlu mewaspadai tekanan yang meningkat di sektor perbankan nasional dalam beberapa bulan terakhir. Jika dibiarkan, tekanan itu dapat menciptakan krisis likuiditas dan mengganggu perekonomian secara umum.

Purbaya Yudhi Sadewa, Kepala Ekonom Danareksa Research Institute (DRI), menjelaskan kondisi tersebut tergambar dari indeks tekanan perbankan (Banking Pressure Index/BPI) yang meningkat dalam dua bulan terakhir ke level 0,15. Apabila BPI menembus batas psikologis 0,5,
seperti ketika krisis likuiditas 1998 dan 2008, maka bisa terjadi kegagalan sistemik (systemic default) di sektor keuangan yang bisa merembet ke sektor riil.

“Ada kerentanan di system perbankan kita. Kalau pengalaman kita (1998 dan 2008) kalau BPI sampai 0,5, lalu kebijakan yang diambil salah, maka enam bulan kemudian banyak bank goyah dan runtuh. Pemerintah dan BI hanya punya waktu enam bulan untuk memperbaikinya. Kondisi ini
serius, tapi bukan berarti kita sudah krisis,” ujarnya usai acara 2012 Indonesian Investment Outlook hari ini.

Menurutnya, ada sejumlah indikator yang dijadikan dasar DRI mengeluarkan BPI, a.l. kecukupan likuiditas perbankan, jumlah uang beredar, selisih antara BI rate dan suku bunga kredit, serta kinerja
ekspor dan bursa.

DRI melihat likuiditas di sistem perbankan agak mengetat dalam beberapa bulan terakhir akibat menumpuknya dana pemerintah di kas Bank Indonesia. Hal tersebut menyebabkan suku bunga pinjaman sulit turun mendekati BI rate.

“Sementara ekspor Indonesia mulai melambat, sedangkan indeks sedikit mengalami penurunan. Waspadai likuitas yang agak mengetat. Pemerintah dan BI perlu mencermati itu, takutnya terjadi systemic default,” tuturnya.

Solusinya, kata Purbaya, pemerintah dan Bank Indonesia harus sama-sama menambah likuiditas di system perbankan. Pemerintah bisa dengan mempercepat pencairan anggaran belanja, sedangkan bank sentral harus menambah pasokan uang dengan cara menarik SBI.

“Uang pemerintah yang menumpuk di BI hampir membunuh perekonomian kita pada 2008 karena secara tidak langsung memperketat likuiditas. Lebih banyak karena manajemen likuiditas domestic yang tidak optimal ketimbang faktor eksternal. November lalu (2011) jumlahnya sekitar
Rp230 triliun, perkembangan ini perlu diwaspadai,” tegasnya. (sut)

Indonesia Sebagai Safe Haven Baru
Oleh Fauzi Ichsan – Managing Director Standard Chartered Bank
Senin, 09 Januari 2012 | 07:54 WIB

Sekembali saya dari liburan di Bunaken, Manado, di mana kita bisa menyelam di antara kumpulan ikan berwarna-warni dan menemukan kehidupan yang lebih indah dari pasar finansial, prioritas saya langsung memantau pasar saham, valas, obligasi, saham, dan komoditas global.

Back to work! Pergerakan pasar pada pekan pertama 2012 cukup menggembirakan, walaupun saya sudah mengantisipasi krisis euro yang `ikut libur Natal’ akan kembali beraksi dan memukul pasar global.

Pada pekan lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) Indonesia naik 1,3%, India 2%, Thailand 1,2%, walaupun China anjlok 2,6% dan Malaysia turun 1,4%.

Pertanyaannya, ke mana arah pasar finansial tahun ini? Apakah Indonesia, yang peringkat risikonya baru dinaikkan ke investment grade oleh lembaga peringkat risiko Fitch Ratings, akan menjadi tempat investasi baru yang aman (safe haven) sekaligus surga (heaven) para investor?

Sejak awal tahun aliran dana asing yang masuk ke pasar saham sudah US$240 juta, tertinggi di Asean. Apakah tren kenaikan ini akan berlanjut? Investor global, yang `babak belur’ karena anjloknya bursa saham global pada 2011mulai menimang apakah sekarang waktunya tepat untuk kembali ke pasar modal.

Walau saya tergoda untuk meningkatkan investasi di saham Indonesia, sebagai investor saya cenderung menunggu krisis euro mereda dulu. Standard Chartered melihat krisis euro memburuk pada triwulan I/2012, sebelum membaik pada semester II.

Kita patut memantau apakah investor obligasi global, yang menentukan tingginya imbal hasil surat utang negara (SUN) yang diterbitkan oleh negara bermasalah (Italia, Spa nyol, Portugal, Yunani, dan Irlandia), mulai yakin bahwa beberapa negara itu telah melakukan reformasi kebijakan yang bisa menaikkan kemampuan membayar utangnya yang menumpuk.

Jika investor obligasi masih pesimis, imbal hasil SUN negara bermasalah bisa terus naik dan harga SUN terus merosot. Ini akan te rus memukul perbankan Eropa, mengingat mereka memiliki SUN bermasalah sedikitnya 300 milar euro atau 48% dari PDB Indonesia.

Persoalannya, masyarakat Yunani mulai muak dengan kebijakan pengetatan ikat pinggang sebagai syarat bantuan IMF dan Uni Eropa untuk menyelamatkan ekonomi negara itu. Namun jika reformasi tidak dilakukan, bantuan IMF tidak cair dan akibatnya Pemerintah Yunani bisa me nunggak atas utangnya. Ini berdampak buruk bukan saja pada harga SUN Yu nani, melainkan juga pada harga SUN negara bermasalah Eropa lainnya.

Keadaan ini tecermin dari indikator pasar SUN dan pasar uang Eropa yang belum membaik. Imbal hasil SUN Yunani dengan tenor 10 tahun dalam euro masih 35% dibandingkan dengan 12,5% pada awal 2011, SUN Italia 7,2% (4,7% pada awal 2011) dan Spanyol 5,7% (5,4%).

Padahal Stanchart memprediksi pertumbuhan ekonomi Yunani minus 2,8%, Italia minus 0,1% dan Spanyol 0,7% pada 2012, jauh di bawah bunga atau imbal hasil SUN mereka, yang mengindikasikan kalau keadaan ini lama berlanjut, ketiga negara ini bisa bangkrut.

Bandingannya, obligasi global Indonesia (dalam dolar AS) dengan tenor yang sama imbal hasilnya hanya 4%, di mana pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2011 sekitar 6,5%, yang jadi alasan kenaikan peringkat risiko Indonesia.
Terpuruknya pasar SUN Eropa berdampak negatif ke perbankan Eropa, yang pasar uangnya ‘macet’ karena bank enggan meminjamkan dananya ke bank lain karena khawatir bank peminjam memiliki SUN bermasalah.

Bank yang sehat akhirnya memarkir dana menganggurnya di Bank Sentral Eropa (ECB), tidak memutarnya di pasar uang, apalagi pasar kredit.

Selain itu, akibat anjloknya harga SUN Eropa, perbankan Eropa membukukan kerugian yang terus menggerus modal.
Untuk mempertahankan capital adequacy ratio (CAR), perbankan Eropa harus menggalang modal segar.

Masalahnya, pasar saham sedang rentan dan investor saham enggan menyuntik modal segar ke perbankan, apalagi mereka khawatir krisis euro akan memburuk.

Sementara itu Pemerintah Eropa, yang terjerat utang, tidak memiliki dana cukup untuk menasionalisasi perbankannya.

Konsekuensinya, untuk mempertahankan CAR tanpa modal segar, perbankan Eropa terpaksa menciutkan neracanya (deleveraging) dan menarik kembali pinjamannya di pasar kredit global.

Akibatnya, likuiditas dolar dan euro mengetat walaupun bank sentralnya menetapkan kebijakan suku bunga rendah. Misalnya, walaupun sejak awal 2009 bank sentral AS (Federal Reserve) mempertahankan suku bunga Fed Funds Target Rate (FFTR) di 0,25%, suku bunga antarbanknya (London InterBank Offer Rate/LIBOR) dengan tenor 3 bulan naik dari 0,25% pada pertengahan 2011 ke 0,58% pada saat ini.

Dampaknya pun terasa di perbankan Asia, yang menerima sekitar 30% pendanaan valasnya dari perbankan Eropa.

Perbankan Indonesia kekurangan likuiditas valas yang diperlukan oleh sektor korporasi Indo nesia untuk kegiatan investasinya (mengimpor barang modal dan bahan baku). Mengeringnya likuiditas dolar di perbankan Asia menekan mata uang Asia, termasuk rupiah, yang melemah ke 9.200 per US$ dari 8.500 pada pertengahan 2011.

Untungnya, Bank Indonesia memiliki cadangan devisa yang cukup, yakni US$110 miliar pada akhir 2011, untuk menghambat depresiasi rupiah, walau sudah tergerus dari US$124,6 miliar pada Agustus 2011.

Arus hot money

Dengan prospek memburuknya krisis euro pada triwulan I/2012, mata uang Asia diperkirakan terus tertekan. Rupiah pun dapat melemah ke arah 9.400 per US$ pada triwulan I, apalagi kalau investor global menarik dana mereka dari pasar modal ke pasar uang atau pasar SUN AS (US Treasury Bonds), yang ironisnya dianggap safe haven.

Memburuknya krisis euro akan memaksa Uni Eropa, IMF, dan ECB untuk mengambil tindakan yang lebih drastis untuk menyelamatkan ekonomi Eropa, termasuk kemungkinan ECB memborong SUN Eropa bermasalah jika tidak ada investor yang mau membeli, seperti kebijakan quantitative easing bank sentral AS.

Pendek kata, sangat mungkin ECB, AS, dan Jepang akan memompa tambahan likuiditas ke perekonomian dunia untuk memberi `pelumas’ ekonomi dan menghindari kemacetan total perbankan global seperti yang terjadi ketika puncak krisis global pada 2008.

Jika itu terjadi, kepanikan investor akan mereda, walau mereka tetap pesimis atas Eropa.
Masalahnya, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan turun dari 3% pada 2011 ke 2,2% pada 2002, yang artinya kemampuan sektor riil dunia untuk menyerap likuiditas global–melalui pembangunan pabrik dan infrastruktur–semakin terbatas.

Sementara itu, kebijakan suku bunga global yang rendah dan kebijakan bank sentral untuk membeli SUN akan mempercepat pertumbuhan likuiditas global, yang akan menjadi dana menganggur dalam jumlah triliunan dolar.
Akibatnya, pengelola dana menganggur ini reksa dana, dana pensiun, dana asuransi, investor, dan speculator akan mencari `rumah baru’, yaitu negara-negara yang memenuhi dua persyaratan.

Pertama, suku bunganya lebih tinggi dari di AS, Eropa, atau Jepang sehingga spekulator bisa meminjam dana murah dalam dolar dan berinvestasi di negara yang bunganya tinggi. Kedua, pertumbuhan ekonominya tinggi, sehingga laba sektor korporasi dan indeks bursa sahamnya juga tumbuh lebih pesat dibandingkan dengan AS, Eropa, dan Jepang. Hanya ada tiga negara yang memenuhi kedua syarat ini yaitu India, Brasil, dan Indonesia.

Dengan prospek kedua lembaga peringkat risiko lainnya, Standard & Poor’s dan Moody’s, juga akan menaikkan peringkat risiko Indonesia ke investment grade pada semester II/2012, alir an hot money asing ke In donesia akan semakin banyak.

Setelah melemah ke 9.400 per US$, rupiah diperkirakan kembali menguat ke 8.700 pada akhir 2012. Pasar SUN Indonesia pun akan ikut menguat.

Namun karena inflasi diperkirakan naik dari 3,9% pada akhir 2011 ke 5% pada akhir 2012 karena kombinasi kenaikan harga bahan bakar minyak, tarif dasar listrik, dan me lemahnya rupiah pada awal 2012, potensi kenaikan harga SUN yang sudah ada di kisaran tertinggi dalam sejarah akan terbatas.

IHSG, yang naik hanya 3,4% karena krisis euro, sementara laba korporasi tumbuh lebih dari 25% pada 2011 dan diperkirakan tumbuh sedikitnya 20% pada 2012 akan melesat pesat pada semester kedua tahun ini ke 4.800.

Sebagai investor, saya akan menunggu krisis euro memburuk dulu pada triwulan I/2012 sebelum kembali mengakumulasi saham Indonesia dengan keyakinan hot money asing akan kembali deras masuk ke Indonesia.

Indonesia Holds Policy Rate at 6% as Currency Drop Revives Inflation Risk
Q
By Novrida Manurung and Widya Utami – Jan 12, 2012 4:37 PM GMT+0700

inShare
More Print Email
Indonesia kept interest rates unchanged for a second month, extending a pause in monetary easing after a weaker rupiah and a government plan to contain fuel subsidies threatened to spur inflation.
Bank Indonesia kept the reference rate at 6 percent, Governor Darmin Nasution said at a press conference in Jakarta today. The decision was predicted by 13 of 18 economists in a Bloomberg News survey, with the rest expecting a quarter- percentage-point cut.
“It will sustain some support for the Indonesian rupiah, reducing the risk of imported inflation and keeping domestic purchasing power high to support the overall economy,” said Gundy Cahyadi, an economist at Oversea-Chinese Banking Corp. in Singapore. “We see all signs in place that the central bank will not make any rate move in the immediate future.”
The rupiah slid more than 6 percent against the dollar in the past six months after rate cuts in October and November made Indonesia one of the first Asian nations to reduce borrowing costs last year. While inflation has eased, policy makers need to watch the impact of a possible increase in fuel prices as the government may limit subsidies in 2012, central bank Deputy Governor Hartadi Sarwono said this month.
“Bank Indonesia has been the region’s most aggressive rate-cutter recently,” Gareth Leather, a London-based economist at Capital Economics Ltd., said before the decision. “Recent interest-rate cuts, which have contributed to further falls in the Indonesian rupiah, could also lead to higher inflation by increasing the cost of imported goods.”
Rate Cuts
The rupiah rose 0.4 percent to 9,160 a dollar after the decision. It fell 6.4 percent in the past six months, making it Asia’s worst performer after the Indian rupee and the South Korean won. The benchmark Jakarta Composite index of stocks closed little changed today.
Indonesia’s intervention efforts have been sufficient and the important thing is it shouldn’t fight the trend alone, Nasution said today.
Europe’s debt woes have hurt Asian exports and damped growth, pushing down regional currencies as investors sold emerging-market assets. Asia-Pacific central bankers from Australia to Thailand started easing monetary policy in recent months to support growth, while others refrained from cutting rates even as they halted tightening.
‘Reasonable’ Rate
The Bank of Korea may keep its benchmark unchanged at 3.25 percent tomorrow, a Bloomberg survey showed, and Sri Lanka’s central bank held borrowing costs for a 12th month yesterday.
Indonesia’s current benchmark rate would still be “reasonable” should inflation range from 5.2 percent to 5.4 percent in 2012, Nasution said today. Bank loans growth of 25 percent to 26 percent was “normal,” he said. Commercial bank loans may expand 23.6 percent in 2012, Deputy Governor Halim Alamsyah said, citing preliminary estimates from lenders.
“The rate is still in line with the achievement of inflation targets in the future, the efforts to maintain the stability of the financial system, and remains conducive to supporting domestic economic expansion amid global turbulence,” Bank Indonesia said in a statement today.
Nasution reduced Bank Indonesia’s reference rate by a quarter point in October and half a percentage point in November to 6 percent. Inflation slowed to 3.79 percent in December, easing for a fourth straight month, and the central bank has said the 2012 inflation target for prices to rise 3.5 percent to 5.5 percent will probably be met.
Watching Inflation
“I continue to think that there is a case for them to cut rates further,” said Euben Paracuelles, a Singapore-based economist at Nomura Holdings Inc. “Inflation remains below the target and at least within early first-half should remain low. At the same time the growth picture is showing some signs of weakness.”
Still, Bank Indonesia remains mindful of inflation even as it sees room to cut interest rates further if needed, Deputy Governor Hartadi Sarwono said Jan. 5. The central bank said today the government’s plan to limit the sale of subsidized fuel may add as much as 0.94 percentage point to inflation this year.
The Indonesian government plans to limit the sale of subsidized fuel from April 1 to cut energy costs, Energy and Mineral Resources Minister Jero Wacik said Jan. 9.
Indonesia’s growth has so far weathered the faltering global economy, helping the nation regain investment grade rating for its sovereign debt at Fitch Ratings in December after 14 years.
Growth Forecast
Southeast Asia’s largest economy may have expanded 6.5 percent in 2011 and in the last quarter, Nasution said. Growth this year may be 6.3 percent to 6.7 percent, he said.
Keeping borrowing costs low may help President Susilo Bambang Yudhoyono boost investment in the economy as he targets annual average GDP growth of 6.6 percent through the remainder of his term ending in 2014.
The rate cuts in 2011 and the government’s push for land legislation that will speed up works projects have helped bolster prospects for Indonesian companies, said Harry Su, a senior vice president and head of research at PT Bahana Securities in Jakarta.
“After BI cut rates by a total 0.75 percentage point last year, banking stocks became more attractive, plus the movement of infrastructure projects will spur demand for investment loans,” Su said before today’s decision. Stocks that may gain include PT Jasa Marga, Indonesia’s largest toll-road operator, PT Wijaya Karya, a state-owned construction company, PT Bank Negara Indonesia and PT Bank Rakyat Indonesia, he said.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s