PEMBOBOLAN BANK: bank mega (LAGE) … 180511

Modus Money Laundering Via Bank Harus Diwaspadai
BRI Pantau Kinerja Unit Operasional
Rabu, 18 Mei 2011 , 00:11:00 WIB

RMOL.Kalangan perbankan nasio­nal kini mencium gelagat adanya pencucian dana besar-besaran de­ngan modus pembobolan per­bankan. Pakar pidana pencucian uang Yenti Ganarsih mengata­kan, kasus-kasus kejahatan per­ban­kan belakangan ini sudah ter­masuk ketegori kejahatan pen­cucian uang (money launde­ring) karena modusnya dengan me­nye­barkan dana yang berhasil digelapkan ke­pada beberapa pihak atau pe­rusahaan lain.

“Begitu uang nasabah atau uang bank keluar lalu dimanfaatkan atau dipakai pelaku atau disebar lagi ke beberapa perusahaan lain. Itu sudah jelas masuk kategori praktek pencucian uang,” kata Yenti di Jakarta, kemarin.

Dia lantas mencontohkan kasus pembobolan dana nasabah oleh Manager Citibank Malinda Dee yang dananya dibelikan mobil mewah atau apartemen, selain melanggar Undang-undang (UU) Perbankan juga melanggar UU Tindak Pidana Pencucian uang nomor 8 tahun 2010.

Contoh lain kasus penggelapan dana PT Elnusa dan Pemda Batu Bara Sumatera Utara di Bank Mega, juga masuk ranah kejaha­tan pencucian uang karena uang hasil pembobolan dimasuk­kan dalam perusahaan lain.

“Ketika kejahatan di perbankan dilakukan masuk pidana per­bankan, tetapi ketika hasil ke­ja­hatannya disalurkan itu masuk pencucian uang,” katanya.

Dia menyarankan, agar pihak berwajib juga menggunakan UU Pencucian Uang untuk menyele­saikan ber­bagai kasus perban­kan belakangan ini sehingga bisa me­lacak larinya dana yang dige­lapkan dari perbankan.

Deputi Gubernur Bank Indo­nesia Halim Alamsyah meminta perbankan dan lembaga keuangan lainnya mewaspadai maraknya jaringan sindikat pem­bobol dana yang beroperasi de­ngan canggih termasuk menggu­nakan modus pencucian uang.

“Dari berbagai kasus yang mun­cul belakangan ini, terlihat bahwa mereka adalah jaringan sindikat yang bergerak dengan sangat te­rencana dan dengan modus yang canggih,” kata Ha­lim di Jakarta, belum lama ini.

Menurut Halim, sindikat ter­sebut seperti yang beraksi di Bank Mega sengaja menggu­nakan dana perusahaan BUMN dan Pemerintah Daerah, sehing­ga kasus itu dapat diungkap dari sisi tindak pidana korupsi dan tindak pidana perbankan.

Menanggapi modus pencucian uang tersebut, Sekretaris Perusa­haan BRI Muhammad Ali me­ngaku telah meminta karyawan BRI di berbagai unit kerja ope­ra­sional untuk mengulang dan me­ngingat kembali pedoman opera­sional perbankan. “Hal ini dila­ku­kan agar setiap unit kerja bisa ber­sikap waspada terhadap ber­bagai aksi-aksi pen­cucian uang lewat perbankan,” ujar Ali. [RM]

Kasus Bank Mega
Bank Indonesia Periksa Semua Kantor Bank Mega
Senin, 09 Mei 2011 | 22:20 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta- Bank Indonesia memeriksa seluruh kantor cabang Bank Mega menyusul terbongkarnya kasus penggelapan dana milik Elnusa dan pencucian uang milik Pemerintah Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. “Kami teliti dari sisi prudential regulation,” kata Deputi Gubernur Bank Indonesia bidang Pengawasan Halim Alamysah, Senin (9/5).

Pemeriksaan mencakup kebijakan dan prosedur operasi standar yang diterapkan kantor-kantor cabang bank Mega. Bank Indonesia, kata Halim, bekerja sama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan dan kepolisian untuk meneliti kedua kasus ini.

Dalam dua bulan, publik digemparkan dua kasus perbankan yang melibatkan Kantor Bank Mega cabang Jababeka, Bekasi. Kasus pertama adalah pembobolan deposito senilai Rp 111 miliar milik PT Elnusa Tbk.

Dana milik anak usaha Pertamina ini dibobol oleh Direktur Keuangannya, Santun Nainggolan, dengan bantuan Kepala Cabang Bank Mega Jababeka, Itman Hari Basuki. Keduanya kini mendekam di tahanan Kepolisian Daerah Metro Jakarta.

Kasus kedua, pencucian uang senilai Rp 80 miliar yang melibatkan dua pejabat Kabupaten Batubara, Sumatra Utara, Yos Rauke dan Fadil Kurniawan. Yos adalah Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kabupaten. Sementara, Fadil menjabat bendahara umum daerah. Keduanya kini menjadi tersangka dan mendekam di tahanan Salemba, Jakarta.

Atas dua kasus perbankan ini, Pusat Pelaporan mensinyalir kantor bank Mega cabang Jababeka kerap dijadikan tempat untuk menyimpan uang hasil kejahatan. “Ya, ada indikasi pencucian uang,” kata Direktur Pengawasan Pusat Pelaporan, Subintoro.

Manajemen Bank Mega akhirnya memecat pegawainya yang terlibat dua kasus perbankan. Pemberhentian itu menyusul terbongkarnya dua kasus kejahatan perbankan yang menghebohkan di Bank Mega cabang Jababeka.

Menurut Sekretaris Perusahaan Bank Mega, Gatot Aris Munandar, semua pegawai yang terlibat sudah diserahkan kepada kepolisian. Namun, dia tak merinci siapa-siapa saja pegawai tersebut. “Oknum yang diduga terlibat sudah diamankan,” ujarnya.

Manajemen, kata dia,telah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap transaksi-transaksi yang mencurigakan. “Setelah kejadian Elnusa, Bank Mega berinisiatif melakukan pemeriksaan.”

Ihwal kasus pencucian uang senilai Rp 80 miliar yang melibatkan dua pejabat Kabupaten Batubara, kata dia, adalah hasil pemeriksaan Bank Mega. Atas temuan ini, Bank Mega langsung melaporkan kepada Bank Indonesia.

Khusus kasus pencucian uang, Gatot menduga hal tersebut terjadi karena adanya kerja sama personal antara pegawai dan dua tersangka pejabat pemerintah daerah. “Melibatkan person to person.”

ALI NY | ANANDA BADUDU
Selasa, 10/05/2011 16:52 WIB
Bank Mega Merasa ‘Dikerjai’ Sindikat Pembobolan Dana Nasabah
Wahyu Daniel – detikFinance

Jakarta – PT Bank Mega Tbk sudah dua kali mengalami pembobolan dana nasabah yaitu Elnusa dan Pemkab Batubara dengan total Rp 191 miliar. Bank milik Chairul Tanjung ini merasa ‘dikerjai’ oleh sindikat pembobolan dana.

Direktur Manajemen Risiko & Kepatuhan Bank Mega, Suwartini mengatakan, dua kejadian pembobolan dana tersebut dilakukan oleh orang yang sama.

“Kami berharap sindikat ini bisa ditangkap. Kami bilang ini sindikat karena 2 pembobolan dilakukan oleh orang yang sama dan ada pihak yang mensponsorinya,” jelas Suwartini kepada detikFinance, Selasa (10/5/2011).

Memang dua kasus pembobolan di Bank Mega dilakukan di Kantor Cabang yang sama yaitu di Jababeka. Bahkan pelakunya juga sama-sama Kepala Kantor Cabang Bank Mega Jababeka yakni Itman Harry Basuki.

“Kasus ini bisa terjadi di bank-bank mana saja. Jadi ini ada sindikat pembobolan. Dana nasabah tidak bisa dibobol kalau tidak ada kerjasama antara ‘orang dalam’ dengan ‘orang luar’ bank itu,” jelas Suwartini.

Suwartini mengaku dia sudah melakukan langkah-langkah agar pembobolan tak lagi terjadi. Langkah yang diambil antara lain mengurangi wewenang cabang sehingga tak terulang kejadian yang sama.

“Kita sebenarnya sudah melakukan SOP dengan benar. Tapi ada oknum yang melakukan sehingga sulit terlacak,” katanya.

Apakah Bank Mega akan mengembalikan uang nasabahnya yang dibobol? Suwartini tak mau berkomentar banyak. Dia hanya meminta kepada pihak berwajib untuk mengamankan dana-dana nasabah yang dibobol.

Seperti diketahui, beberapa pekan lalu, Bank Mega sempat menjadi pembicaraan hangat menyusul raibnya dana Elnusa sebesar Rp 111 miliar. Manajemen Elnusa mengungkapkan ada pencairan deposito berjangka miliknya di Bank Mega tanpa sepengetahuan manajemen Elnusa. Kepolisian mengatakan, dana tersebut dibobol dengan sepengetahuan Direktur Keuangan Elnusa Santun Nainggolan yang kini sudah dipecat.

Pencairan, selanjutnya diinvestasikan ke perusahan ke tiga, PT Discovery Indonesia dan Harvestindo Asset Management (HAM). Menurut Direktur Kepatuhan Bank Mega, Suwartini, dana pencairan deposito Elnusa yang dikirim ke rekening giro PT DI di Bank Mega Cabang Jababeka sebesar Rp 121 miliar.

Selanjutnya pencairan deposito itu ditransfer ke HAM pada bank X di Jakarta sebesar Rp 40 miliar. Pengembalian hasil investasi di PT DI ditransfer ke rekening Elnusa di bank itu sebesar Rp 50,2 miliar.

Atas kasus tersebut, polisi sudah menetapkan tersangka dan menahan Santun Nainggolan, Kepala Cbang Bank Mega Jababeka Itman Harry Basuki, CEO Discovery yang juga komisaris HAM Ivan Ch, seorang broker bernama Richard Latief, Direktur DI Gun dan staf HAM Zul.

Yang terbaru adalah Kejaksaan Agung bekerjasama dengan PPATK tengah menelusuri hilangnya dana Pemkab Batubara sebesar Rp 80 miliar di Bank Mega. Kasus tersebut juga diduga melibatkan pimpinan kantor cabang Bank Mega, Itman Harry Basuki.

Kejaksaan Agung telah menangkap 2 tersangka yakni Yos Rouke dan Fadil Kurniawan, masing-masing adalah Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Aset serta Bendahara Umum Daerah itu.

Kedua tersangka diduga menilep dana kas daerah Kabupaten Batubara sebesar Rp 80 miliar, dengan cara memindahkannya ke rekening lain secara bertahap. Keduanya diketahui pada 15 September 2010 hingga 11 April 2011 menyimpan dana dalam bentuk deposito senilai Rp 80 Miliar di Bank Mega Jababeka. Keduanya dijerat pasal 2 ayat (1), pasal 3 Undang-Undang Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Berdasarkan informasi dari PPATK, dugaan korupsi ini terkait dengan pencairan dana kas daerah Batubara dengan cara memindahkan dari Bank Sumut ke dalam rekening deposito pada Bank Mega cabang Jababeka, Bekasi, sebesar Rp 80 miliar. Bahwa atas penempatan dana tersebut, kedua tersangka telah menerima keuntungan dengan menerima cash back sebesar Rp 405 juta,” jelas Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Noor Rachmad.

(dnl/qom)
Bank Mega: Elnusa dan Batubara Beda
Ester Meryana | Erlangga Djumena | Selasa, 10 Mei 2011 | 12:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Sekretaris Perusahaan PT Bank Mega Tbk, Gatot Aris Munandar menyebutkan, Bank Mega yang menemukan transaksi keuangan dari Pemerintah Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, yang ditempatkan dalam bentuk Deposit On Call senilai Rp 80 miliar.

Temuan tersebut dihasilkan dari hasil pemeriksaan menyeluruh terhadap transaksi-transaksi yang menurut Bank Mega mencurigakan. “Sehubungan dengan hal tersebut, Bank Mega sudah melaporkan masalah ini ke Bank Indonesia dan juga ke instansi terkait untuk segera ditindaklanjuti,” ujar Gatot dalam rilis yang diterima Kompas.com.

Hal tersebut dikemukakan olehnya untuk membenarkan dan memberikan keterangan detail mengenai berita yang telah beredar, adanya dugaan tindak pidana korupsi dana Pemerintah Kabupaten Batubara senilai Rp 80 miliar. Dana tersebut ditempatkan di kantor cabang Jababeka, Cikarang, yang merupakan tempat yang sama dengan kasus hilangnya deposito senilai Rp 111 miliar milik PT Elnusa Tbk (ELSA), beberapa waktu yang lalu.

Namun, ia menambahkan bahwa ini adalah dua kasus yang berbeda. Untuk kasus Pemkab Batubara ini, ia menyebutkan, penempatan dana diduga terjadi karena adanya kerjasama yang melibatkan orang per orang antara oknum yang diduga terlibat. “Saat ini Bank Mega telah memberhentikan Pemimpin Cabang Pembantu Bank Mega Jababeka,” kata Gatot.

Gatot menegaskan, kegiatan operasional Bank Mega tetap berjalan dengan baik, meskipun sedang mengalami kedua kasus ini. “Bank Mega senantiasa melakukan kegiatan operasional sesuai dengan prosedur yang berlaku,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Satuan Fiskal Moneter dan Devisa Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Aris Munandar mengatakan, Kejaksaan Agung dan Polda Metro sedang memburu seorang tersangka penting lain yang bakal membuktikan adanya keterkaitan antara dugaan kasus pembobolan kas Pemerintah Kabupaten Batubara dan Elnusa.

Menurut Aris, para penegak hukum menduga, kedua kasus itu didalangi mantan Kepala Cabang Bank Mega Jababeka, Cikarang, Bekasi, IHB, dan penggagas serta mediatornya, RL.
Saham Bank di BEI Masih Terkoreksi
Senin, 9 Mei 2011 | 14:07
investor daily
JAKARTA-Saham industri perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin siang mengalami koreksi sehingga menekan indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah tipis 0,10 persen.

Indeks BEI turun 6,852 poin menjadi 3.791,702 dan indeks LQ-45 berkurang 1,104 poin atau 0,17 persen menjadi 676,436 poin.

Analis PT Sinarmas Sekuritas, Alfiansyah di Jakarta, Senin (9/4) mengatakan, koreksi terhadap indeks berlanjut akibat merosotnya sejumlah saham perbankan dan industri rokok.

Aksi lepas terhadap saham itu tidak besar sehingga kedua saham sektor industri itu mengalami koreksi harga. Penjualan saham itu oleh pelaku pasar tidak sejalan dengan membaiknya nilai tukar rupiah, karena aksi beli mata uang lokal itu oleh pelaku pasar.

“Kami memperkirakan indeks masih terkoreksi, karena belum ada faktor positif yang mendorong pelaku membeli saham,” ucapnya.

Ia mengatakan, koreksi ini tidak akan berlangsung lama, karena sejumlah faktor positif sudah menunggu di pasar domestik yang mendorong pelaku asing melakukan pembelian saham Apalagi Amerika Serikat masih menetapkan suku bunga rendah yang mendorong pelaku asing mencari pasar yang dapat memberikan keuntungan lebih baik, katanya.

Saham-saham bank yang turun antara lain saham Bank Danamon melemah Rp100 menjadi Rp6.050, saham Bank BRI melemah Rp50 menjadi Rp6.150, Bank Mandiri turun Rp50 menjadi Rp6.950 dan saham BTPN melemag Rp50 menjadi Rp2.900.

Selain itu juga saham industri rokok, Gudang Garam merosot Rp250 menjadi Rp40.650, saham Indosat melemah Rp50 menjadi Rp5.350 dan saham BUMI turun Rp50 menjadi Rp3.550.(ant/hrb)
Kejagung Periksa Mantan Kepala Cabang Bank Mega
Senin, 9 Mei 2011 | 20:22
JAKARTA – Penyidik pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Senin (9/5), memeriksa kembali mantan Kepala Cabang Bank Mega Jababeka Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Itman Hari Basuki, di Polda Metro Jaya terkait dugaan pembobolan dana milik Pemerintah Kabupaten Batubara, Sumatera Utara senilai Rp 80 miliar.

“Sebelumnya pada Jumat (6/5), penyidik sudah melakukan pemeriksaan juga kepada Itman di Polda Metro Jaya,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Noor Rachmad, di Jakarta.

Kejagung menetapkan dua tersangka yakni, Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Batubara, Yos Rauke dan Fadil Kurniawan (Bendahara Umum Pemkab Batubara) dan menahan keduanya.

Itman sendiri sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polda Metro Jaya terkait dugaan pembobolan dana milik PT Elnusa sebesar Rp 111 miliar dan saat ini ditahan, serta modus yang dilakukan hampir serupa dengan aksinya dalam pembobolan uang Pemkab Batubara.

Selain itu, kata dia, penyidik Kejagung juga melakukan pemeriksaan terhadap Direktur Discovery Ivan Lita di Polda Metro Jaya. PT Discovery ini merupakan tempat aliran dana pembobolan PT Elnusa.

Ia menambahkan tim penyidik juga melakukan penyitaan terhadap beberapa document Bank Mega, serta mengirimkan tim ke Sumut untuk melakukan pemeriksaan di Bank Sumut dan Pemkab Batubara.

“Jadi ada sertifikat deposito itu yang palsu, dan bukan dikeluarkan oleh Bank Mega,” katanya.

Kasus tersebut bermula pada September 2010, tersangka Yos Rauke berkenalan dengan Itman Hari Basuki (Kepala Cabang Bank Mega Jababeka Cikarang) di sebuah cafe di daerah Jaksel.

Dalam pertemuan tersebut, Itman menawarkan jasa perbankan dari Bank Mega berupa jasa bank yang lebih tinggi dari bank lainnya berupa deposito per tiga bulan.

“Selanjutnya tersangka menyetorkan uang tunai sejumlah Rp80 miliar sebanyak enam kali,” katanya. Perusahaan sekuritas

Setelah disetorkan ke rekening Bank Mega, selanjutnya kedua tersangka mencairkan deposito uang sejumlah Rp 80 miliar untuk disetorkan kepada dua perusahaan sekuritas melalui rekening Bank BCA dan Bank CIMB Niaga, yaitu, Pacific Fortune Management dan Nobel Mandiri Investment.

Bahwa setiap pencairan deposito itu, kata dia, menurut pengakuan kedua tersangka tidak pernah menandatangani surat pencairan uang deposito.

Dari laporan PPATK, diperolah informasi bahwa dari uang sejumlah Rp 80 miliar itu, ternyata masih terdapat sejumlah uang pada rekening perusahaan Pacific Fortune Management dan Nobel Mandiri Investment.

Besaran uangnya di Pacific Fortune Management sebesar Rp 3 miliar dan di rekening Nobel Mandiri Investment Rp 900 juta dan Rp 270 juta.

Itman Hari Basuki saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pembobolan dana milik PT Elnusa Rp 111 miliar oleh Polda Metro Jaya. (tk/ant)
Senin, 09/05/2011 19:33 WIB
Bank Mega Iming-imingi Bunga Deposito 7% per 3 Bulan ke Pemkab Batubara
Rizki Maulana – detikFinance

Jakarta – Dua pejabat Pemerintah Kabupaten Batubara, Sumatera Utara nekat mengalihkan dana APBD ke Bank Mega. Pemindahan itu dikarenakan mereka tergiur iming-iming bunga sebesar 7% per 3 bulan untuk deposito on call (DoC).

Bunga deposito yang total sebesar 28% per tahun itu tentu saja jauh lebih tinggi dibandingkan bunga deposito yang dipatok bank-bank lain yang hanya berkisar 5% hingga 6% per tahun.

“Di kasus ini Itman Basuki sebagai kepala cabang Bank Mega Jababeka Bekasi menawarkan produk bank yang mempunyai jasa atau bunga lebih tinggi dari bank lain. Jasa ini berupa deposito dan besar bunganya adalah 7% per 3 bulan,” ungkap Noor Rachmat, Kapuspenkum Kejagung di kantornya, Jakarta, Senin (9/5/2011).

Ia menjelaskan, modus dari kasus ini adalah pemindahan rekening bank atas nama pemerintah daerah yang berada di Bank Pembangunan Daerah yakni Bank Sumut ke Bank Swasta dengan iming-iming tingginya nilai jasa bunga yang akan diberikan pihak bank swasta. Juga dengan sistem deposito on call yang dapat memberikan kesempatan bagi para nasabah untuk melakukan penarikan deposito kapan saja.

Noor mengungkapkan, Itman sebagai kepala cabang menawarkan bunga deposito istimewa itu kepada Yos Rauke sebagai kepala dinas pendapatan dan pengelolaan aset pemerintah kabupaten batubara. Mendapatkan tawaran nan menggiurkan itu, Yos selanjutnya pulang ke Medan dan bertemu Fadil Kurniawan, Bendahara Umum Pemerintah Kabupaten Batubara.

“Setelah itu keduanya berangkat ke Jakarta untuk menandatangani surat pembukaan aplikasi rekening dan deposito di Bank Mega. Penandatanganan ini dilakukan di sebuah kafe di daerah Jakarta Selatan,” ungkap Noor.

Nah, setelah membuka deposito, Fadil kemudian melakukan pentransferean dari rekening Pemkab Batubara yang berada di Bank Sumut ke Bank Mega cabang Jababeka sebanyak 5 kali. Rincian pentransferan itu adalah:
15 September 2010 penyetoran sebesar Rp 20 miliar
15 Oktober 2010 sebesar Rp 10 miliar
9 November 2010 Rp 5 miliar
14 Januari 2011 Rp 15 miliar
11 April 2011 Rp 30 miliar

“Setelah dideposito uang tersebut dicairkan kemudian melalui Bank Mega dan BCA ditransfer ke Pacific Fortune Management Rp 30 miliar dan Nobel Mandiri Investment, sisanya Rp 50 miliar belum diketahui apakah disetorkan ke Nobel JMandiri atau tidak,” ungkap Noor.

Menurut pengakuan para tersangka, lanjut dia, tiap pencairan deposito yang mereka lakukan tidak pernah ada tanda tangan baik Pemkab batubara maupun pihak Bank Mega.

Atas kasus tersebut, Noor menyatakan para tersangka akan dikenakan Pasal 2 dan 3 UU Tindak Pidana Korupsi yang berkaitan dengan tindakan melaewan hukum di Pasal 2 dan Penyalahgunaan Kekuasaan di Pasal 3.

“Delik pidananya? Nggak usah jauh-jauh lah ke delik pidana wong mereka menyalahgunakan APBD (2010-2011) ini sudah pelanggaran kok,” jelasnya.

Seperti diketahui, ini adalah kasus pembobolan dana kedua yang terjadi di Bank Mega setelah sebelumnya menimpa dana milik Elnusa. Kejaksaan telah menahan baik Yos Rauke dan juga Fadil Kurniawan. Sementara Itman sudah ditahan dalam kasus dugaan keterlibatannya di pembobolan dana Elnusa. Bank Mega dalam siaran persnya sudah menyatakan telah memecat Kepala Cabang Bank Mega Jababeka, Itman Harry Subakti.
(qom/dnl)
Bank Mega Akui Keterlibatan Orang Dalam
Senin, 9 Mei 2011 | 16:43
investor daily

JAKARTA- Bank Mega mengakui kasus pembobolan dana milik Pemkab Batubara Sumatera Utara senilai Rp80 miliar melibatkan orang dalam Bank Mega dalam hal ini Pemimpin Cabang di Jababeka.

“Saat ini Bank Mega telah memberhentikan Pemimpin Cabang Pembantu Bank Mega Jababeka,” kata Sekretaris Perusahaan Bank Mega Gatot Aris Munandar di Jakarta, Senin (9/5).

Aris Munandar menyatakan setelah pihak berwajib menahan dua orang pejabat Pemda Batubara, manajemen Bank Mega berinisiatif melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap transaksi-transaksi yang menurut Bank Mega mencurigakan.

“Atas hasil pemeriksaan tersebut, Bank Mega menemukan transaksi keuangan dari Pemkab Batubara yang ditempatkan di Deposit on Call senilai Rp80 miliar. Sehubungan dengan hal tersebut, Bank Mega sudah melaporkan masalah ini ke Bank Indonesia dan juga ke instansi terkait untuk segera ditindaklanjuti,” katanya.

Dikatakan Gator, kasus dugaan tindak pidana korupsi tersebut tidak ada hubungannya dengan kasus dana Elnusa di Bank Mega.

Penempatan dana tersebut diduga terjadi karena adanya kerja sama yang melibatkan pendekatan pribadi dengn pribadi antara oknum yang diduga terlibat.

Kegiatan operasional perbankan di Bank Mega saat ini, kata Gatot tetap berjalan dengan baik dan Bank Mega senantiasa melakukan kegiatan operasional sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Satuan Khusus Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Kejaksaan Agung sebelumnya telah menangkap YR Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Aset Kabupaten Batubara, serta FK kuasa bendahara umum daerah Batubara, Jumat (6/5) lalu.

YR dan FK sengaja menempatkan dana deposito pada Bank Mega cabang Jababeka senilai Rp80 miliar dan kemudian ditempatkan pada manajer investasi yang memberi keuntungan hingga Rp405 juta bagi dua orang itu. Namun dana Rp80 miliar itu tidak dapat ditarik sehingga Pemkab Batubara kehilangan uang kas daerah.

Sebelumnya, PT Elnusa juga kehilangan dana Rp111 miliar yang disimpan di Bank Mega.(ant/hrb)
Bank Mega Jababeka Diduga Tempat Pencucian Uang
Senin, 09 Mei 2011 | 04:58 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mensinyalir Bank Mega cabang Jababeka, Bekasi, dijadikan tempat menyimpan uang hasil kejahatan korupsi. “Ya, ada indikasi pencucian uang,” kata Direktur Pengawasan dan Kepatuhan PPATK Subintoro, Minggu 8 Mei 2011.

Dalam tempo satu bulan, aparat hukum membongkar dua kasus pencucian uang bernilai ratusan miliar rupiah yang melibatkan Bank Mega cabang Jababeka.

Kasus pertama, raibnya dana deposito senilai Rp 111 miliar milik PT Elnusa Tbk. Dana milik anak usaha Pertamina ini dibobol oleh Direktur Keuangannya, Santun Nainggolan, dengan bantuan Kepala Cabang Bank Mega Jababeka, Itman Hari Basuki. Keduanya kini mendekam di tahanan Kepolisian Daerah Metro Jakarta.

Kasus kedua, pencucian uang senilai Rp 80 miliar yang melibatkan dua pejabat Kabupaten Batubara, Sumatra Utara, Yos Rauke dan Fadil Kurniawan. Yos adalah Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kabupaten. Sementara, Fadil menjabat bendahara umum daerah. Keduanya kini menjadi tersangka dan mendekam di tahanan Salemba, Jakarta.

Modus kedua kasus ini, menurut Subintoro, sangat mirip. Mereka menempatkan dana sebagai deposito di Bank Mega kemudian dialirkan ke tempat lain. “Seolah-olah diinvestasikan ke beberapa perusahaan,” ujarnya.

Juru bicara Kejaksaan Agung, Noor Rachmad, mengatakan kasus yang melibatkan dua pejabat Kabupaten Batubara berawal dari informasi PPATK. Mereka diduga melakukan korupsi dengan cara mencairkan dana kas daerah sebesar Rp 80 miliar di Bank Sumatra Utara. “Dana ini kemudian dipindahkan ke Bank Mega cabang Jababeka,” ujar Rachmad.

Yos berkenalan dengan Itman, Kepala Cabang Bank Mega Jababeka, pada September tahun lalu. Saat itu, Itman menawarkan jasa perbankan berupa deposito on call dengan bunga 7 persen.

Bersama Fadil, Yos memindahkan dana kas pemerintah kabupaten ke Bank Mega cabang Jababeka. Pengalihan deposito itu dilakukan dalam lima tahap sejak September 2010 sampai April lalu. “Dari hasil penempatan deposito ini, keduanya memperoleh keuntungan sekitar Rp 405 juta,” ujar Rachmad.

Selanjutnya, Yos dan Fadil mencairkan deposito di Bank Mega untuk disetorkan ke beberapa perusahaan jasa keuangan dan jasa pengelolaan aset.

Manajemen PT Bank Mega Tbk menolak memberi penjelasan atas kasus yang melibatkan dua pejabat daerah ini. “Belum ada statement,” kata sekretaris perusahaan Bank Mega, Gatot Aris Munandar, kemarin.

Dia juga menolak memberi keterangan terkait dengan dugaan Bank Mega cabang Jababeka sebagai tempat pencucian uang. Sampai sekarang, menurut Gatot, direksi belum menjatuhkan sanksi kepada Kepala Bank Mega Cabang Jababeka. Alasannya, “Kami masih tunggu hasil investigasi kepolisian.”

AKBAR TRI | ISMA SAVITRI

Bank Indonesia (BI) tengah melakukan pemeriksaan pada PT Bank Mega Tbk terkait kewenangan dan Standar and Operating Procedur (SOP) yang dimiliki setiap Kepala Cabang. Pemeriksaan BI dikhususkan kepada kewenangan Kepala Cabang di Bank Mega Jababeka.

Demikian disampaikan Kepala Biro Hubungan Masyarakat Bank Indonesia Difi Ahmad Johansyah ketika ditemui di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (9/5/2011).

“Kita sudah melakukan pemeriksaan ke bank mega sejak kasus Elnusa. Posisi BI saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan tersebut,” katanya.

“Pemeriksaan tersebut di fokuskan kepada kewenangan kepala cabang. Termasuk di Jababeka terkait SOP dan internal kontrol,” tambah Difi.

Menurut Difi, pihak BI juga bekerjasama dengan Kejaksaan, Kepolisian serta PPATK untuk menindaklanjuti kasus ini. Terkait sanksi, Difi menyampaikan BI masih menunggu seluruh pemeriksaan tersebut. “Sanksi belum, masih menunggu saat ini posisinya,” terangnya.

Seperti diketahui, Bank Mega baru saja dilanda 2 kasus pembobolan dana yakni milik Elnusa sebesar Rp 111 miliar dan Pemkab Batubara sebesar Rp 80 miliar. Dana-dana yang raib itu semuanya tersimpan di Kancor Cabang Jababeka yang dipimpin Itman Harry Basuki. Bank Mega sebelumnya menyatakan Itman telah dipecat.

Bos Citibank Sambangi BI

Orang nomor satu Citibank Indonesia Shariq Mukhtar terlihat menyambangi Kantor Bank Indonesia (BI), berkaitan dengan fit and proper test (uji kepatutan dan kelayakan) yang dilakukan BI. Namun Shariq enggan berkomentar sedikitpun.

“Saya belum bisa berkomentar soal ini sekarang,” ujar Citi Country Officer Citibank tersebut di Gedung BI.

Shariq terlihat ditemani Direktur Kepatuhan Citibank Jessica Effendi, dalam kunjungannya tersebut. Tidak beberapa lama, menyusul pegawai Citibank lainnya.

Sebelumnya, Gubernur BI Budi Rochadi mengatakan, bahwa BI akan memulai fit and proper kepada pejabat teras dan pegawai Citibank yang terlibat dengan dua kasus yang menimpa bank asal Amerika Serikat tersebut di minggu ini, dengan jumlah pegawai yang dipanggil tidak lebih dari 20 orang.

Sumber: detikcom
Bank Mega kembali dilanda kasus pembobolan dana nasabah, setelah milik Elnusa, kini giliran dana milik milik Pemerintah Kabupaten Batubara Sumatera Utara sebesar Rp 80 miliar. Kabarnya, Bank Indonesia sudah menegur Bank Mega terkait 2 kasus tersebut.

Sumber detikFinance mengungkapkan, pada Jumat (6/5/2011) lalu, Direksi Bank Mega sudah menghadap ke BI untuk menjelaskan adanya dana milik Pemkab Batubara yang dibobol sebesar Rp 80 miliar.

“Bank Mega sudah diultimatum secara halus oleh BI,” jelas sumber detikFinance.

Sayangnya, Corporate Secretary Bank Mega Gatot Aris Munandar yang dikonfirmasi lebih jauh tentang kasus tersebut belum mau berkomentar banyak. “Nanti akan saya kirim penjelasan resminya,” ujarnya kepada detikFinance.

Seperti diketahui, beberapa pekan lalu, Bank Mega sempat menjadi pembicaraan hangat menyusul raibnya dana Elnusa sebesar Rp 111 miliar. Manajemen Elnusa mengungkapkan ada pencairan deposito berjangka miliknya di Bank Mega tanpa sepengetahuan manajemen Elnusa. Kepolisian mengatakan, dana tersebut dibobol dengan sepengetahuan Direktur Keuangan Elnusa Santun Nainggolan yang kini sudah dipecat.

Pencairan, selanjutnya diinvestasikan ke perusahan ke tiga, PT Discovery Indonesia dan Harvestindo Asset Management (HAM). Menurut Direktur Kepatuhan Bank Mega, Suwartini, dana pencairan deposito Elnusa yang dikirim ke rekening giro PT DI di Bank Mega Cabang Jababeka sebesar Rp 121 miliar. Selanjutnya pencairan deposito itu ditransfer ke HAM pada bank X di Jakarta sebesar Rp 40 miliar. Pengembalian hasil investasi di PT DI ditransfer ke rekening Elnusa di bank itu sebesar Rp 50,2 miliar.

Atas kasus tersebut, polisi sudah menetapkan tersangka dan menahan Santun Nainggolan, Kepala Cbang Bank Mega Jababeka Itman Harry Basuki, CEO Discovery yang juga komisaris HAM Ivan Ch, seorang broker bernama Richard Latief, Direktur DI Gun dan staf HAM Zul.

Yang terbaru adalah Kejaksaan Agung bekerjasama dengan PPATK tengah menelusuri hilangnya dana Pemkab Batubara sebesar Rp 80 miliar di Bank Mega. Kasus tersebut juga diduga melibatkan pimpinan kantor cabang Bank Mega, Itman Harry Basuki.

Kejaksaan Agung telah menangkap 2 tersangka yakni Yos Rouke dan Fadil Kurniawan, masing-masing adalah Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Aset serta Bendahara Umum Daerah itu.

Kedua tersangka diduga menilep dana kas daerah Kabupaten Batubara sebesar Rp 80 miliar, dengan cara memindahkannya ke rekening lain secara bertahap. Keduanya diketahui pada 15 September 2010 hingga 11 April 2011 menyimpan dana dalam bentuk deposito senilai Rp 80 Miliar di Bank Mega Jababeka. Keduanya dijerat pasal 2 ayat (1), pasal 3 Undang-Undang Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Berdasarkan informasi dari PPATK, dugaan korupsi ini terkait dengan pencairan dana kas daerah Batubara dengan cara memindahkan dari Bank Sumut ke dalam rekening deposito pada Bank Mega cabang Jababeka, Bekasi, sebesar Rp 80 miliar. Bahwa atas penempatan dana tersebut, kedua tersangka telah menerima keuntungan dengan menerima cash back sebesar Rp 405 juta,” jelas Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Noor Rachmad.

Sumber: detikcom

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s