caddev @200M 2b … 030311

Makna Kenaikan Cadangan Devisa dan Perbaikan Peringkat
Kamis, 3 Maret 2011 – 08:53 wib

CADANGAN devisa Indonesia terus menggemuk. Bank Indonesia (BI) mengungkapkan cadangan devisa RI kembali menggelembung hingga menyentuh USD100 miliar.Angka tersebut disumbang dari penerimaan minyak dan gas sebagai bagian dari penerimaan pemerintah.

Kenaikan harga minyak dunia ternyata tidak memberikan efek negatif bagi perekonomian Indonesia. Kenaikan harga minyak dunia justru menyebabkan penerimaan minyak dan gas cukup besar sehingga cadangan devisa terus bertambah. Meski demikian,terdapat dampak negatif pada inflasi dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang tidak disubsidi.Pada akhir Desember 2010 cadangan devisa tercatat sebesar USD96,207 miliar.Kemudian turun tipis di Januari 2011 menjadi sebesar USD95,3 miliar.

Pada pekan ketiga Februari 2011,cadangan devisa RI kembali meningkat menjadi USD97 miliar. Lebih jauh,menggelembungnya pundi-pundi cadangan devisa menjadi salah satu sentimen positif bagi lembaga pemeringkat internasional untuk menaikkan peringkat Indonesia menuju investment grade.Bermula dari Fitch yang menaikkan outlook peringkat utang Indonesia atau longterm foreign and local currency issuer default ratings (IDRs) pada rating ‘BB+’ dan merevisi outlook keduanya menjadi positif dari stabil pada 24 Februari 2011.

Tentu saja perbaikan peringkat tersebut disambut gembira meskipun itu baru outlook-nya.Namun biasanya upgradepada outlookakan segera dilanjutkan dengan rating-nya menuju investment grade.Banyak kalangan optimistis Indonesia dapat menuju investment gradedalam waktu dekat,apalagi cadangan devisa telah menyentuh angka USD100 miliar. Yang pasti,angka tersebut menunjukkan nilai tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Berikut ini posisi cadangan devisa selama 2010.Pada 31 Januari 2010 baru mencapai USD70 miliar dan terus bertambah secara konsisten pada 30 Juni 2010 menjadi USD76,3 miliar hingga pada akhirnya pada 31 Desember 2010 bertambah lagi menjadi USD 96,2 miliar.Memasuki 2011,cadangan devisa masih melanjutkan peningkatan di mana pada 22 Februari 2011 mencapai USD97 miliar.

Perspektif Positif

Perbaikan peringkat,yang salah satunya didorong lonjakan cadangan devisa, memberikan perspektif positif bahwa prospek ekonomi Indonesia ke depan cukup menjanjikan.Hal ini berpeluang menarik sebesar- besarnya modal asing,baik ke sektor riil maupun ke sektor keuangan. Yang diharapkan tentu masuknya modal asing ke sektor riil karena akan memberikan dampak positif bagi perekonomian secara luas.

Masuknya modal asing ke sektor riil akan memperkuat stabilitas ekonomi dan moneter karena sifatnya jangka panjang. Sebaliknya,masuknya modal asing ke investasi portofolio di sektor keuangan,terutama di pasar modal,berpotensi menimbulkan instabilitas ekonomi dan moneter apabila sewaktu-waktu modal asing itu ditarik ke luar oleh pemiliknya. Pemicu larinya modal asing di antaranya iklim investasi yang tidak kondusif, ketidakstabilan sosial politik,ketidakpastian hukum,dan yang paling ekstrem terjadi aksi sosial seperti unjuk rasa yang mengarah ke tindakan anarkis.

Dengan spirit pemerintah untuk mendorong partisipasi swasta nasional dan asing dalam pembangunan ekonomi, peluang perbaikan peringkat harus dapat diterjemahkan dengan baik oleh jajaran pemerintah untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan birokrasi. Tujuannya agar pemilik modal asing yang akan masuk merasa nyaman (feel at home). Momentum kebangkitan ekonomi kawasan Asia,termasuk Indonesia,belakangan ini menjadi perangsang bagi pemilik modal asing untuk menanamkan modalnya di kawasan ini.

Ketika pemulihan ekonomi di kawasan Eropa dan Amerika belum sepenuhnya memenuhi harapan para pemilik modal atau investor,mereka cenderung akan melirik kawasan Asia sebagai destinasi yang atraktif untuk penanaman modal. Ketersediaan sumber daya alam baik di sektor pertanian maupun pertambangan memberikan daya tarik lebih bagi kalangan investor asing.Hal ini ditunjang oleh ketersediaan tenaga kerja yang mencukupi.

Kalaupun masih ada sedikit kelemahan,itu pun masih di seputar ketersediaan infrastruktur yang belum memadai. Namun dengan tekad pemerintah untuk memperbaiki sarana dan prasarana fisik di berbagai daerah,tentu ini memberikan daya ketertarikan yang lebih bagi investor asing. Pemerintah juga masih harus membenahi sarana kelistrikan dan telekomunikasi sebagai bagian yang integral dari program pembangunan infrastruktur.

Perbaikan infrastruktur pada gilirannya akan mendongkrak daya saing Indonesia sehingga makin menaikkan peringkat sekaligus mempermulus harapan memperoleh predikat investment grade. Perbaikan peringkat memang patut disyukuri,tapi lebih dari itu menjaga agar peringkat itu tidak jatuh lagi adalah persoalan yang jauh lebih penting.Ibarat sebuah pentas kejuaraan,merebut piala kejuaraan terasa lebih mudah dibandingkan dengan mempertahankan piala kejuaraan. (*)

RYAN KIRYANTO
Chief Economist BNI

(Koran SI/Koran SI/wdi)
Memacu Sumber Utama Pengerek Cadangan Devisa
Oleh Arif Setiawan | Rabu, 2 Maret 2011 | 10:22

Dalam sebuah rilis yang dikeluarkan Jumat (25/2) lalu, Bank Indonesia melaporkan cadangan devisanya telah mencapai angka sekitar US$ 100 miliar saat ini. Pada akhir 2011, cadangan devisa kita diperkirakan menembus US$ 120 miliar. Ini sinyal bagus bagi perekonomian, tapi sekaligus menyimpan pekerjaan rumah yang masih harus dibenahi.

Namun, ada hal yang cukup menarik untuk diketahui, yakni mengapa cadangan devisa Indonesia terus naik dalam beberapa tahun terakhir ini? Apa yang hebat dari perekonomian Indonesia sehingga cadangan devisanya terus terdongkrak?

Untuk mengetahui sumber-sumber yang menggerakkan cadangan devisi, kita perlu mencermati neraca pembayaran Indonesia (NPI) yang merangkum transaksi domestik dengan negara- negara lain (rest of the world).

Data NPI menunjukkan, sepanjang 2010 tambahan devisa ternyata 80% lebih dari surplus di capital/financial account, sedangkan sisanya berasal dari surplus transaksi perdagangan dan transfer. Data tahun-tahun sebelumnya juga menunjukkan bahwa sumber devisa, terutama berasal dari surplus di capital/financial account.

Jadi, dilihat dari sumbernya maka devisa Indonesia didominasi arus modal yang mengalir deras masuk ke sini. Dari modal yang masuk tersebut separuh di antaranya berasal dari investasi portofolio, menyusul investasi langsung dan lainnya.

Investasi Portofolio Asing
Fakta tersebut berbeda sekali dengan Tiongkok yang cadangan devisanya sebagian besar bersumber dari surplus neraca perdagangan. Negara jiran Malaysia, yang pada 2007 cadangan devisanya sudah mencapai level seperti Indonesia sekarang, juga memiliki sumber utama dari surplus neraca perdagangan.

Sampai di sini terlihat jelas bahwa sebenarnya pencapaian devisa bukan dari peningkatan level daya saing bangsa ini dalam menghasilkan barang dan jasa. Terdongkraknya cadangan devisa terjadi karena tambahan modal masuk yang ternyata didominasi investasi portofolio asing (hot money).

Dari sudut stabilitas, dominasi hot money berpotensi menimbulkan kerawanan karena investasi ini sangat mudah untuk kembali mengalir keluar secara tiba-tiba (sudden rever reversal).

Pada 2008, misalnya, neraca pembayaran menunjukkan angka defisit karena memang terjadi flight to quality. Tahun 2009, hal yang sama juga terjadi menyusul penurunan portofolio asing akibat krisis Eropa.

Jadi, faktor eksternal yang berada di luar kendali otoritas fiskal dan moneter Indonesia akan sangat memengaruhi cadangan devisa yang membuat ekonomi sedikit rentan.

Tentu saja ada pandangan yang optimistis bahwa derasnya arus modal asing masuk ke Indonesia memperlihatkan bahwa perekonomian negeri kita semakin dipercaya pihak luar. Pengelolaan ekonomi yang menunjang stabilitas, pertumbuhan perekonomian, dan perbaikan iklim investasi, membuat investor merasa aman dan ingin menanamkan dana di Indonesia.

Tapi juga tetap harus diingat bahwa investasi bentuk ini suatu saat akan mengalir kembali keluar, setidaknya dari transaksi pembayaran bunga atau profit yang akan memengaruhi neraca berjalan. Karena itulah dibuatkan kebijakan untuk menjaga agar dana-dana yang masuk ke Indonesia bisa betah berlama-lama, yakni dengan imingiming suku bunga yang tinggi. Namun, ini akan membebani neraca penguasa fiskal dan moneter.

Risiko sudden reversal mungkin dapat diturunkan dengan mempertahankan manajemen pengelolaan ekonomi yang baik. Tapi ini juga tidak mudah karena pergantian rezim pemerintahan kerap disertai perubahan kebijakan. Tekanan untuk menerapkan kebijakan yang populis misalnya dapat mendorong pengelolaan ekonomi yang tidak prudent. Kabar gembiranya memang pelaku pasar confident dengan prospek pengelolaan ekonomi ke depan seperti terlihat dari naiknya sovereign rating.

Untuk menghindarkan kerawanan maka ke depan surplus di neraca perdagangan harus terus ditingkatkan dan menjadi sumber utama devisa. Apalagi melihat surplus perdagangan yang terjadi saat ini masih lebih mengandalkan komoditas sumber daya alam yakni minyak sawit dan batubara yang harganya di pasar dunia fluktuatif.

Sumbangan dari sektor manufaktur terbukti masih minim. Namun, terdapat hal positif yang bisa menjadi catatan seperti kenaikan ekspor alat elektronik. Kenaikan ini ternyata didorong oleh investasi langsung beberapa pabrikan asing terkemuka yang menjadikan Indonesia sebagai basis produksinya. Jadi, investasi langsung seperti inilah yang terbukti lebih kuat bertahan (tidak mudah keluar) dan menjadi penyumbang devisa yang sangat berarti.

Dorong Investasi Langsung
Lalu bagaimana dengan investasi portofolio kita? Apakah kita perlu mengambil kebijakan pembatasan? Beberapa negara melakukan hal tersebut dengan penerapan pajak. Jika Indonesia hendak meniru langkah tersebut, hal yang perlu dilakukan adalah studi secara cermat agar tidak menimbulkan dampak yang justru negatif terhadap perekonomian.

Dominasi investasi portofolio yang menjadi sumber utama devisa menunjukkan bahwa jika portofolio menurun cadangan devisa pun akan menurun juga. Di sisi lain, pembatasan investasi portofolio asing juga berhadapan dengan kenyataan bahwa pemerintah juga memerlukan pembiayaan dari penjualan surat berharga yang sebagiannya dibeli oleh asing.

Makanya, pilihan yang paling baik tentulah bagaimana meningkatkan surplus perdagangan dan investasi langsung. Dalam hal ini, negara tentu saja harus menciptakan kondisi yang membuat para investor mau menjadikan Indonesia sebagai basis produksinya. Kondisi tersebut adalah tersedianya infrastruktur yang baik, biaya logistik yang murah, ketersediaan tenaga kerja berkualitas, kepastian hukum, dan terjaganya stabilitas politik- keamanan.

Penulis adalah dosen ekonomi Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

BI Rate Tetap 6,75%
Jumat, 4 Maret 2011 | 13:39

JAKARTA – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia hari ini (Jumat, 4/3) memutuskan untuk sementara ini mempertahankan BI Rate sebesar 6,75%. Keputusan ini tidak mengubah arah kebijakan moneter Bank Indonesia yang cenderung ketat sebagai upaya untuk pengendalian tekanan inflasi yang masih tinggi.

Bank Indonesia dalam siaran pers yang ditandatangani Kepala Biro Direktorat Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat, Difi A Johansyah juga menyebutkan, akan terus mewaspadai perkembangan inflasi ke depan dan menyesuaikan tingkat BI Rate secara terukur pada waktunya.

Upaya pengendalian inflasi, khususnya tekanan imported inflation dari kenaikan komoditas internasional, juga diperkuat dengan terbukanya ruang penguatan nilai tukar rupiah lebih lanjut sejalan dengan membaiknya fundamental ekonomi global. “Di samping itu, langkah pengendalian likuiditas melalui penerapan kebijakan makroprudensial dan operasi moneter juga terus diperkuat dengan tetap memperhatikan kebutuhan likuiditas perbankan yang sehat, termasuk dengan mulai berlakunya ketentuan GWM LDR dan GWM Valas per 1 Maret 2011,” ujarnya.

Melalui bauran kebijakan moneter dan makroprudensial tersebut, serta komitmen Pemerintah yang kuat untuk mengatasi tingginya harga komoditas pangan, Difi mengatakan, Bank Indonesia meyakini inflasi IHK dapat dijaga pada sasarannya yakni 5%±1% untuk 2011 dan 4,5%±1% di 2012.

“Rapat Dewan Gubernur berpandangan prospek ekonomi dunia terus membaik, namun dibayangi oleh tekanan inflasi yang meningkat sejalan dengan tingginya harga minyak dan komoditas pangan dunia,” ujarnya.

Namun, tekanan inflasi yang semakin tinggi tidak hanya dihadapi negara emerging market (EM) tapi juga dihadapi negara maju. Menghadapi tekanan inflasi yang meningkat tersebut, pengetatan kebijakan moneter tidak hanya terjadi di negara-negara EM tetapi juga mulai diikuti oleh negara-negara maju.

Prospek ekonomi global yang membaik tersebut, jelas Difi, berdampak positif terhadap perekonomian domestik, terutama melalui jalur ekspor yang akhir-akhir ini meningkat. Demikian juga halnya dengan impor yang meningkat didorong oleh masih kuatnya permintaan domestik dan eksternal. (tk)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s