BI v. krisis global … (telmi) : 011211

BI mengungkapkan total portofolio perbankan ke luar negeri masih sangat kecil yaitu Rp 98,33 triliun atau 14% dari total kredit perbankan. Dengan demikian, perbankan Indonesia masih mampu menghadapi kemungkinan terburuk krisis Eropa.

Sumber : IPS RESEARCH
JAKARTA – Langkah Bank Indonesia (BI) untuk selalu mengintervensi pasar valuta asing (valas) dan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder dinilai tidak akan membuat Bank Sentral kekurangan likuiditas dolar Amerika Serikat (AS).

“Kekurangan likuiditas dolar karena intervensi, saya kira belum. Penurunan cadangan devisa kemarin itu memang karena capital outflow,” ungkap Analis Danareksa Institute Purbaya Yudhi Sadewa ketika dihubungi okezone, Kamis (1/12/2011).

Dia melanjutkan, cadangan devisa yang dimiliki BI ini memang layak digunakan untuk mengintervensi pasar valas. Kemudian dari hasil yang didapatkannya ini, BI menggunakannya di pasar sekunder untuk membeli Surat Utang Negara (SUN).

“Justru untung ini, dulu kan BI paling ambil dolar sekira Rp8.800 (per USD) sekarang bisa di Rp9.000, jadi langsung dipakai di pasar sekunder aja,” lanjut dia.

Meski begitu, BI harus memastikan bahwa pergerakan rupiah khususnya sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia.

Sebelumnya, Direktur Direktorat Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa likuiditas yang ada di perbankan masih sangat besar termasuk ketersediaan likuiditas valas. Hal ini terlihat dari indikator harga dan jumlah likuiditas perbankan di BI.

Dari sisi harga, suku bunga di pasar uang antarbank (PUAB) overnight nilainya rata-rata 4,55 persen, sejalan dengan penurunan BI rate.

Sebagai informasi, selama November kemarin, terjadi penarikan modal asing dari
SUN sebesar Rp0,21 triliun,
saham Rp2,23 triliun, dan
surat berharga Indonesia (SBI) jatuh tempo senilai Rp6,2 triliun. Akibat penarikan modal ini, capital outflow sebesar USD1,6 miliar.

http://economy.okezone.com/read/2011/12/01/457/536482/terus-intervensi-rupiah-bi-belum-kekurangan-likuiditas-valas

Sumber : OKEZONE.COM
JAKARTA– Bank Indonesia (BI) akan menempuh beberapa langkah strategis untuk membendung risiko gejolak pasar keuangan global dan mengatasi rambatan pelemahan ekonomi di negara maju.

Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan, hingga saat ini dampak gejolak ekonomi global terhadap perekonomian Indonesia masih terbatas.”Namun, lambat laun ekonomi kita akan terpengaruh yang tecermin pada kinerja ekonomi tahun 2012,” kata Darmin dalam seminar Proyeksi Ekonomi 2012 yang diselenggarakan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) di Jakarta kemarin.

Dia menyebutkan, langkah strategis yang diambil BI adalah meningkatkan intensitas monitoring baik terhadap pasar keuangan maupun ketahanan perbankan dalam menghadapi gejolak pasar keuangan. Monitoring ketat terhadap kondisi likuiditas di pasar antarbank sangat penting karena krisis keuangan pada umumnya diawali tekanan nilai tukar dan keketatan likuiditas di pasar antarbank yang ditandai dengan melonjaknya suku bunga pasar.

Langkah lainnya mempersiapkan Protokol Manajemen Krisis (PMK) dalam rangka pencegahan dan penanganan krisis yang dikomunikasikan dengan PMK instansi lainnya. Upaya memperkuat stabilitas moneter dan sistem keuangan memerlukan adanya pedoman dan payung hukum yang mengatur proses pencegahan dan penanganan krisis secara sistematis dan terintegrasi. Karena itu, PMK yang dimiliki BI dan pemerintah perlu didukung oleh UU Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK). BI juga melakukan operation twist di pasar valuta asing dan surat berharga negara (SBN) sehingga BI dapat memasok valuta asing dan menyerap rupiah. Selanjutnya menggunakan rupiah tersebut untuk membeli SBN di pasar sekunder.

Tiga Jalur Transmisi

Darmin mengungkapkan, gejolak ekonomi global akan berpengaruh kepada perekonomian domestik melalui tiga jalur transmisi yaitu perdagangan, pasar keuangan, dan imported inflation. Sementara transmisi melalui pasar keuangan, Darmin mencontohkan, ketidakpastian di AS dan Eropa menjadi penggerak aliran modal keluar dari Indonesia seperti pada September dan Oktober 2011.

Terkait saluran imported inflation, dia menjelaskan bahwa kondisi ekonomi global yang stagnan,maka inflasi global dan harga komoditas yang diperkirakan akan terkoreksi turun. Hal ini tecermin dari harga emas yang mengalami koreksi dalam tiga bulan terakhir dan turut mengoreksi inflasi inti di Indonesia dari 5,15% (yoy) pada Agustus 2011 menjadi sebesar 4,4% pada Oktober 2011. Di tempat yang sama, Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah mengatakan,krisis kali ini sangat kompleks tantangan perekonomiannya.

”Dibutuhkan optimalisasi penggunaan seluruh instrumen kebijakan moneter,” kata Halim. Dia mengatakan, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2012 dikoreksi dari 6,7% menjadi 6,3%. Sedangkan laju inflasi tahun ini menurut Halim mencapai 4,7%, sedangkan di 2012 mencapai 4,9% atau masih berada di dalam target inflasi BI.Kewaspadaan inflasi tahun depan lebih ditekankan pada faktor administered prices terkait dengan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Sementara, Indef memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2012 sekitar 6,1–6,3%. ”Angka ini turun dibandingkan dengan perkiraan pertumbuhan hingga akhir 2011 yang kemungkinan mencapai 6,5%,”kata Direktur Indef Enny Sri Hartati.Perkiraan tersebut lebih rendah dibanding dengan proyeksi yang dikeluarkan pemerintah dan beberapa lembaga keuangan dunia.

Menurut Enny, dilihat dari distribusi produk domestik bruto (PDB),penggunaan pada 2012 akan relatif sama seperti beberapa tahun sebelumnya. Perekonomian masih akan ditopang oleh besarnya porsi sektor konsumsi rumah tangga.Setidaknya dalam empat tahun terakhir sektor konsumsi rumah tangga telah menyumbang PDB lebih dari 55% yaitu
63,5% (2007),
60,6% (2008),
58,7% (2009), dan
54,9% pada semester I/2011. Sementara itu, mengenai realisasi pertumbuhan ekonomi 2011,Enny menyatakan bahwa ekonomi mampu tumbuh rerata 6,5%.

”Namun yang menjadi masalah, pencapaian itu masih sebatas angka-angka.Dalam kondisi riil, tingkat pengangguran dan kemiskinan masih tetap tinggi,”katanya.

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/447806

/Sumber : SEPUTAR INDONESIA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s