INFLAAA(4.61%)aa$1 … 031011

Indonesia’s Inflation Slows, Giving Central Bank Room to Keep Rate Steady
By Novrida Manurung and Widya Utami – Oct 3, 2011 11:25 AM GMT+0700

Indonesia’s inflation slowed in September, giving the central bank room to leave interest rates unchanged as global growth slows.

Consumer prices rose 4.61 percent last month from a year earlier, the Central Bureau of Statistics said in Jakarta today. That compares with an inflation rate of 4.79 percent reported earlier for August and the 4.86 percent median of 17 estimates in a Bloomberg News survey.

Europe’s debt crisis and a struggling U.S. recovery are clouding the outlook for Asia’s exports and prompted policy makers from Malaysia to Taiwan leave interest rates unchanged last month. Easing prices may increase Bank Indonesia’s readiness to lower borrowing costs and protect growth after Deputy Governor Hartadi Sarwono signaled last month that the central bank has room to cut rates if inflation “behaves.”

“Price pressures remain manageable,” Eugene Leow, an economist at DBS Group Holdings Ltd. in Singapore, said before the report. “Uncertainty over the global economy implies that commodity prices will remain lackluster. This will help keep a lid on headline inflation.”

Indonesia’s rupiah fell about 3 percent last month even as the central bank said it would buy bonds and intervene to support the currency “until the market cools.”

Bank Indonesia kept the benchmark reference rate unchanged at 6.75 percent for a seventh month in September. Policy makers are ready to “adjust the rate and mix monetary policy toward loosening” if price gains slow and the economy expands less than expected due to a global slowdown, Perry Warjiyo, the bank’s director of economic research, said last month. The next rate decision will be announced Oct. 11.

Consumer prices gained 0.27 percent in September from the previous month, today’s report showed. Core inflation slowed to 4.93 percent, compared with a previously reported 5.15 percent pace a month earlier.

Indonesia’s exports rose 37.1 percent in August from a year earlier, the statistics department said in a separate report today. That compares with the 39.5 percent pace reported earlier for July.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi pada September berada pada 0,27 persen, dengan demikian inflasi inti tahunan mencapai 4,61 persen.

Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS Jamal mengungkapkan inflasi September ketimbang bulan sebelumnya. Meski demikian, yang patut menjadi perhatian adalah inflasi inti bulanan yang lebih tinggi.

“Inflasi inti bulanan berada pada 0,39 persen. Dibandingkan inflasi umum bulan ini, inflasi inti lebih tinggi,” ungkap Jamal di kantornya, Pasar Baru, Jakarta, Senin (3/10/2011).

Dengan demikian, selama Januari hingga September ini, inflasi telah berada pada kisaran 2,97 persen, dengan inflasi year on year sebesar 4,61 persen.

Adapun tekanan inflasi, berasal dari beras sebesar 0,08 persen, cabai merah sebesar 0,08 dan emas perhiasan yang bulan lalu sempat tinggi, kini hanya memberikan tekanan sebesar 0,05 persen.

Nilai ekspor Indonesia di Agustus 2011 menembus rekor sebesar US$ 18,81 miliar. Terakhir ekspor Indonesia menembus rekor sejarah di Mei 2011 yang mencapai US$ 18,33 miliar.

Demikian disampaikan oleh Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Djamal dalam jumpa pers di kantornya, Jalan DR. Soetomo, Jakarta, Senin (3/10/2011).

“Ekspor di Agustus mencapai US$ 18,81 miliar. Naik 37,05% dibandingkan Agustus 2010 yang mencapai US$ 13,72 miliar. Ini angka tertinggi sepanjang nilai ekspor kita,” jelas Djamal.

Dia mengatakan, nilai ekspor migas Indonesia di Agustus 2011 mencapai US$ 4,09 miliar dan ekspor non migas mencapai US$ 14,72%.

“Total ekspor dari Januari-Agustus 2011 mencapai US$ 134,85 miliar. Naik 36,58% dibandingkan periode yang sama di 2010.

Sementara ekspor non migas untuk Januari-Agustus 2011 mencapai US$ 107,3 miliar. Sumber ekspor kita adalah bahan bakar mineral yang mencapai US$ 16,98 miliar kemudian lemah dan minyak hewan/nabati mencapai US$ 13,96 miliar.

Pangsa pasar ekspor Indonesia saat ini masih dikuasai oleh China US$ 12,83 miliar, kemudian Jepang sebesar US$ 11,97 miliar, AS sebesar US$ 10,65 miliar, kemudian sisanya ekspor ke ASEAN sebesar US$ 22,09 miliar.

Sementara nilai impor di Agustus 2011 mencapai US$ 15,05 miliar. Naik 23,68% dibanding periode yang sama di 2010 yang mencpai US$ 12,17 miliar.

Impor migas di Agustus 2011 mencapai US$ 3,81 miliar dan impor non migas US$ 11,25 miliar. “Kalau dibanding Juli nilai impor kita turun 7,12%,” imbuh Djamal.

Nilai impor Januari-Agustus 2011 mencapai US$ 114,84 miliar. Naik 30,9% dibandingkan periode yang sama di 2010.

Khusus impor non migas di Januari-Agustus 2011 mencapai US$ 87,99 miliar. Kontribusi terbesar adalah pada impor mesin dan alat mekanik, serta peralatan listrik.

Negara asal impor Indonesia pada periode Januari-Agustus 2011 adalah China US$ 16,37 miliar, Jepang US$ 12,1 miliar, dan Singapura US$ 7,07 miliar.

Berdasarkan golongan jenis barangnya, 74,96% impor Indonesia adalah bahan baku, 17,42% barang modal, dan 7,62% adalah barang jadi atau konsumsi.

Sumber: detikcom


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in: Logo

You are commenting using your account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )


Connecting to %s