bbri DIANCAM atawa DIAMkan … 050411

Maraknya kasus perbankan yang akhir-akhir ini terjadi disinyalir akibat kepercayaan berlebihan dari nasabah terhadap oknum pegawai bank. Berdasarkan catatan kepolisian sejak akhir tahun 2010, kepolisian telah melakukan penyidikan terhadap delapan perkara tindak pidana perbankan yang dilakukan oleh 24 tersangka, 11 diantaranya merupakan oknum pegawai bank, sedangkan 13 lainnya pihak luar bank yang membantu transaksi.

Para oknum pegawai bank kebanyakan memilik jabatan sebagai supervisor bank, customer service, komisaris utama bank, direktur utama bank, kepala cabang bank, dan terakhir senior relationship manager yang terjadi pada kasus Citibank. “Kami melihat ada kebiasaan nasabah kita yang mungkin cepat percaya kepada beberapa pegawai yang berlebihan (membujuk nasabah untuk mengikuti program dari bank),” ungkap Deputi Pengawasan Bank Indonesia Halim Alamsyah saat jumpa pers dengan di Aula Bareskrim Mabes Polri, Senin (04/04/2011).

Menurut Halim, nasabah yang mudah percaya kepada pegawai bank, justru dimanfaatkan oknum-oknum tertentu untuk melakukan transaksi yang menyimpang dengan dalih sudah sesuai prosedur.

Menilik dari kasus dugaan pembobolan dana nasabah Citibank yang diduga dilakukan Senior Relationship Manager Citibank, Melinda Dee, Direktur II Tindak Pidana Ekonomi Khusus Mabes Polri, Brigjen Pol Arief Sulistyo menyatakan nasabah juga harus tel

Sumber : KOMPAS.COM
Selasa, 05/04/2011 08:34 WIB
Malinda Beri Peringatan Lemahnya Pengawasan Bank di Indonesia
Moksa Hutasoit – detikNews

Jakarta – Kejahatan yang dilakukan Malinda Dee sebenarnya memberi sinyal kepada seluruh bank di Indonesia. Sebuah peringatan keras secara tidak langsung muncul mengenai lemahnya kontrol internal dunia perbankan Indonesia.

“Ini lonceng peringatan untuk bank, mereka tidak bisa abaikan kontrol internal. Kontrol internal ini sangat penting,” kata pengamat perbankan, Dradjad Hari Wibowo saat dihubungi detikcom, Senin (4/4/2011).

Dradjad menilai, kontrol internal di setiap bank sebenarnya sudah ada. Namun seringkali, lanjut Dradjad, aturan ini justru dilanggar sendiri.

“Kan orang lebih suka melanggar aturan dibanding mentaati,” lanjut mantan anggota Komisi Keuangan dan Perbankan ini.

Dradjad melanjutkan, tidak tegasnya pengawasan internal, membuat timbulnya celah-celah bagi setiap orang yang ingin menarik keuntungan. “Kelemahan inilah yang dijadikan peluang,” imbuhnya.

Dradjad yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PAN ini menduga, kasus seperti Malinda tidak hanya terjadi di Citibank saja. Namun bisa saja terjadi di Bank-bank lainnya. Hanya saja dengan jumlah tidak sefantastis Malinda.

Dradjad berharap, kasus ini bisa membuat setiap bank lebih tegas dalam melakukan pengawasan terhadap karyawannya sendiri. “Harus dicek ulang setiap pengawasan yang ada, apakah berjalan efektif atau tidak,” tutup mantan Komisaris Bank BNI tahun 2003-2004 ini.

Polisi telah menahan Malinda karena diduga menggelapkan dana nasabah. Polisi telah menyita 4 mobil mewah Malinda yakni Ferrari Scuderia F340, Ferrari California, Mercedes Benz E350, dan Hummer H3.

Malinda dijerat pasal 49 ayat 1 dan 2 UU No 7 tahun 1992 sebagaimana diubah dengan UU No 10 tahun 1998 tentang perbankan dan atau pasal 6 UU No 15 tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UU No 25 tahun 2003 sebagaimana diubah dengan UU No 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Citibank telah menyampaikan rilis mengenai kasus ini. Mereka menjamin perlindungan bagi dana milik nasabahnya terkait kasus penggelapan dana miliaran rupiah itu. Citibank menegaskan semua nasabah aman dan akan diberi penggantian bagi yang dirugikan.

(mok/nrl)

Sabtu, 02/04/2011 11:06 WIB
Dr Yenti Garnasih: Pegawai Rendah Hingga Tinggi Bisa Terlibat Kejahatan Perbankan
Nurvita Indarini – detikNews

Jakarta – Kejahatan perbankan seperti yang dilakukan Malinda Dee tidak hanya dilakukan oleh pegawai yang memiliki posisi tinggi dalam perusahaan perbankan. Pegawai di level teller maupun customer service pun bisa melakukannya. Karenanya penting pengawasan internal yang ketat.

“Dalam banyak kasus yang masuk ke pengadilan, dari teller sampai dengan direksi bisa melakukan kejahatan perbankan. Ini tidak akan terjadi jika ada pengawasan internal yang ketat dan pengawasan dari Bank Indonesia (BI). Kejahatan oleh pihak bank seperti direksi, komisaris, dewan komisaris, atau pegawai bank sangat tinggi,” kata pengamat hukum perbankan Dr Yenti Garnasih.

Berikut ini wawancara detikcom dengan staf pengajar di Universitas Trisakti yang merupakan doktor pencucian uang pertama di Indonesia, Jumat (1/4/2011):

Bagaimana bisa terjadi kejahatan perbankan seperti yang dilakukan Malinda Dee?

Ini kan private banking, di mana si tersangka itu diberikan kepercayaan sedemikian besar oleh bank. Nah kemudian uang nasabah yang seharusnya masuk atau sempat masuk ke banl lalu dikeluarkan dan dimasukkan ke rekening dia.

Ini kejahatan yang diatur pasal 49 UU Perbankan. Pasal 49 a atau b pasti kena. Ada pendapatan palsu atau tidak dicatatkan dalam keuangan bank. Ini biar penyidik mendalami. Di pasal 49 a atau b ada banyak unsur. Ini apakah uang sudah masuk, masuk legal, lalu dikeluarkan, maka itu penggelapan. Atau saat uang masuk, dia tidak membukukan ke Citibank.

Atau dia memasukkan uang (milik nasabah) itu ke perusahaan dia sendiri, apakah dia melakukan ini sendiri atau by corporate? Ini Bank Indonesia bisa menangani itu untuk memeriksa dan mengawasi.

Lalu waktu sudah keluar dari keuangan Citibank, dia masukkan ke rekening lain dan digunakan untuk beli mobil, apartemen, maka itu dilacak unsur pencucian uangnya. Ketika polisi menekankan pencucian uang, dalam arti polisi berpikir, harus dilihat kejahatan perbankan. Tindak pidana asalnya adalah kejahatan perbankan, lalu lanjutannya pencucian uang.

Memang sangat signifikan, menggunakan pencucian uang untuk lihat dari mobil dan kekayaan dia lainnya seperti apartemen mahal yang dia punyai. Dari penelusuran ini bisa diketahui siapa yang terlibat, ada yang terlibat lagikah.

Aliran dana dalam pencucian uang, harus ditekankan untuk menjerat semua yang pernah menikmati kejahatan itu. Sekaligus untuk melihat di mana uang itu, apakah sudah berupa rumah, mobil, dan sebagainya. Ini sebagai dasar penyitaan selain mempidana siapa pun yang menguasi barang itu. Filsafat pencucian uang itu adalah melarang setiap orang itu ikut menikmati hasil kejahatan, terlepas menikmati kejahatan utama atau tidak.

Orang yang menerima hasil pencucian uang juga bisa dipidana?

Kalau menerima mobil atau rumah dari hasil pencucian uang, maka yang bersangkutan patut menduga, sebagaimana pasal 5. Ini harus didalami, apakah lingkaran dekat dari yang tersangka. Biasanya tentu orang dekatnya, karena umumnya keluarga tahu Malina Dee gajinya berapa, lalu yang dibeli harganya berapa.

Juga penting bagi kita semua, waktu membayarkan uang untuk membeli mobil itu di mana, di dealer mana. Sebagaimana UU Pencucian Uang tahun 2010, hal itu dilaporkan atau tidak saat melakukan transaksi.

Semestinya, dealer harus melapor ketika ada transaksi lebih dari Rp 500 juta. Harus lapor ke PPATK. Nah ini Malina Dee kan membeli mobil Hummer yang katanya Rp 3 miliar, secara akademis ini harus dilaporkan. Lihat salary si pembeli, mencurigakann atau tidak kalau dengan pekerjaan seperti itu, dengan salary seperti itu bisa membeli mobil seharga Rp 3 miliar.

Pencucian uang akan menjerat banyak orang dalam penikmatan hasil kejahatan atau dalam menyalurkannya. Jadi yang menyalurkan bisa kena pidana 20 tahun penjara, atau penerima dalam hal ini karena patut menduga bisa terkena pidana 5 tahun penjara. Selain itu ada denda minimal Rp 250 juta untuk dealer yang tidak melapor.

Apalagi kalau ada transfer lewat bank, apakah ada laporan atau tidak. Ini kan sudah ada rambu-rambunya, ketika MD memindahkan ke rekeningnya Rp 500 juta seharusnya ada laporan.

Di pencucian uang ini terjadi karena lemahnya pengawasan yang bersangkutan dan BI. BI di pasal 29 UU BI telah diamantkan harus melakukan pembinaan dan pengawasan tentang manajemen, modal dan sebagainya dilakukan tidak. Pengawasan ini harus dilakukan secara berkala.

Pelaku kejahatan perbankan pasti memiliki kedudukan tinggi?

Tidak juga. Dalam banyak kasus yang masuk ke pengadilan, dari teller sampai dengan direksi bisa melakukan kejahatan perbankan. Ini tidak akan terjadi jika ada pengawasan internal yang ketat dan pengawasan dari Bank Indonesia (BI). Kejahatan oleh pihak bank seperti direksi, komisaris, dewan komisaris, atau pegawai bank sangat tinggi

Dalam beberpa kasus yang masuk ke pengadilan, ada teller baru berusia 28-35 tahun yang jadi terdakwa. Karena melihat ada kelemahan pengawasan, melihat celah dalam sisitem IT-nya maka dia bermain. Mungkin ini juga terjadi karena dia sedikit menguasai IT. Di sisi lain, bank-nya sendiri juga tidak allert.

Pernah terjadi, ada nasabah yang menimpan deposito di bank untuk satu tahun. Ketika mau diambil ternyata depositonya tidak ada, padahal setiap bulan, dia mendapatkan bunga deposito. Di awal, dia juga mendapat sertifikat deposito. Ternyata oknum pegawai banknya hanya memasukkan uang nasabah ke rekening koran atau tabungan biasa. Ada kasus juga teller yang memalsukan ATM dan tanda tangan nasabah.

Kalau pakai IT memang cepar, tapi ternyata ada kerawanan yang tinggi juga. Pengawasan tidak gampang. Uang tidak ada tapi pencatatan masuk ke nasabah. Mala itu, dengan adanya alat yang canggih dalam sistem, maka pengawasan juga harus tetap lebih keras.

Dampak dari kejahatan perbankan?

Kalau peluang untuk melakukan kejahatan perbankan terbuka, tentu kejahatan ini bisa selalu berulang. Ini kan bisnis kepercayaan. Menghimpun dana rakyat dengan basis kepercayaan. Kalau kejahatan begitu terus terjadi, nantinya nasabah lari karena merasa bank tidak lagi aman.

Apalagi kalau ada kejahatan perbankan terkadang perusahaan cenderung menutupi, mungkin agar nasabah tidak kabur. Maka itu, seperti saya katakan tadi BI harus mengawasi lebih ketat, tidak hanya sekadar mengawasi pergerakan uang dalam kecukupan modal, tapi juga melihat etika dan profesionalitas.

Jangan sampai karena terlalu percaya dengan karyawan, lalu kontrol menjadi tidak ada. Bank itu kan menghimpun dana masyarakat, menjual kepercayaan, jadi jangan seenaknya. Meskipun nanti kalau dana nasabah hilang akan diganti, tapi jangan begitu terus, karena nanti bisa collapse.

Filosofi dibentuknya bank untuk kesejahteraan rakyat. 4 Tahun belakangan ini, kejahatan perbankan semakin marak sekali. Hanya saja banyak yang tidak di-blow up dan tidak diseriusi. BI juga jangan melihat kesehatan bank dari kecukupan modal saja, tapi juga etika dan profesionalitas melaksanakan bisnis perbankan.

Kasus yang terjadi di Citibank ini hanya salah satu. Beberapa bank lain juga pernah, seperti BNI, BRI juga bank swasta. Kalau mau, kasusnya bisa dicek di pengadilan.

Dalam rekrutmen pegawai pun harus ketat?

Iya. Perlu psikotest yang mendalam. Malah di beberapa negara ada penjamin bagi karyawannya. Siapa yang bisa jadi penjamin? Mungkin dosennya. Dosennya ini yang memberikan referensi seperti apa perilaku orang yang jadi pegawai itu. Bukan katebelece lho ya, tapi ini bagian penyaringan yang ketat.

Lalu ketika sudah bekerja, dilihat juga lifestyle-nya. Kan bisa dilihat pegawai dari jenjang apa, gaji berapa, latar belakang keluarga, lalu ketika tiba-tiba memiliki mobil mewah bisa juga ini dilihat kerjanya seperti apa? Adakah pelanggaran? Lystele terkadang bisa menjadi acuan. Ini hanya untuk kewaspadaan.

Kalau pengawasan dalam lemah, kejahatan perbankan bisa terjadi. Bagaimana pun, adat profesional harus dipegang. Karena private banking, pegawai dan nasabah menjadi sangat profesional, jangan lantas pegawai dilepas begitu saja menangani nasabah prioritas. Kejahatan perbankan itu rentan terjadi. Selama ini kan pihak bank hati-hati, terkait manajemen risiko, mewaspadai calon nasabah yang tidak mengembalikan dana pinjaman. Lho sekarang kok malah pegawai banknya yang jahat. Kalau nasabah diwaspadai, pegawainya sendiri juga harus diwaspadai dong.

Ada pegawai bank yang mendapatkan otorisasi dari nasabah untuk menarik dana? Bisakah diberi kepercayaan seperti itu?

Karena hubungan personal dekat, bisa saja. Yang saya baca, ada blanko kosong yang ditandatangani nasabah yang dipegang pegawai bank. Seharusnya siapa pun tidak boleh mempercayakan blanco kosong. Kalau terjadi begini, maka ada keteledoran dari nasabah. Kalau berani tanda tangan di blanko kosong, perlu di dalami apakah pegawai bank itu menipu, dengan mengatakan ‘silakan tanda tangan di sini, kalau tidak nanti tidak bisa diproses’ makanya nasabah menurut atau seperti apa. Kalau itu yang terjadi, maka penipuan terjadi. Dengan mengiming-imingi nasabah untuk membubuhkan tanda tangan.

Ini menjadi tantangan untuk polisi agar memperlihatkan BAP yang cermat dan cerdas, karena banyak sekali modus dalam kejahatan perbankan. Terkait Malinda, dia ini kan bukan dintop level, artinya dia punya atasan. Dia berada di bawah pengawasan yang lain.

Meskipun dia menangani private banking, tapi jangan dilepas begitu saja dari pengawasan. Saya sebenarnya menyarankan penghapusan private banking. Tapi BI kan sudah menyatakan tidak akan serta merta menghapus. Saya sarankan untuk dihapus karena ini terlalu personal dan risiko bank dalam menanggung terlalu tinggi, apalagi kalau ada pegawai yang main-main. Kalau memang mempertahankan private banking, maka pemeriksaan dan pengawasannya terhadap pekerja juga harus baik dan ketat.

Dengan private banking itu kan jual jasa, di mana nasabah tidak usah datang. kalaupun datang ke bank maka dapat tempat private. Tadinya untuk kenyamanan nasabah, tapi malah pegawai bank melakukakn kejahatan. Pengawasan harus berlipat, kalau mau bisnis benar dan bagus.

Mengapa ada otorisasi yang diberikan nasabah untuk menarik dana kepada pegawai bank? Ini diketahui bank yang bersangkutan tidak?

Mungkin tahu, tapi mungkin juga pegawai banknya memalsu. Kalau tidak tahu berarti kecolongan. Kalau ada penarikan atau pemindahan rekening seharusnya ada kroscek kepada nasabah yang bersangkutan. Justru salah kalau tidak mau diketahui ada transaksi. Ini malah melangar hukum kalau nanti tiba-tiba uangnya hilang.

Terkadang seseorang jadi korban karena memberikan peluang. Blanko kosong kok ditandatangani. Ini provocated system by fraud atau diketahui. Harus dicek. Mau mengecek yang seperti ini gampang kok, tinggal panggil nasabahnya. Harus jeli ke depannya.

Modus-modus seperti ini harus disampaikan ke bank yang lain dan juga ke nasabah. Agar semuanya jadi lebih waspada.

Menurut Anda ada hubungan tidak koleksi mobil mewah Malinda dengan aksinya?

Bisa saja. Dengan lifestyle itu membuat nasabah tertipu atau jadi gampang masuk ke komunitas tertentu. Tapi polisi harus dalami juga beli mobilnya dari mana.

Agar nasabah percaya pada bank, apa yang harus dilakukan?

Bank harus gerak, memberikan garansi, memastikan adanya pengawasan ketat. Tidak mudah mengembalikan kepercayaan. Selain itu juga jangan ada yang ditutup-tutupi. Jangan saling menyembunyikan, apa sih yang disembunyikan, yang lihat juga banyak kok. Kalau menutup-nutupi malah menjadikan orang-orang curiga. Harus ada perhatian khusus. Harus kerja keras mengembalikan kepercayaan.

Bank harus memperbaiki pengawasannya agar ada early warning terhadap kejahatan perbankan yang mungkin dilakukan pegawainya.

Ada informasi, aturan di Citibank bagi karyawannya sangat ketat?

Sistemnhya ketat tapi dijalankan tidak? Kalau tidak dilakukan sama saja. Kok bisa tidak tahu ada karyawan yang melakukan penggelapan? Kalau tahu tapi diam saja, tentunya akan kena pidana.

Pun dalam praktik private banking. Priority customer yang akan memasukkan dana di atas Rp 500 juta harus dilaporkan ke PPATK. Bank harus tahu dari mana dana ini dan sebagainya untuk menghindari pencucian uang.

Atau mungkin begini, sudah lapor ada transaski 5 miliar tapi tidak tampak ada masalah. Kalau ini yang terjadi, bisa jadi ini ada fraud-nya, ada pemalsuan dokumen atau apa yang perlu pendalaman polisi.

Kalau memang sejak awal tahu ada pencucian uang, saat bank diperiksa jangan katakan tidak bisa membuka data nasabah lantaran itu rahasia bank. Kalau ada dugaan pencucian uang harus dibuka.

Dr Yenti Garnasih: Pegawai Rendah Hingga Tinggi Bisa Terlibat Kejahatan Perbankan
(nvt/van)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s