rupiaaa(8760)aah … 220911

BI Intervensi Pasar US$ 100 juta
KAMIS, 22 SEPTEMBER 2011 | 11:01 WIB
… sampai dengan akhir Oktober 2011: sekira 30 hari kerja, jika sehari BI intervensi $100 Jt maka total intervensi : $3 M … berarti JAUUUUUUUUUUUUUUUUUUhhhhhhhh banget dari $122 M sih … bahkan $3 M itu jauh bener dari $10 M yang digunakan oleh BI saat krisfinalo 2008
… sampai dengan akhir 2011, sekira 72 hari kerja, maka : 100 X 72 = $7,2 M … juga tetap MASEH JAUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUhhh deh dari cadangan devisa BI (kalo beneran segitu loh) 🙂

TEMPO Interaktif, Jakarta – Kekecewaan investor terhadap stimulus ekonomi yang dikeluarkan oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed, membuat para pelaku pasar kembali memburu dolar Amerika serikat (AS).

Semalam The Fed mengumumkan akan membeli obligasi jangka panjang senilai US$ 400 untuk tenor 6 hingga 30 tahun dan menjual obligasi jangka pendek dengan tenor 3 tahun ke bawah.

Kebijakan ini dianggap tidak akan banyak membantu pemulihan ekonomi. Hal itu membuat investor kembali melepas portofolionya dalam mata uang dan mengalihkannya ke dalam dolar AS.

Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia di pasar AS semalam ditutup naik 0,312 poin (0,41 persen) ke level 77.342. Di pasar Asia indeks dolar AS siang ini kembali naik 0,655 poin (0,85 persen) ke level 77,997. Bahkan tadi sempat menyentuh level tertingginya di 78,051.

Supremasi dolar AS terhadap mata uang dunia karena kekhawatiran ekonomi global membuat rupiah kembali terbatuk–batuk.

Pada pembukaan transaksi hari ini, Kamis, 22 September 2011, rupiah dibuka di level 9.366 per dolar AS, atau melemah 348 poin (3 persen) dari penutupan Rabu kemarin di 9.018 per dolar AS. Di pasar NDF (non-deliverable forward) rupiah bahkan sempat menyentuh level 9.400 dolar AS.

Analis dari Treasury Bank BNI, Apressyanti Senthauri, mengatakan stimulus The Fed yang diangap tidak mampu mendorong perekonomian kembali memicu risk aversion (keengganan mengambil risiko) di pasar. Dolar AS yang menjadi perburuan para investor cenderung menguat terhadap mata uang dunia. Imbasnya rupiah dan mata uang regional kembali melemah.

Rupiah yang dibuka di atas 9.300 per dolar AS perlahan kembali turun di bawah 9.100 per dolar AS. Intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) hari ini mampu menahan pelemahan rupiah lebih dalam. “BI telah melepas cadangan devisanya sebesar US$ 100 juta tadi pagi,” ujarnya.

Hingga pukul 10:52 WIB, nilai tukar rupiah ditransaksikan di 9.050 per dolar AS, atau hanya melemah 32 poin (0,35 persen) dari penutupan kemarin. Won Korea selatan pagi ini juga melemah 2,52 persen, peso Filipina turun 0,34 persen, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,82 persen, serta baht Thailand juga melemah 0,2 persen.

Rupiah yang sempat melemah hingga di atas 9.300 per dolar AS kembali memicu kepanikan di bursa domestik. Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada perdagangan hingga pukul 10:57 WIB berada di level 3.514.753, yang berarti anjlok 182,741 (4,94 persen).

Harga 254 saham turun, hanya lima saham yang naik dan 44 saham lainnya stagnan. Volume perdagangan mencapai 2,86 miliar saham, senilai Rp 6 triliun, serta frekuensi 56 ribu kali. Namun investor malah mencatat pembelian bersih Rp 328 miliar.

VIVA B. KUSNANDAR

Intervensi Rupiah, BI Serap SUN Rp3,2 Triliun

BI hari ini melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah.
KAMIS, 22 SEPTEMBER 2011, 20:04 WIB Nur Farida Ahniar

VIVAnews – Di tengah anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menyentuh 3.369,14 atau terjun 328,35 poin (8,89 persen), rupiah justru menunjukkan penguatan. Intervensi Bank Indonesia membuat rupiah justru menguat 140 poin hari ini dan ditutup menjadi Rp8.760 per dolar AS.

Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah mengatakan, BI hari ini melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah. BI juga membuka lelang surat utang negara (SUN) untuk membeli SUN.
“BI menyerap SUN Rp3,2 triliun dari target indikatif Rp5 triliun. Artinya, tidak banyak yang mau lepas SUN sekarang ini,” ujar Difi kepada VIVAnews.com, di Jakarta, Kamis, 22 September 2011.

Menurut dia, kepercayaan terhadap SUN masih tinggi. Difi menjelaskan, rupiah hari ini dibuka di level Rp8.900 dan ditutup Rp8.760 per dolar AS. Posisi tertinggi hari ini Rp9.100 per dolar AS.

Pada perdagangan hari ini, setelah dibuka, rupiah sempat menyentuh Rp9.300 per dolar AS. Melemahnya rupiah selain karena faktor global, juga terdapat perbedaan dua transaksi nilai tukar rupiah yang berbeda cukup signifikan.

Difi menjelaskan, dalam pelemahan rupiah hari ini terdapat dua transaksi yang cukup mencolok, yaitu perbedaan antara transaksi offshore (di luar negeri) dan onshore (di dalam negeri). Perbedaan transaksi itu bisa mencapai 300 poin, sehingga di pasar spot rupiah melemah cukup tajam.

Sebenarnya BI melarang perdagangan rupiah dilakukan di luar negeri, namun untuk kebutuhan tertentu bank menawarkan kontrak berjangka untuk melindungi dolar AS secara jangka panjang (non-deliverable forward) di pasar luar negeri. “Dari situ dihitung nilai spot, sifatnya matematis, turunan NDF, tapi bukan mencerminkan kondisi riil,” ujarnya.

Di sisi lain, penurunan indeks saham di bursa domestik hari ini merupakan yang terburuk dibanding indeks bursa utama Asia lainnya. Indeks Nikkei 225 di bursa Tokyo jatuh 180,9 poin atau 2,07 persen, Hang Seng di bursa Hong Kong terpuruk 912,22 poin atau 4,85 persen, Straits Times di Singapura terkoreksi 74,13 poin atau 2,66 persen, dan Kospi di bursa Korea melemah 53,73 poin atau 2,9 persen. (art)
• VIVAnews

Rupiah Melemah, Kabar Baik Untuk Eskportir
Yuni Astutik – Okezone
Jum’at, 23 September 2011 18:54 wib

JAKARTA – Ketua Kamar dagang dan Industri (Kadin) Suryo Bambang Sulisto menilai, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini merupakan kabat baik untuk para eksportir.

“Bagi eksportir melemahnya rupiah tentu suatu yang menggembirakan karena membuat produk kita lebih menarik,” ungkapnya saat ditemui seusai diskusi publik Pengelolaan sektor energi nasional antara harapan dan realita, bidang energi sumber daya alam, di DPP Partai Golkar, Jakarta, Jumat (23/9/2011).

Namun demikian, dia juga tidak menginginkan jika rupiah terus terpuruk. “Kalau melemah terus kita merisaukan itu, saya kira sekira Rp9.000 per USD masih bisa kita tolerir,” tambahnya.

Seperti diketahui, rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat melemah dan berada di level Rp9.000 per USD. Namun, pada perdagangan hari ini rupiah kembali menguat dan berada di Rp8.735 per USD.

Hal tersebut, dikarenakan Bank Indonesia (BI) memastikan terus memborong Surat Utang Negara (SUN) yang berada di pasar.

“Sejak kemarin, kita sudah mulai mengubah intervensi pasaran dari sebelumnya yang lebih banyak ke Valuta Asing (valas), sekarang mulai juga kita mulai membuka lelang di pasar SUN,” ungkap Gubernur BI Darmin Nasution.

Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah menjelaskan adanya perbedaan quotation kurs rupiah karena dua sumber data yang berbeda, yakni onshore (domestik) dan offshore (LN). Selama ini kurs dari kedua pasar ini jalan bareng, tapi khusus pagi ini ada perbedaan signifikan.

“Quote yang ada di pasar offshore belum tentu mencerminkan transaksi atau belum tentu mencerminkan transaksi karena lebih bersifat penawaran yang belum tentu diikuti transaksi riil,” tambahnya.

Dirinya mengatakan, kemungkinan pasar rupiah offshore dipengaruhi secara psikologis oleh kejatuhan Wall Street dan permasalahan di Eropa, sehingga memaksa beberapa fund managers untuk menyesuaikan portofolio mereka untuk mitigasi risiko.

“Pasar valas domestik tetap stabil dan BI akan selalu menjaga kestabilan kurs rupiah dan akan berada di pasar,” pungkasnya.(mrt) (rhs)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s