dividen CUMA tinpersen, bbri … 220411

Laba Naik, Saham BBRI masih di Area Beli

Oleh: Wahid Ma’ruf
Pasar Modal – Jumat, 22 April 2011 | 04:45 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Dengan perkiraan laba bersih di kuartal I sekitar Rp4 triliun maka saham Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masih di area beli.

Demikian dikutip dari hasil riset Samuel Sekuritas. “Kami perkirakan kenaikan ini masih dikarenakan dampak penerapan effective interest rate dari sebelumnya flat rate, yang menjadikan angsuran bunga yang lebih besar di awal. Selain itu kami juga memperkirakan terdapat recovery dari write off kredit, yang mengakibatkan pendapatan non bunga naik signifikan.”

Untuk kredit sendiri diperkirakan tumbuh 18-22% YoY pada 1Q11. Dan pertumbuhan kredit tahun ini diperkirakan mencapai 20%. Dengan dividen, BBRI dikabarkan telah mengajukan rasio pembayaran dividen (dividend payout) sebesar 10% untuk mendukung ekspansi usaha. Saat ini BBRI diperdagangkan pada PBV’11 3.7x masih lebih rendah dari BBCA 4.9x.

BRI Usul Penurunan Dividen 10%
Mustafa Minta Dikompensasi Dengan Ekspansi Usaha
Jum’at, 22 April 2011 , 02:33:00 WIB

RMOL. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih mempertimbangkan penurunan dividen perbankan BUMN. Tapi yang pasti, dividen bank BUMN bisa lebih rendah dibanding tahun lalu.

Menteri BUMN Mustafa Abu­bakar membeberkan, saat ini seluruh perbankan BUMN telah memberikan usulan atas penuru­nan dividen. Salah satunya Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang mengusulkan penurunan sebesar 10 persen. “Tapi untuk Mandiri, BTN dan BNI saya belum hapal angka-angkanya, karena berbeda-beda. Yang jelas semuanya tentu kita upayakan untuk bisa turun,” jelas Mustafa di Gedung Kemen­terian Keuangan Rabu (20/4).

Usulan yang berbeda-beda dari masing-masing bank BUMN itu dinilai Mustafa harus ada pengka­jian lebih lanjut.

“Pengkajiannya sedang digo­dok antara Sekretaris Menteri dan Deputi. Mudah-mudahan nanti kita akan memperoleh hasil pem­bagian dividen yang benar-benar proporsional. Yang jelas, untuk semua perbankan BUMN me­mang ada potensi penurunan (di­viden) dari tahun lalu,” cetus dia.

Lebih lanjut dia mengatakan, Kementerian Keuangan pun telah mengimbau agar perusahaan BU­MN yang dinilai memiliki pros­pek pengembangan usaha yang potensial atau besar, dapat diberi kesempatan untuk menu­run­­kan dividen. Sehingga perusahaan BUMN yang berpotensi me­ngem­­­bangkan usaha, dapat meng­gunakan divi­den yang tidak dibagi ke peme­rintah itu untuk pengem­bangan usahanya.

“Sedangkan jika ada BUMN yang kelihatannya belum punya potensi pengembangan yang se­hat, maka pembagian dividen­nya akan dianut seperti masa yang lalu (tahun kemarin),” jelasnya.

Deputi Kementerian BUMN Bidang Jasa Parikesit Suprapto menambahkan, perbankan BU­MN lebih membutuhkan likuidi­tas atau penguatan modal. Ala­san­­nya, bank sebagai lembaga ke­­uangan harus bisa menyalur­kan kredit ke sektor riil.

“Perbankan itu kan memang harus memenuhi CAR (Capital Adequacy Ratio/rasio kecukupan modal) dan ekspansi kredit. Jadi mereka perlu tambahan dana dari pengurangan dividen itu. Tapi BUMN lain kan juga punya pro­gram ekspansi, maka diperlukan jalan tengah. Jalan tengahnya itu nanti variatif dan masih dibahas,” beber Parikesit.

Menanggapi ini, pengamat eko­nomi Lembaga Ilmu Pengeta­hu­an Indonesia (LIPI) Latif Adam menegaskan, pemerintah harus memastikan pengurangan dividen tersebut bisa disalurkan sebagai kredit ke sektor riil.

“Itu yang harus jadi catatan pemerintah. Jangan nanti di satu sisi dividen turun, tapi di sisi lain pemberian kredit malah tidak optimal,” kata Latif dihubungi Rak­yat Merdeka. [RM]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s