BUY on bbri @laba YTD 2011 : 311011

Sst.. BRI akan Lepas 14% Saham AGRO

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Senin, 31 Oktober 2011 | 17:11 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) akan melepas kepemilikan saham di bank Agroniaga Tbk (AGRO) hingga 14% untuk memenuhi ketentuan Bapepam-Lk.

Hal itu dilakukan setelah BRI mengakuisisi saham PT Bank Agroniaga Tbk sekitar 3,03 miliar saham yang resmi dilakukan pada Maret 2011 lalu. Nilai akuisisi sebesar Rp109 per saham dengan total Rp330 miliar.

Dengan akuisisi tersebut kepemilikan saham Bank Agro adalah BRI sekitar 79,78%, Dana Pensiun Perkebunan (Dapenbun) sekitar 14%, dan masyarakat 6,22%.

Perseroan ingin meningkatkan kepemilikan publik hingga mencapai 20% dari 6,22%. Rencana melepaskan kembali saham ke publik ini akan dilakukan dalam waktu dua tahun. “Kami ingin meningkatkan porsi kepemilikan publik atas anjuran otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Bapepam-LK,” tutur Presiden Direktur Bank Agro, Marshal, Senin (31/10).

Lebih lanjut ia mengatakan, BRI sebagai pemegang saham telah berkomitmen untuk melepas kepemilikannya kepada publik pada 2012. Akhirnya saham publik menjadi 10% sementara saham Dapenbun akan tetap 14%. Selain itu, perseroan tengah mengkaji rights issue pada 2013.

Marshal menuturkan, laba hingga sembilan bulan pertama tahun ini naik lebih dari 200% menjadi Rp26,16 miliar dari Rp8,34 miliar. Hal itu ditopang dari meningkatnya aktiva produktif dari Rp2,8 triliun menjadi Rp3,3 triliun.

“Naiknya laba ditopang oleh investasi kami di jual beli obligasi, forex yang didanai oleh pihak ketiga,” kata Marshal.

Pendapatan perseroan naik dari Rp119 miliar pada kuartal ketiga 2010 menjadi Rp124 miliar pada kuartal ketiga 2011. Sementara itu, kredit perseroan di kuartal ketiga 2011 turun 5% menjadi Rp1,8 triliun. Rasio kecukupan modal turun dari 19,08% menjadi 16,96%.

Loan to Deposit Ratio turun dari 87,03% menjadi 67,57%. “Untuk meningkatkan CAR, akhir tahun ini kami akan menerbitkan subdebt Rp150 miliar untuk ekspansi kredit kami pada 2012 yang ditargetkan mencapai Rp7 triliun dengan DPK sebesar Rp8 triliun,” tutur Marshal.

Total aset perseroan naik menjadi Rp3,45 triliun dari Rp2,95 triliun. Dana pihak ketiga mengalami peningkatan dari Rp2,25 triliun menjadi Rp2,39 triliun.

“Kami optimis dengan pertumbuhan kami karena sebagai bank agribisnis, posisi kami sangat bagus di tengah meningkatnya permintaan naik dan stok pangan dunia turun,” tegas Marshal.

Perseroan mengharapkan perolehan laba sebesar Rp50 miliar dan pertumbuhan kredit mencapai Rp2,4 triliun. [hid]

Kinerja Positif, Saham Bank Prospektif

Oleh:
Pasar Modal – Minggu, 30 Oktober 2011 | 09:02 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Saham sektor perbankan mendapat rekomendasi positif, terutama karena kinerjanya yang di atas estimasi.

Hal ini diungkapkan analis Samuel Sekuritas Joseph Pangaribuan. Ia memberi rekomendasi positif untuk saham perbankan, setelah beberapa emiten dari sektor ini merilis laporan keuangan kuartal tiga 2011, yang lebih baik dari estimasi.

Misalkan saja PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang mencatatkan laba bersih Rp10,4 triliun, naik 57%, atau mencapai 77% dari target 2011.Joseph pun menilai saham BBRI masih cukup aktraktif karena diperdagangkan diskon 6% dari PBV IHSG, “Maintain buy untuk BBRI,” ujarnya dalam riset terbaru.

Pada kuartal tiga ini, net interest income BBRI naik 27% YoY, dengan kredit tumbuh 21,7%. Sementara provisi turun 5,4% menjadi Rp5,6 triliun di laba rugi, yang juga turut mendukung kenaikan laba bersih.

BBRI juga membukukan NPL yang membaik, yakni 3,3% ketimbang semester pertama 2011 di level 3,6%. Sedangkan NIM meningkat 10,2% dari 9,9% pada semester pertama, turut membawa ROE menjadi 39,7%, naik tipis dari paruh pertama di 39,1%.

Saham PT Bank Negara Indonesia (BBNI) pun berhasil membukukan kinerja yang lebih baik dari estimasi. Setelah melakukan revisi dengan memfaktorkan kinerja perseroan, serta me-roll over tahun dasar ke 2012, diperoleh target harga Rp5.000, dengan menaikkan rekomendasi menjadi buy. “Target harga ini mencerminkan PBV 2012 sebesar 2,3 kali, atau sama dengan rata-rata industri,” kata Joseph.

BBNI membukukan penurunan laba bersih 10% QoQ pada kuartal tiga 2011 menjadi Rp1,3 triliun, namun laba bersih secara tahunan (YoY) tercatat Rp4 triliun, naik 37%. Pencapaian ini melebihi target estimasi sebesar 74% untuk 2011. “Operating income masih sesuai estimasi, namun karena pertumbuhan biaya operasi hanya 13%, di bawah perkiraan semula 19%, maka laba bersih naik 37%,” tambahnya.

Adapun net interest income BBNI tumbuh moderat, salah satunya karena penurunan surat berharga akibat perusahaan ingin menambah likuiditas. Kredit tumbuh 5,1% QoQ, sehingga kredit naik 27% YoY, “Pencapaian ini di atas estimasi, namun karena asumsi tingkat bunga lebih tinggi dibanding perseroan, net interest income relatif inline dengan estimasi.”

Kualitas aset BBNI juga baik, dimana provisi tetap rendah yaitu Rp2,5 triliun, turun 13% YoY. Bahkan NPL turun menjadi 3,8% dengan write off Rp2,4 triliun, ketimbang periode yang sama 2010 sebesar Rp4 triliun.

Tidak berbeda jauh dengan PT Bank Central Asia (BBCA). Meskipun overvalued, kinerja bank swasta ini dinilai melampaui estimasi. Joseph pun menaikkan rekomendasi menjadi hold dari sebelumnya sell, karena upside yang ditawarkan 4%.

Setelah melakukan revisi, laba bersih BBCA 2011 diperkirakan mencapai Rp10,4 triliun, naik 16,8%. “Dengan me-roll over tahun dasar menjadi 2012, target harga BBCA pun diperoleh di Rp8.300, mentranslasikan PBV 2012 sebesar 4,3 kali, ketimbang target harga sebelumnya di Rp6.950,” katanya.

Dibandingkan dengan IHSG, PBV BBCA saat ini diperdagangkan premium 60%. Sedangkan BMRI dan BBRI masih diperdagangkan diskon 3% dan 6% terhadap IHSG.

Pada bulan kesembilan ini, BBCA membukukan laba bersih Rp7,7 triliun, naik 25,3% YoY dan untuk kuartal tiga mencapai Rp2,9 triliun, naik 3,1% QoQ. “Pencapaian ini melebihi 86% dari estimasi kami dan 79,6% dari estimasi pasar, untuk 2011,”ujarnya.

Laba bersih sebelum provisi tercatat di bawah estimasi, namun karena rendahnya provisi akibat penerapan PSAK baru, yaitu di Rp120 miliar, maka laba bersih jauh di atas estimasi.

Dari sisi operasi, kredit tumbuh 27% YoY ketimbang pasar 23%, dengan kenaikan signifikan pada kuartal tiga 2011 yakni 10,4% QoQ. Hal ini karena panen tembakau, keberhasilan meningkatkan kredit UMKM, dan pertumbuhan KPR yang di luar perkiraan. “Hingga saat ini yang telah mengajukan KPR BBCA mencapai Rp9.6 triliun dan baru Rp2.8 triliun yang disetujui,” paparnya. [ast]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s