bbri BWAT yang agre$if … 020511

Masih Ada Saham Oke Bagi Investor Agresif

Oleh: Jagad Ananda
Pasar Modal – Senin, 2 Mei 2011 | 04:01 WIB

INILAH..COM, Jakarta – Jika dihitung sejak awal pekan, dalam lima hari perdagangan kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya menguat 35 poin atau 0,92%.

Terbilang tipis, memang. Namun yang menarik, pada penutupan pasar Jumat lalu (29/4) indeks berhasil bertahan di atas level 3.800. Tepatnya, IHSG kembali berhasil mencatatkan rekor baru di angka 3.819.

Sebuah pencapaian yang tidak terduga. Sebab, sebelumnya para pelaku pasar memperkirakan di pekan terakhir April akan terjadi koreksi. Maklum, sepanjang April, IHSG telah mengalami penguatan 141 poin (3,8%). Tapi, ya itu tadi, yang namanya ramalan tak selalu menjadi kenyataan.

Adasejumlah faktor yang mendorong indeks terus merangsek naik. Yang pertama adalah terus menghijaunya indeks di kiblat pasar modal dunia (Dow Jones dan S&P). Selain ditopang terbitnya laporan keuangan emiten triwulan I 2011, penguatan tersebut mencerminkan adanya kepercayaan investor terhadap perbaikan kondisi perekonomian AS.

Sentimen positif serupa, tampak jelas, berjangkit pula di Bursa Efek Indonesia. Terbitnya laporan keuangan emiten, ditambah menguatnya harga sejumlah komoditas, membuat transaksi di bursa saham Jakarta semakin meriah.

Namun demikian, investor tetap harus ekstra waspada sebab penguatan yang signifikan seperti biasa akan diiringi oleh koreksi yang dipicu aksi ambil untung. Dan itu, ada kemungkinan, bakal terjadi pada pekan pertama Mei besok.

“Kalau tidak terkoreksi di pekan pertama, IHSG akan stagnan. Tapi koreksi tetap akan terjadi, hanya soal waktu,” kata seorang kepala riset di sebuah sekuritas asing.

Itu sebabnya, sejumlah analis menyarankan agar untuk sementara investor menahan diri dengan tidak melakukan koleksi. Pembelian baru layak dilakukan setelah indeks menciut ke dekat-dekat 3.800. Setelah koreksi terjadi, terbuka kemungkinan akan terjadi rebound yang cukup tinggi,.

Hal itu selain disebabkan masih adanya laporan keuangan emiten yang akan terbit, kondisi perekonomian negeri ini juga cukup kondusif. Ditambah lagi, nilai tukar rupiah yang relatif stabil dengan kecenderungan menguat.

Tapi bagi investor yang enggan wait and see, ada sejumlah saham yang disodorkan analis sebagai pilihan. Di sektor perbankan, misalnya, ada PT Bank Mandiri (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Central Asia (BBCA) dan PT Bank Jabar Banten (BJBR).

Peluang penguatan di BMRI dan BBCA sudah cukup tipis karena saham ini hanya ditargetkan di harga Rp7.200 dan Rp7.600 (BBCA). Sementara BBRI dipatok pada level Rp7.000 dan BJBR di Rp1.400. “Dua saham ini tergolong masih murah,” kata satu analis.

Saham lain yang juga mendapat rekomendasi buy adalah PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) dan PT Indocement (INTP). Namun sami mawon, peluang penguatannya sudah cukup tipis, hanya berkisar 3%-5%. [mdr]
Laporan Keuangan BMRI 1Q11

Rp Billion 1Q11 1Q10 %chg
Kredit 251,790 201,940 24.69%
DPK 240,280 190,430 26.18%
Total Aset 466,080 399,240 16.74%

Pendapatan Bunga 8,774 8,030 9.27%
Beban Bunga (3,812) (3,396) 12.25%
Pend. Bunga Bersih 4,962 4,634 7.08%
Laba Bersih 3,780 2,003 88.72%

ROA 4.70% 2.93%
ROE 36.65% 30.08%
NIM 5.08% 5.09%
LDR 67.93% 61.89%
CAR 15.96% 15.54%
NPL – Gross 4.70% 2.93%

Sumber: Perseroan, BI, Perhitungan IPS

Sumber : IPS RESEARCH

Posisi outstanding Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada Triwulan I 2011 sebesar Rp 11,11 triliun dengan total debitur sebanyak 1,67 juta. Fokus BBRI pada Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) memicu peningkatan NIM, mencapai 9,67 persen dari 9,37 persen. “Biaya operating cost untuk mikro, terutama biaya SDM relatif besar, sehingga NIM kita tinggi,” ujar Direktur Keuangan BRI, Ahmad Baiquni di lakarta, Jumat.

Untuk BOPO, BRI mencatat adanya penurunan menjadi 69,12% dari 70,78%. Sementara komposisi fee based income sekitar 10%. “Untuk growth-nya signifikan karena di atas 50%,” ujarnya.

Fokus BRI dalam mengembangkan cabang maupun e-banldng, menurutnya, banyak fee based yang bisa dihimpun. Sementara untuk kenaikan laba BRI, sebagian besar ditopang dari Net Interest Income yang bersumber dari kredit. “Ada dampak PSAK 50-55, karena untuk pinjaman baru sbgian besar kredit mikro bunganya flat,” ungkapnya.

Dari sisi cost of fund, BRI mengalami kenaikan dari 4,82 persen pada Triwulan I 2010 menjadi 4,85% di Triwulan 12011.

Sumber : HARIAN EKONOMI NERACA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s