bbri @283 T, bo … 151011

Kredit BRI tembus Rp283 triliun

Oleh Donald Banjarnahor

Rabu, 05 Oktober 2011 | 17:51 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA: PT Bank Rakyat Indonesia Tbk membukukan penyaluran kredit hingga akhir triwulan III/2011 sebesar Rp 283,57 triliun, naik sekitar 24% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ahmad Baiquni, Direktur Keuangan Bank Rakyat Indonesia (BRI), optimis target pertumbuhan kredit pada tahun ini sebesar 22% dapat tercapai dengan melihat kinerja penyaluran pinjaman hingga triwulan III/2011.

“Kami melihat pertumbuhan kredit masih bisa disalurkan sesuai target. Kredit sampai September tumbuh 23-24% secara year on year,” ujarnya dalam konferensi pers Investor Summit, hari ini.

Dengan outstanding kredit BRI pada akhir triwulan III/2010 sebesar Rp228,69 triliun, maka dengan pertumbuhan 23%-24% pembiayaan bank pelat merah ini berkisar di antara Rp281,29 triliun hingga Rp283,57 triliun pada akhir September 2011

Baiquni menambahkan pertumbuhan kredit hingga triwulan III didorong oleh pinjaman mikro yang bertambah 35%. Adapun porsi kredit mikro mencapai 31,6% dibandingkan dengan seluruh portofolio pembiayaan perseroan.

“Kredit mikro itu tidak terlalu rentan dengan gejolak perekonomian global. Sementara untuk kredit konsumer dan KPR [kredit pemilikan rumah] juga akan meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi di dalam negeri,” ujarnya.

Sulaiman Arif Arianto, Direktur Ritel BRI, menjelaskan banyak kredit dengan nominal besar yang ditarik oleh nasabah pada kuartal III.

“Saat ini untuk kredit yang besar sudah banyak yang ditarik. Biasanya untuk kuartal III dan IV kami tidak lagi mencari new loan [kredit baru], tapi yang sudah ada ditarik [nasabah],” ujarnya.

Ketika ditanya apakah BRI akan memimpin kembali penyaluran kredit yang sempat terebut oleh PT Bank Mandiri III pada akhir semester I/2011, Sulaiman menjawab secara diplomatis: “Kalau penyaluran kredit kami selalu berusaha sesuai target.”

Menurut Sulaiman, penyaluran kredit yang melambat pada triwulan II lalu disebabkan karena perseroan mengerem pembiayaan pada segmen menengah dan ritel komersial. Hal tersebut disebabkan karena tingginya rasio pembiayaan bermasalah [non performing loan/NPL] pada kedua segmen tersebut.

NPL kredit menengah pada akhir semester I/2011 mencapai 9,32% dan ritel komersial sebesar 7,58%. Kedua segmen tersebut berperan dalam mendorong tingkat kredit bermasalah BRI yang mencapai 3,64%.

“Khusus untuk kredit menengah, kami konsolidasi dan mengedepankan kualitas. Kami menempatkan residen auditor diseluruh cabang di Indonesia. Selain itu di 60 cabang yang memberikan kontribusi terbesar kami tempatkan 2 auditor. Semua kredit juga harus lewat loan committee,”ujarnya.(faa)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s