bnii TIDAK PASTI, tidak jela$ … 280411

Saham dengan kapitalisasi besar yang ditransaksikan di Bursa Efek Indonesia ternyata kurang likuid. Mayoritas saham-saham berkapitalisasi besar tersebut tidak banyak ditransaksikan investor karena jumlah saham yang beredar di publik (floating share) kecil.

Menurut kajian Departemen Riset IFT, kecilnya jumlah saham yang beredar di publik membuat frekuensi perdagangan sedikit sehingga nilai harian transaksi menjadi kecil. Namun, saham yang memiliki kapitalisasi besar tersebut berpotensi diminati investor asing jika emiten memperbesar jumlah saham yang beredar di publik, apalagi jika kinerja fundamental perusahaan baik.

Saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) memiliki nilai kapitalisasi Rp 122,72 triliun, salah satu dari 10 saham dengan nilai kapitalisasi terbesar, tetapi nilai transaksi hariannya hanya sebesar Rp 1,03 miliar atau 0,84% dari nilai kapitalisasi. Saham yang beredar di publik hanya 1,82% atau 79,77 juta saham, inilah yang membuat nilai transaksi harian di Bursa menjadi kecil.

Hal sama terjadi pada saham PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII) yang memiliki nilai kapitalisasi Rp 33,99 triliun, tetapi nilai rata-rata transaksi hariannya hanya 2,58 miliar. Jumlah saham BII yang beredar di publik hanya 2,62% atau 1,47 miliar saham.

Namun investor kurang berminat mentransaksikan saham BII karena tidak memiliki arah strategi yang jelas dalam berkompetisi di industri perbankan. Investor juga tidak memiliki informasi memadai mengenai keunggulan dan kelemahan BII.

Selain karena jumlah saham publik yang kecil, ada juga saham berkapitalisasi besar dengan kepemilikan publik di atas 10% tetapi tidak likuid. Contohnya, saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dengan nilai kapitalisasi Rp 56,67 triliun dan saham beredar di publik sebanyak 16,42% atau 547,33 juta saham.

Nilai rata-rata transaksi harian saham Bayan Resources hanya Rp 5,07 miliar, padahal nilai kapitalisasi pasar Bayan Resources tidak jauh berbeda dengan perusahaan sejenis, yakni PT Indo Tambangraya Megah Tbk dengan persentase saham beredar di publik 16,13% atau 182,26 juta saham–jumlah yang lebih kecil dibanding Bayan Resources.

Namun, rata-rata nilai transaksi harian saham Indo Tambangraya bisa mencapai Rp 76,76 miliar, padahal harga saham Indo Tambangraya, yaitu Rp 47.150 per saham, jauh lebih tinggi dibanding harga saham Bayan Resources yang tercatat Rp 16.950 per saham. Artinya, dengan jumlah dana yang sama, investor dapat membeli saham Bayan Resources lebih banyak daripada Indo Tambangraya.

Kecilnya nilai likuiditas transaksi Bayan Resources disebabkan karena sentimen negatif curah hujan tinggi yang mengganggu produksi batu bara perseroan pada 2010. Untuk itu, manajemen Bayan Resources harus menjelaskan kepada investor terkait strategi yang akan dijalankan perseroan di masa mendatang untuk meningkatkan produksi batu bara.

Demikian pula dengan saham PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) dengan kapitalisasi pasar Rp 78,25 triliun, rata-rata nilai transaksiannya hanya Rp 5,93 miliar. Bank CIMB Niaga merupakan salah satu bank dengan aset besar setelah diambil alih CIMB Group. Bank CIMB Niaga merupakan hasil penggabungan Bank Niaga dan Bank Lippo. Keterkaitan bank ini dengan Grup Lippo masih membuat investor ragu untuk mentransaksikan sahamnya.

http://www.indonesiafinancetoday.com/read/6912/Saham-Kapitalisasi-Besar-Kurang-Likuid

Sumber : INDONESIA FINANCE TODAY

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s