bi raaa(6%)aate … 120112

JAKARTA – Kebijakan Bank Indonesia (BI) untuk menahan suku bunga acuan alias BI rate dinilai sangat tepat. Pasalnya ancaman inflasi masih membayangi.

Ekonom Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan tingginya inflasi ini terjadi karena adanya kebijakan pemerintah untuk menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL) dan pembatasan penggunaan BBM subsidi pada 2012 ini. Bahkan menurut Purbaya, peluang bank sentral untuk menurunkan BI rate sudah tertutup pada 2012 ini kecuali pembatasan BBM subsidi dibatalkan.

“Pembatasan BBM ada inflasi 0,8 persen, kalau TDL ada inflasi 0,5 persen, dengan angka kira-kira tambahan 1,3 persen tambahan. Bisa dikatakan sampai akhir tahun tidak ada peluang, kecuali pembatasan BBM dibatalkan,” ucap Purbaya ketika ditemui di Gedung Kemenko, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta (12/1/2012).

Seperti diberitakan sebelumnya, BI memutuskan untuk menahan tingkat suku bunga acuan (BI rate) di angka enam persen. Pasalnya, BI menilai tingkat suku bunga ini masih bisa digunakan untuk menahan krisis global.

“Rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga di angka enam persen,” kata Gubernur BI Darmin Nasution dalam konferensi pers kondisi triwulan IV-2011 di Gedung BI, Jakarta, Kamis (12/1/2012).

Menurut Darmin, BI akan terus konsisten dalam menjaga kestabilan makroprudensial ekonomi Indonesia, dengan menjaga kestabilan nilai tukar rupiah serta kebijakan di sektor keuangan. “Kami masih yakin bahwa di tahun ini, inflasi akan bergerak di angka 4,5 persen plus minus satu, pertumbuhan ekonomi di kuartal satu tahun ini akan berada di 6,5 persen,” lanjutnya.

http://economy.okezone.com/read/2012/01/12/20/556053/bi-rate-tidak-ada-peluang-turun-di-2012

Sumber : OKEZONE.COM
BI Rate Dipertahankan 6 Persen
BI akan mewaspadai risiko memburuknya perekonomian global.
Kamis, 12 Januari 2012, 14:09 WIB
Nur Farida Ahniar, Harwanto Bimo Pratomo

VIVAnews – Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 6 persen, sama dengan posisi November dan Desember 2011.

“Tingkat BI Rate kami nilai masih sejalan dengan upaya menjaga sistem keuangan dan kondusif ekonomi domestik,” kata Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution, dalam keterangan pers di gedung BI, Jakarta, Kamis, 12 Januari 2012.

BI berpendapat, selama 2011, perekonomian Indonesia meningkat, dengan inflasi rendah, pertumbuhan meningkat, nilai tukar stabil, dan sistem keuangan terjaga. BI akan mewaspadai risiko memburuknya perekonomian global. Inflasi pada 2012 dan 2013 ditetapkan 4,5 persen plus minus 1 persen.

Dewan Gubernur mencatat kinerja ekonomi dan keuangan global masih terus melemah seiring krisis Eropa. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan lebih rendah dengan konsumsi di negara maju yang cenderung stagnan dan tingkat pengangguran yang tinggi. Hal ini berdampak pada menurunnya kinerja ekspor negara berkembang.

Sementara itu, faktor keuangan global masih bergejolak, sehingga likuiditas keuangan masih cenderung ketat dengan risiko meningkat. Keuangan global dibayangi penurunan peringkat yang membayangi Eropa yang memicu sentimen negatif.

Menurut dia, di sisi domestik, pertumbuhan ekonomi cukup kuat seiring terjaganya stabilitas makro ekonomi dan keuangan. Pertumbuhan ekonomi triwulan empat diperkirakan sebesar 6,5 persen didukung konsumsi rumah tangga, dan masih terjaganya kinerja sektoral meskipun sedikit melambat.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi 2012 diperkirakan mencapai 6,5 persen lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya 6,1 persen. Dari sisi produksi, sektor-sektor yang diperkirakan menjadi pendorong utama adalah industri, transportasi, komunikasi, perdagangan, dan restoran. (art)
• VIVAnews
BI Rate tetap 6 persen

Kamis, 8 Desember 2011 14:54 WIB | 1161 Views

Jakarta (ANTARA News) – Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada Kamis memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 6,0 persen didasarkan pada evaluasi menyeluruh terhadap kinerja perekonomian terkini, beberapa faktor risiko yang masih dihadapi dan prospek ekonomi kedepan.

Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah mengatakan bahwa Dewan Gubernur BI memandang level BI Rate sekarang masih konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi kedepan, dan tetap kondusif untuk menjaga stabilitas keuangan serta mengurangi dampak memburuknya prospek ekonomi global terhadap perekonomian Indonesia.

“Evaluasi terhadap kinerja dan prospek perekonomian secara umum menunjukkan bahwa perekonomian domestik masih tetap kuat dengan stabilitas yang tetap terjaga,” katanya.

Kedepan, Dewan Gubernur akan terus mencermati risiko memburuknya ekonomi global dan akan terus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta memberikan stimulus untuk perekonomian domestik.

Dewan Gubernur juga menegaskan bahwa penerapan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang bersifat `counter-cyclical` sangat diperlukan dalam pengelolaan makroekonomi secara keseluruhan serta untuk membawa inflasi pada sasaran yang ditetapkan, yaitu 3,5 hingga 5,5 persen pada 2012 dan 2013.

Selain itu Dewan Gubernur BI juga mencatat bahwa perekonomian dunia pada 2011 mengalami perlambatan, terutama disebabkan oleh ketidakpastian pemulihan ekonomi dan keuangan di Eropa dan AS.

Eskalasi krisis di Eropa, terutama pada semester II-2011, memicu tingginya volatilitas di pasar keuangan global, yang mengakibatkan melemahnya permintaan global, volume perdagangan dunia dan harga komoditas global mulai menurun.

Pada sisi harga, tekanan inflasi di negara maju meningkat, sementara tekanan inflasi di emerging market relatif moderat meski masih berada di level yang tinggi.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, negara emerging market di akhir 2011 cenderung melakukan kebijakan moneter netral atau sedikit akomodatif, sementara negara maju cenderung mempertahankan kebijakan moneter akomodatif melalui langkah pelonggaran likuiditas.

Di sisi domestik, Dewan Gubernur berpandangan bahwa kinerja perekonomian Indonesia di 2011 masih cukup kuat. Pencapaian kinerja ekonomi tersebut didukung oleh stabilitas makro dan sistem keuangan yang tetap terjaga.

Pertumbuhan ekonomi di triwulan IV-2011 diperkirakan sebesar 6,5 persen sehingga pertumbuhan ekonomi keseluruhan pada 2011 diperkirakan mencapai 6,5 persen.

Pertumbuhan tersebut terutama didukung oleh permintaan domestik yang masih kuat dan kinerja ekspor yang masih terjaga. Dari sisi produksi, sektor-sektor yang diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi adalah sektor industri, sektor transportasi dan komunikasi, serta sektor perdagangan, hotel dan restoran.

(D012/S004)

Editor: Suryanto
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan suku bunga acuan atawa BI Rate tetap menjadi sebesar 6%. Keputusan ini menepis isu yang beredar di pasar bahwa Bank Indonesia akan memangkas suku bunga cuan menjadi 5,75%.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2011 sebesar 6,5%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan 2010 lalu yang sebesar 6,1%.

http://keuangan.kontan.co.id/v2/read/1326350587/87453/BI-Rate-tetap-sebesar-6-

Sumber : KONTAN.CO.ID

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s