rupiaaa(8536)aah, cadeee($118,1M)… 090611

Kamis, 09/06/2011 13:38 WIB
Aliran Modal Masuk Deras, Rupiah Makin Perkasa
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan tren menguatnya nilai tukar rupiah masih akan berlanjut meskipun pada tingkat yang lebih terbatas sejalan dengan berlanjutnya aliran masuk modal asing. BI mencatat selama bulan Mei 2011 nilai tukar rupiah menguat 0,33% ke level Rp 8.536/US$.

Demikian disampaikan BI setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Juni 2011 seperti disampaikan Kepala Biro Perencanaan Strategis BI Benny Siswanto dalam siaran persnya, Kamis (9/6/2011).

“Pada bulan Mei 2011 rupiah menguat 0,33% (ptp) ke level Rp 8.536/US$ dengan volatilitas yang tetap terjaga. Tren apresiasi nilai tukar rupiah tersebut sejalan dengan upaya BI untuk meredam tekanan inflasi,” ungkap Benny.

Inflasi tersebut, lanjut Benny khususnya tekanan dari imported inflation dengan tetap mempertimbangkan terus dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi. BI memandang bahwa penguatan nilai tukar rupiah sejalan dengan tren apresiasi mata uang di kawasan Asia. “Dan tidak memberikan tekanan pada kinerja ekspor, seperti terlihat pada tetap kuatnya pertumbuhan ekspor sejalan dengan masih tingginya harga komoditas internasional dan kuatnya permintaan luar negeri,” ungkapnya.

Cadev Kokoh di US$ 118,1 Miliar

BI juga mengungkapkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II-2011 diperkirakan masih akan mencata surplus yang relatif besar. Menguatnya kegiatan ekonomi domestik dan eksternal telah mendorong kenaikan impor terutama migas untuk memenuhi konsumsi BBM dalam negeri.

“Kondisi tersebut menyebabkan penurunan surplus transaksi berjalan dibanding triwulan sebelumnya,” katanya.

Di sisi transaksi modal dan finansial, persepsi positif investor terhadap semakin kuatnya fundamental perekonomian Indonesia ditegah menariknya imbal hasi mendorong tingginya penanaman modal asing (FDI) sertal aliran investasi portofolio.

“Sejalan dengan itu, cadangan devisa pada akhir Mei 2011 tercatat sebesar US$ 118,1 miliar atau setara dengan 6,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri.

(dru/ang)

BI: Rupiah Akan Melemah pada 2012
Kamis, 9 Juni 2011 | 19:10
investor daily

JAKARTA – Bank Indonesia melihat prospek nilai tukar selama sisa waktu 2011 diperkirakan stabil dengan kecenderungan menguat. Sedangkan pada 2012, rupiah agak melemah dibanding tahun ini sejalan menurunnya Neraca Pembayaran Indonesia (NPI).

“Membaiknya rupiah pada 2011, dilatarbelakangi antara lain oleh perkiraan masih besarnya likuiditas global dan terjadinya diskrepansi kebijakan antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang,” kata Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Jakarta, Kamis (9/6).

Menurutnya, kombinasi dari dua hal tersebut diperkirakan menarik aliran dana ke negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia, yang juga didukung oleh ekspektasi positif kinerja perekonomian domestik.

Selain itu, stabilitas pergerakan rupiah selama tahun 2011 juga ditopang oleh masih tingginya imbal hasil investasi dalam rupiah dan didukung oleh perkembangan sovereign credit rating Indonesia yang terus membaik.

“Atas dasar pertimbangan tersebut, kami berpandangan bahwa rata-rata nilai tukar rupiah tahun 2011 akan berada pada batas bawah kisaran Rp 8.500-Rp 9.000 per dolar AS lebih kuat dibandingkan asumsi APBN 2011 sebesar Rp 9.250. Sebagai informasi, rata-rata nilai tukar rupiah sampai dengan akhir Mei 2011 tercatat sebesar Rp 8.778 per dolar AS,” katanya seperti dikutip Antara.

Pada 2012, menurut Darmin, BI memperkirakan nilai tukar agak melemah dibanding perkiraan 2011, sejalan dengan surplus NPI yang menurun terutama dari current account akibat meningkatnya impor sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi.

Selain itu, arus masuk modal asing diperkirakan juga cenderung menurun, seiring dengan semakin tipisnya disparitas suku bunga kebijakan negara maju versus emerging. Sehingga atas dasar pertimbangan tersebut, BI berpandangan bahwa rata-rata nilai tukar rupiah tahun 2012 akan berada pada kisaran Rp 8.600-Rp 9.100 per dolar AS.

Mengenai laju inflasi, BI melihat meski sudah menunjukkan kecenderungan menurun, risiko tekanan inflasi pada tahun 2011 diperkirakan masih cukup tinggi. Ke depan, sumber tekanan inflasi diperkirakan berasal baik dari sisi eksternal maupun domestik.

Dari sisi eksternal, tekanan inflasi terutama bersumber dari harga komoditas internasional yang masih cenderung meningkat. Namun demikian, dengan nilai tukar rupiah ke depan yang diperkirakan relatif stabil, tekanan inflasi dari eksternal tersebut diharapkan dapat diredam.

Di sisi domestik, sumber tekanan inflasi diperkirakan antara lain berasal dari peningkatan permintaan sejalan dengan perkiraan perekonomian domestik yang membaik. Tekanan inflasi juga diperkirakan berasal dari ekspektasi masyarakat yang didorong oleh tingginya harga bahan pangan dan kecenderungan peningkatan harga komoditas internasional, terutama minyak. (tk)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s