NPL, mu$uh bank, neh … 050711

Waspadai Kredit Bermasalah
Oleh Ryan Kiryanto | Senin, 4 Juli 2011 | 9:45
investor daily

Menarik mencermati respons bank sentral atas kemungkinan ancaman lonjakan kredit bermasalah (non performing loan/NPL) akhir-akhir ini. Namun, Bank Indonesia menilai peningkatan kredit bermasalah tersebut masih dalam batas wajar.

Data BI menyebutkan, kredit macet perbankan mencapai nominal Rp 33,73 triliun hingga April 2011. Angka ini meningkat Rp 4,86 triliun dari tahun 2010 yang mencapai Rp 28,87 triliun. Sementara itu, total kredit yang telah dikucurkan mencapai Rp 1,84 triliun atau naik dari tahun lalu sebesar Rp 1,49 triliun.

Sementara itu, NPL industri perbankan naik Rp 5,43 triliun, dari Rp 47,06 triliun per April 2010 menjadi Rp 52,49 triliun per April 2011. Secara umum angka NPL sebenarnya menunjukkan tren menurun.

Kendati persentase NPL neto secara nasional masih di bawah 1%, potensi risiko kredit tetap bisa terjadi setiap saat, baik karena faktor internal maupun eksternal, baik karena faktor yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan. Karena itu, perbankan sebaiknya tetap mengupayakan untuk mencegah terjadinya lonjakan NPL, terutama NPL baru.

Kembangkan Budaya Risiko
Perbankan tetap harus mengedepankan budaya risiko, khususnya budaya risiko kredit yang tinggi agar dapat menghindari ancaman tambahan NPL maupun NPL baru. Apabila dijumpai kredit yang diberikan sudah mengarah ke NPL (golongan 3, 4, dan 5), bank harus segera mengambil langkah restrukturisasi, baik melalui restructuring, reconditioning, maupun rescheduling. Alternatif mana yang hendak diambil itu tergantung kepada hasil identifikasi atas persoalan yang dihadapi debitor.

Meskipun perkembangan makro ekonomi domestik sejauh ini cukup terkendali, ancaman inflasi yang semakin tinggi tetap harus diwaspadai karena dia berpotensi mendorong kenaikan suku bunga kredit. Kenaikan harga minyak dunia, kenaikan tariff dasar listrik (TDL), kenaikan harga sembilan bahan kebutuhan pokok (sembako) dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tentu akan menaikkan inflasi.

Memang saat ini harga minyak dunia cenderung turun menyusul lesunya perekonomian dunia karena terseret krisis utang Yunani yang belum terselesaikan. Namun, kalau nantinya krisis utang Yunani sudah terselesaikan dan perekonomian Amerika Serikat menunjukkan sinyal pemulihan, diproyeksikan harga minyak akan kembali menembus 100 dolar AS per barel sejalan dengan kenaikan permintaan untuk industri.

Kenaikan inflasi yang mendorong kenaikan bunga kredit dan kenaikan ongkos produksi berpotensi meng hambat kemampuan debitor dalam memenuhi kewajibannya kepada bank. Belum pulihnya kondisi perekonomian negara-negara maju juga berpotensi menciptakan masalah bagi pelaku usaha yang bertumpu pada kegiatan ekspor.

Satu hal lagi yang perlu diwaspadai dewasa ini adalah ancaman gelembung ekonomi dengan indikasi pada sektor properti. Pemerintah diharapkan terus meningkatkan kewaspadaan, untuk mencermati berbagai indicator yang mengarah pada dua isu besar yakni, overheating economy dan economic bubble yang akan menjatuhkan perekonomian nasional.

Kenaikan harga properti selama enam bulan terakhir, yang ternyata di luar ekspektasi banyak pihak, memang patut diwaspadai. Kenaikan harga yang bisa melambung sampai 30% ini, diduga karena tingginya minat investor membenamkan investasi di sektor ini.

Jika tren kenaikan ini terus berlanjut, dikhawatirkan harga properti bisa tak terkendali. Dampaknya, para pembeli non-investor atau konsumen riil justru yang terkena imbasnya karena harga properti kian tak terjangkau sementara mereka sangat mendambakan memiliki properti.

Masuk akal apabila Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyatakan akan memonitor property prices karena harganya tidak normal dan berpotensi menjadi gelembung. Menurut dia, untuk menghadapi “ekonomi yang kepanasan” atau overheating economy, pemerintah telah mengkoordinasikan dengan baik antara instansi fiskal dan moneter.

Beruntung saat ini Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) masih sangat kuat di mana komponen cadangan devisa di dalamnya telah mencapai Rp 986 triliun. Bahkan total cadangan devisa sudah mencapai US$ 120 miliar. Indonesia juga mempunyai fiskal yang cukup baik terjaga selama 10 tahun terakhir, terindikasi dari defisit yang bisa dijaga di bawah dua persen. Indonesia juga masih akan kebanjiran dana asing alias capital inflow.

Kalangan pelaku usaha sektor property juga mengakui, selama 2011 ini harga properti menunjukan tren peningkatan. Hal itu disebabkan karena tingginya permintaan. Sementara berkurangnya pasokan rusunami membuat permintaan properti terutama hunian lain di luar rusunami kian tinggi. Hal inilah yang membuat harga properti kian melaju mengikuti pasar.

Bubble Sektor Properti?
Peringatan soal sektor properti bisa menjadi gelembung bukannya tanpa dasar. Pasalnya, kondisi bubble di Vietnam saat ini memang sudah terjadi, tetapi belum sampai pada puncaknya. Tinggal menunggu saja kapan meledaknya.

Lalu, apakah pasar properti Indonesia juga akan mengalaminya? Kalangan pengusaha properti nasional sepakat mengatakan hal itu tidak akan terjadi saat ini. Pasalnya, pertumbuhan pasar properti di Indonesia tumbuh perlahan, tapi pasti. Pinjaman perbankan untuk properti di Indonesia masih sedikit dan terbatas.

Jadi, meski investasi lima sampai sepuluh tahun lalu, sektor property tetap ada untungnya. Jadi, sudah tepat langkah pemerintah untuk memberi perhatian khusus kepada perkembangan sektor property yang dramatis akhir-akhir ini.

Namun demikian, perhatian secara umum tetap harus dilakukan terutama untuk menyikapi apabila perlambatan ekonomi dunia semakin nyata dan berdampak negatif bagi perekonomian Indonesia.

Melemahnya permintaan dunia terhadap produk-produk dari Indonesia juga akan mengganggu dunia usaha yang pada gilirannya bisa menghambat repayment capacity debitor terhadap bank. Dari sinilah awal mula meningkatnya NPL yang memaksa bank-bank harus memberikan perhatian ekstra. Pendek kata, lebih baik mencegah timbulnya NPL ketimbang mengobatinya.

Penulis analis ekonomi dan keuangan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s