bbri BERLABA, AWA$ lah … 220611

Laba Bank BUMN dan Waspada ‘Orang Dalam’
Oleh Paul Sutaryono | Senin, 20 Juni 2011 | 9:36

Bank-bank pelat merah tampak semakin piawai dalam menangkap peluang bisnis mereka. Ini terlihat dari perolehan laba bank-bank milik pemerintah yang semakin kinclong saja. Meski demikian, radar kewaspadaan tetap harus dipasang, karena sumber masalah justru kerap datang dari orang dalam bank sendiri.

Dalam hal perolehan laba bersih, Bank Mandiri berada paling depan, yaitu Rp 3,78 triliun per Maret 2011 terbang tinggi 89% dari Rp 2 triliun pada tahun sebelumnya. Kinerja kinclong Bank Mandiri itu dibayangi BRI Rp 3,26 triliun naik 51,63% dari Rp 2,15 triliun, BNI Rp 1,25 triliun atau melonjak 21,36% dari Rp1,03 triliun dan Bank Tabungan Negara (BTN) Rp 245,04 miliar meningkat 1,54% dari Rp 241,32 miliar pada periode yang sama.

Dari sisi laju rasio pengucuran kredit terhadap penghimpunan dana (loan to deposit ratio/LDR), BTN memimpin dengan 110,33% meski turun dari 114,11%, diikuti BRI dengan LDR 85,75% menipis dari 86,53%. Hal ini disusul BNI dengan LDR 73,27% meningkat dari 67,23% dan Bank Mandiri 67,93% naik dari 61,89%.

Angka-angka LDR tersebut menunjukkan bank-bank BUMN kian mampu mengemban fungsinya sebagai intermediasi keuangan meski LDR dua bank terakhir belum ideal (LDR 85-110%) atau belum memenuhi LDR minimal 78% yang disyaratkan Bank Indonesia (BI) mulai 1 Maret 2011. Dengan demikian kedua bank ini terkena penalti dengan menyetor tambahan giro wajib minimum (GWM) 0,1% dari dana pihak ketiga (DPK) rupiah untuk setiap 1% kekurangan LDR.

Menanti Peran SBDK
Dari sisi rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) net, Bank Mandiri adalah yang paling kecil, yaitu 0,61% meski naik dari sebelumnya sebesar 0,53%. Ini disusul BRI 0,76% yang membaik dari 1,21%, BNI 0,85% membaik dari 1,13% dan BTN 3,39% naik dari 3,36%. Meski NPL masih jauh di bawah ambang batas 5%, ke depan bank BUMN harus waspada terhadap ancaman inflasi yang bisa memengaruhi kinerja sektor riil.

Kinerja cemerlang itu mengerek return on assets (ROA) Bank Mandiri dari 2,93% menjadi 4,70%. Hal ini dibuntuti BRI dengan ROA 4,41%, BNI 2,82% dan BTN 1,93%. Semuanya melampaui ambang batas 1,5% yang berarti kualitas aset bank BUMN tetap bersinar. Bagaimana penghasilan bunga bersih (net interest margin/NIM)? Kini BRI perkasa dengan NIM 9,67%, mengungguli NIM BNI 5,70% yang menipis dari 5,75%, BTN 5,69% naik dari 6,50% dan Bank Mandiri 5,08% merosot tipis dari 5,09%. Bagi bank, NIM tinggi merupakan pencapaian yang perlu dipertahankan.

Namun, hal ini amat berbeda dari spirit BI yang ingin merampingkan NIM 3%, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina. NIM kecil diharapkan dapat menyetrum bunga kredit untuk kian mungil sehingga kian terjangkau sektor riil. Oleh karena itu, mulai 31 Maret 2011, BI mewajibkan bank nasional dengan total aset minimal Rp 10 triliun untuk mengumumkan suku bunga dasar kredit/SBDK (prime lending rate).

Dengan melihat tingginya NIM bank BUMN, SBDK agaknya belum mampu menekan bunga kredit dalam waktu dekat ini terutama bagi bunga kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). SBDK merinci untuk kredit korporasi dan ritel namun tidak termasuk kartu kredit dan kredit pemilikan rumah (KPR). Ini mirip SBDK Malaysia yang disebut base lending rate (BLR).

Bedanya, BLR hanya global rata-rata 6,30% jauh lebih kecil daripada SBDK yang sekitar 10-12%. BLR untuk KPR, misalnya, minus 2,1%. Bank BUMN pun mampu mengerek tingkat efisien yang tercermin pada rasio beban operasional berbanding pendapatan operasional (BOPO).

Bank Mandiri menjuarai pencapaian BOPO yang membaik dari 69,59% menjadi 57,46% paling tipis di antara empat bank pelat merah. Dari gambaran tersebut, Mandiri tampak lebih efisien daripada BRI dengan BOPO 69,12%, BNI 70,50% dan BTN 83,80% di tengah BOPO ideal 70-80%. Inilah rapor biru bank BUMN.

Genjot Kredit UMKM
Bagaimana arah bisnis bank BUMN ke depan? Ke depan, BUMN masih akan terus meraup laba, tentu dengan tetap fokus pada sejumlah sumber pendapatan, antara lain, yang paling berpeluang adalah memburu usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Statistik Perbankan Indonesia, April 2011 yang terbit 15 Juni 2011 menunjukkan pengucuran kredit UMKM mencapai Rp 383,16 triliun per April 2011 turun dari Rp 391,76 triliun per Maret 2011. Kelompok bank BUMN paling unggul dengan Rp 175,77 triliun yang diintip kelompok bank swasta nasional Rp167,14 triliun, BPD Rp 31,83 triliun, serta bank asing dan campuran Rp 8,43 triliun.

Data ini menunjukkan bank BUMN akan lebih menggenjot kredit UMKM, terutama bagi BRI sebagai pemimpin pasar (market leader). Bank Mandiri terus memberdayakan pengusaha muda dengan pelatihan dan pendampingan wirausaha. Bank nomor wahid ini mengejar target kredit UMKM Rp 28 triliun.

Mengapa UMKM begitu menawan? Karena UMKM memiliki dua magnet. Pertama, UMKM merupakan sumber margin yang cukup besar. Bunga kredit UMKM bisa mencapai di atas 20%, jauh di atas bunga kredit komersial sekitar 12%. Oleh karena itu, BRI dengan NIM 9,67% per Maret 2011 sungguh merupakan sumber pendapatan bunga kredit yang bagus.

Selain itu, UMKM merupakan peluang bisnis yang sangat luas untuk digarap. Peluang akan semakin terbuka bila kelak mulai diberlakukan pemeringkatan debitor (credit rating) UKM. Selain pengucuran dana ke UMKM, pendapatan non operasional (fee-based income) juga bisa dijadikan sumber rejeki. Sumber rezeki yang satu ini telah menjadi primadona pendapatan nonbunga untuk mengukir laba. Pantas, bank BUMN kian menekuni produk dan jasa perbankan untuk menumpuk fee-based income. Katakanlah, pengelolaan rekening giro, tabungan, deposito.

Belum lagi trade finance dan remitansi, terutama dari tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia dan Timur Tengah. Ini ditambah pula dengan manajemen kas yang merupakan pola mengelola perputaran arus kas dan likuiditas secara efektif dan efisien. Sumber fee-based income basah lainnya adalah manajemen kekayaan (wealth management).

Lebih dari itu, bank-bank BUMN tetap harus waspada dengan menerapkan manajemen risiko. Ini terutama karena berbagai kasus kejahatan perbankan akhir-akhir ini, yang justru hidup dan berkembang di antara pegawai bank sendiri. Mereka bermain mata dengan nasabah, sehingga sulit diduga kapan datangnya. Risiko operasional ini harus lebih dicermati daripada risiko kredit dan risiko pasar yang selama ini dianggap lebih seram.

Penulis adalah pengamat dan mantan praktisi perbankan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s