utAAA(Rp 1.723,90 T)AAnK … 100811

Selasa, 09/08/2011 15:08 WIB
Timbunan Utang Indonesia Bisa Jadi Bom Waktu
Suhendra – detikFinance

Jakarta – Dunia kini fokus pada masalah krisis utang yang melilit AS maupun Eropa. Padahal Indonesia sendiri masalah utang bisa menjadi boom waktu jika tak dikendalikan dengan baik.

Ketua Koalisi Anti Utang Dani Setiawan mengatakan krisis utang AS dan Eropa harus menjadi pelajaran bagi pemerintah agar tak masuk ke masalah yang sama di masa mendatang. Meskipun selama ini pemerintah selalu beralibi rasio utang Indonesia terhadap PDB relatif jauh lebih rendah atau masih dalam rentang yang sangat aman.

Ia mencatat selama lima tahun terakhir terdapat tren peningkatan utang program dari luar negeri. Hal ini menurutnya erat kaitannya dengan upaya liberalisasi ekonomi di Indonesia seperti memfasilitasi modal asing. Sejalan dengan meningkatnya utang program, maka tingkat utang proyek pun langsung mengikuti, yang berimbas mengendurnya peran pemerintah.

Dani mengilustrasikan di 2010 saja, realisasi alokasi pembayaran cicilan pokok dan bunga utang dalam APBN mencapai Rp 215.546 trilun. Terdiri dari pembayaran bunga utang sebesar Rp 88.383 trilun, pembayaran cicilan pokok utang luar negeri sebesar Rp 50.632 triliun, dan pembayaran cicilan pokok dan buyback SBN sebesar Rp 76.531 triliun.

Sementara di 2011, pemerintah merencanakan untuk menambah alokasi pembayaran utang hingga mencapai Rp 249.727 triliun, atau meningkat sekitar Rp 35 triliun sejak 2010. Angka ini jauh lebih besar dari total belanja modal, yang merupakan investasi pemerintah dalam APBN Perubahan 2011 yang hanya sebesar Rp 136.877 triliun atau hanya 8,4%.

Menurutnya dengan begitu besarnya alokasi pembayaran cicilan dan bunga utang setiap tahunnya, maka akan mengurangi kemampuan pemerintah untuk berpartisipasi dalam proteksi masyarakat dan fasilitas infrastruktur dan lain-lain.

“Ini bisa jadi bom waktu, tercermin dalam APBN makin lama peran pemerintah makin mengecil, utamanya di sektor infrastruktur dan pelayanan publik semakin mengecil ini bisa menjadi bom waktu. Proteksi negara terhadap rakyat semakin berkurang,” katanya kepada detikFinance, Selasa (9/8/2011).

Dikatakannya selama ini instrumen utang sebagian besar untuk kebutuhan menutup defisit anggaran dan membayar cicilan pokok utang luar negeri maupun surat berharga negara. Besarnya beban pembayaran utang, menyebabkan pemerintah harus merogoh anggaran di APBN dalam jumlah yang sangat besar.

“Angkanya akan semakin mencolok bila kita membandingkan total pembayaran utang dengan porsi belanja pemerintah untuk sektor pendidikan, kesehatan, pangan dan pertanian, serta pembangunan koperasi dan usaha kecil menengah,” katanya.

Koalisi Anti Utang juga mencatat dalam lima tahun terakhir pembiayaan utang sangat dominan dan memberikan kontribusi rata-rata 75,1% dari total pembiayaan yang diperlukan dalam APBN.

Selama ini, penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) mendominasi total pendapatan pembiayaan dari utang. Penerbitan SBN di 2010 meningkat lebih dari 4 kali lipat dibandingkan tahun 2005, yaitu dari Rp 47,4 triliun ke Rp 178,0 triliun. Sedangkan penarikan pinjaman luar negeri di 2005 sebesar Rp 26,8 triliun meningkat menjadi Rp 70,7 triliun di 2010.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan hingga Juni 2011, posisi utang pemerintah pusat telah mencapai Rp 1.723,90 triliun. Terdiri dari utang luar negeri sebesar Rp 589 triliun dan Surat Berharga Negara sebesar Rp 1,135 triliun. Selama triwulan pertama 2011, jumlah utang bertambah sebesar Rp 47 triliun dibandingkan posisi Desember 2010.
(hen/dnl)

Triwulan II, NPI Surplus USD11,9 Miliar
Idris Rusadi Putra – Okezone
Selasa, 9 Agustus 2011 17:29 wib

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mengatakan Surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II-2011 mencapai USD11,9 miliar, hal ini meningkat cukup tajam dibandingkan USD7,7 miliar pada triwulan sebelumnya.

Kabiro Humas BI Difi A Johansyah mengatakan transaksi modal dan finansial yang melampaui penurunan surplus transaksi berjalan.

“Ini sejakan dengan jumlah cadangan devisa pada akhir Juni 2011 meningkat menjadi USD119,7 miliar atau setara dengan 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,” ujar Difi dalam rilis yang diterima wartawan di Jakarta, Selasa (9/8/2011).

Adapun transaksi berjalan masih mencatat surplus sebesar USD0,2 miliar, ditopang oleh kenaikan ekspor nonmigas dan ekspor gas. Namun, surplus tersebut menyusut dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai USD2,1 miliar akibat meningkatnya defisit pada neraca perdagangan minyak, neraca jasa, dan neraca pendapatan.

Kenaikan defisit pada ketiga neraca ini terutama disebabkan oleh meningkatnya konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang memicu kenaikan impor minyak, bertambah banyaknya penduduk Indonesia yang bepergian ke luar negeri, dan besarnya pembayaran imbal hasil kepada investor asing sejalan dengan kenaikan arus masuk investasi asing.

“Penurunan kinerja transaksi berjalan tersebut dapat diimbangi oleh surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat signifikan menjadi sebesar USD12,5 miliar dari USD6,4 miliar pada triwulan sebelumnya,” katanya.

Arus masuk investasi langsung ke Indonesia (PMA) terus meningkat sejalan dengan iklim investasi yang semakin kondusif. Arus masuk investasi portofolio juga meningkat didorong oleh masih tingginya ekses likuiditas di pasar keuangan global dan tetap menariknya imbal hasil investasi di dalam negeri.

Selain itu, peningkatan kebutuhan pembiayaan di dalam negeri mendorong sektor swasta untuk menarik utang maupun simpanan dari luar negeri sehingga investasi lainnya mencatat surplus.
(ade)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s