bnii the TOP 10 versi Wibowo

Bank Indonesia (BI) harus hati-hati saat menerapkan aturan kepemilikan saham mayoritas di industri perbankan RI. Aturan yang frontal bisa membuat pemilik saham jantungan dan menimbulkan kepanikan di pasar saham.

Ekonom Drajad Wibowo mengatakan, kebijakan pengaturan kepemilikan saham mayoritas di perbankan memiliki sisi positif dan negatif yang perlu dicermati lebih jauh. Pengaturan itu akan berpengaruh besar bagi sistem keuangan RI.

Drajad mengatakan sisi negatif dari kebijakan tersebut bisa menyebabkan calon investor yang akan mengakuisisi bank-bank domestik jadi ragu bahkan mungkin mundur.

“Pihak asing yang sekarang menguasai bank dan investor pasar modal yang memegang saham bank bisa jantungan juga. Namun itu adalah harga yang murah dibanding dengan kerugian jangka panjang jika terlalu banyak bank dimiliki asing,” jelasnya ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Kamis (8/9/2011).

BI menurut Drajad harus cermat, hati-hati dan gradual dalam melaksanakan pembatasan kepemilikan saham mayoritas terutama untuk investor asing.

“Karena, membalik sejarah itu memang sulit, selain bisa menimbulkan kepanikan di pasar modal jika tidak hati-hati,” jelasnya.

Dradjad pun mengakui, saat ini saham mayoritas di perbankan RI saat memang sudah terlalu dikuasai asing.

“Hal ini sebagai akibat dari dua hal pertama, penjualan bank oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) kepada pihak asing secara besar-besaran,” ungkap Drajad

Hal ini, sambung Drajad membuat bank-bank yang tergolong ‘Top 10’ dikuasai pemilik asing. Sebut saja Bank Danamon, BII dan Bank Niaga (Sebelum merger dengan Lippo menjadi CIMB Niaga).

“Saya menyebutnya sebagai gelombang pertama ekspansi kepemilikan asing terhadap perbankan Indonesia,” tutur Wakil Ketua Umum PAN ini.

Kedua, yang mengakibatkan ‘jajahan’ asing masuk adalah kebijakan peningkatan modal minimum bank oleh BI. Ini membuat belasan bank menengah dan kecil menjadi sasaran akuisisi, dan masih banyak lagi yang diincar.

“Tren ini perlu dikendalikan, dan dibalik. Karena memiliki saham mayoritas bank itu bukan hanya memiliki perusahaan bank, tapi hal tersebut juga berarti penguasaan terhadap jaringan nasabah dan jaringan bisnis,” katanya.

“Termasuk juga penguasaan terhadap data-data mikro perusahaan hingga kepada biaya pokok produksi dan bahkan hingga data-data pribadi. Jadi menguasai bank itu sama saja dengan menguasai informasi yang sangat berharga dalam konteks intelijen ekonomi suatu negara,” imbuh Mantan Komisaris BNI ini.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan tengah mengkaji untuk melakukan pembatasan kepemilikan saham mayoritas di sebuah bank. Walaupun masih dikaji, nantinya arah BI yakni kepemilikan mayoritas oleh sebuah instansi, keluarga, maupun perorangan nantinya tidak akan ada lagi.

“Hal ini benar-benar untuk Good Corporate Governance,” jelas Darmin beberapa waktu lalu.

Namun BI tetap akan memberikan izin bagi bank-bank asing yang akan melakukan akuisisi pada tahun ini. BI menegaskan tidak akan melarang akuisisi bank-bank lokal oleh asing hingga tahun ini berakhir.

Berkaitan dengan rencana tersebut, sejumlah investor mulai mengkaji rencana ekspansinya di Indonesia. Diantaranya adalah bank-bank asal Malaysia yang kini mulai menjaga jarak dengan Indonesia, sehubungan dengan rencana Bank Indonesia untuk membatasi kepemilikan mayoritas di bank-bank komersial.

Rencana BI tersebut setidaknya telah membuat bank-bank Malaysia mengurungkan niatnya membeli bank-bank di Indonesia. Mereka diantaranya adalah RHB Capital Bhd (RHB Cap) dan Affin Holdings Bhd. RHB Cap sebelumnya berniat untuk membeli PT Bank Mestika Dharma, sementara Affin hendak membeli PT Bank Ina Perdana.

Padahal Indonesia sebelumnya telah menjadi target atraktif dari bank-bank Malaysia karena pertumbuhan penduduknya yang cepat, tingkat pertumbuhan ekonominya yang stabil. Jika memang BI mewujudkan rencananya, analis memperkirakan bank-bank Malaysia akan mencari tempat lain untuk pertumbuhannya.

Saat ini sejumlah bank-bank Malaysia menguasai bank di Indonesia, seperti Malayan Banking Bhd yang menguasai 95% saham PT Bank Internasional Indonesia (BII) dan CIMB Group Holdings Bhd yang menguasai 96% saham PT Bank CIMB Niaga Tbk. Operasional di Indonesia juga memberikan kontribusi yang cukup besar, seperti CIMB Grup yang mendapatkan ‘setoran’ laba terbesar dari CIMB Niaga.

Sumber: detikcom

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s