Rupiah menerima imba$nyA … 220211

Netto Negatif, Segera Reschedulling Utang!

Oleh: Ahmad Munjin
Ekonomi – Selasa, 22 Februari 2011 | 09:51 WIB
INILAH.COM, Jakarta – Saking besarnya, utang RI sudah ‘netto negatif’ sejak 9 tahun terakhir. Cicilan pokok dan bunga utang, jauh lebih besar dibandingkan utang baru sehingga menjadi beban perekonomian.

Ahmad Deni Daruri, Presiden Direktur Center for Banking Crisis (CBC) meminta Badan Pengawas Keuangan (BPK) mengaudit efektivitas penggunaan utang baik luar negeri maupun dalam negeri. Sebab, utang RI mengalami kenaikan sangat pesat mencapai Rp17,13 triliun selama Januari ke level Rp1.695,34 triliun.

Selain itu, imbuhnya, dilihat dari fakta APBN, utang RI sangat tidak efektif dalam pembiyaan perekonomian karena sudah mengalami utang ‘netto negatif’ (utang baru lebih kecil dibandingkan cicilan utangnya).

“Karena itu, BPK harus mengaudit terlebih dahulu agar jelas pemanfaatan utang tersebut, nilai utang, dan pengelolaannya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, kemarin.

Ditjen Pengelolaan Utang Kemenkeu merilis, total utang pemerintah Indonesia selama Januari 2011 saja tercatat Rp1.695,34 triliun, bertambah Rp17,13 triliun dibandingkan akhir 2010 Rp1.678,21 triliun. Utang tersebut terdiri dari pinjaman US$68,57 miliar dan surat berharga US$118,61 miliar. Sementara itu, rasio utang pemerintah terhadap PDB hingga Januari 2011 sama dengan akhir 2010 yaitu sebesar 26%.

Deni menegaskan, utang Indonesia sudah tak lagi efektif untuk pembiayaan ekonomi. Kondisi itu menurutnya, bisa dipicu penyimpangan dalam penggunaan utang, kelebihan utang atau bisa jadi asal meminjam tanpa mempertimbangkan penggunaannya. “Bisa juga mengajukan kredit tapi tidak digunakan,” ungkapnya.

Semua itu, dia menegaskan, harus diaudit BPK. Kalau perlu DPR membentuk angket utang dengan dasar, utang RI yang berada di posisi netto negatif. Di sisi lain, pemerintah juga harus berusaha agar utang netto negatif jadi utang netto positif. “Salah satu caranya, dengan reschedulling (menjadwal ulang) cicilan utang jangka pendek menjadi jangka panjang,” paparnya.

Dihubungi terpisah, Ketua Koalisi Anti Utang (KAU) Dani Setiawan mengatakan, pengelolaan utang RI tidak mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Sebesar 20% beban anggaran RI digunakan untuk membayar cicilon pokok dan bunga baik utang dalam dan luar negeri.

Pembayaran cicilan pokok dan bunga utang di 2011 mencapai Rp247 triliun atau naik Rp10 triliun dari 2010 sebesar Rp237 triliun. Sementara itu, penerimaan utang baru 2011 hanya mencapai Rp184 triliun. Rinciannya, Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp126 triliun dan utang luar negeri sebesar Rp58 triliun.

Karena itu, Dani menegaskan, penerimaan utang dan cicilan utang sudah tidak lagi seimbang. Akibatnya, seluruh kinerja produksi nasional seperti pembayaran pajak, penghasilan ekspor, penerimaan dari sumber daya alam dan lain-lain diutamakan untuk pembayaran utang. “Masalah ini, tidak mengalami perubahan dan tidak pernah dipermasalahkan,” tukas Dani.

Yang selalu jadi ‘beban sial’ adalah alokasi anggaran yang lain seperti subsidi, pendidikan, kesehatan, biaya untuk insentif sektor industri dan lain-lain. Padahal, beban tersebut merupakan kewajiban negara (state obligation) “Semua itu dikorbankan untuk mencicil utang,” timpalnya.

Seharusnya, lanjut Dani, pemerintah menghentikan pembayaran utang yang sangat besar itu. Lihat saja, cadangan devisa RI mencapai US$95 miliar sedangkan pembayaran utang luar negeri baik pemerintah maupun swasta mencapai US$40-an miliar atau hampir setengahnya dari cadangan devisa per tahun.

“Jadi, dana yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat seperti pembangunan infrastruktur sangat minim. Padahal itu menjadi hak-hak dasar masyarakat,” imbuh Dani. [mdr]

Rupiah Lari Kencang
JUM’AT, 18 FEBRUARI 2011 | 11:48 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Pacsa Bank Indonesia menaikkan suku bunga patokan BI Rate dalam Rapat Dewan Gubernur 4 Februari lalu, nilai tukar rupiah terus berlari kencang. Mata uang lokal berhasil menembus dibawah level 9 ribu per dolar Amerika Serikat (AS) begitu BI Rate naik 25 basis poin menjadi 6,75 persen.

Pada transaksi Kamis lalu, nilai tukar rupiah kembali menguat dan ditutup di level 8.886 per dolar AS. Rupiah hingga pukul 9:01 WIB kembali menguat ke level 8.866 per dolar AS

Nilai tersebut menguat 20 poin dari penutupan kemarin mengikuti apresiasi mata uang Asia pagi ini. Ini merupakan level terkuat sejak 5 Juni 2007.

Analis ekonomi dari PT Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih mengungkapkan Hari ini rupiah masih berpeluang menguat dengan kisaran antara 8.870 hingga 8.880 per dolar AS. “Tren rupiah masih menguat,” kata Lana, hari ini.

Terapresianya mata uang Asia terhadap dolar AS dan naiknya harga saham di bursa domestik mampu menopang pergerakan mata uang lokal. Selisih suku bunga rupiah dengan dolar AS yang makin lebar membuat berinvestasi dalam mata uang rupiah semakin menarik bagi para pemodal asing. Masuknya aliran dana asing ke bursa saham dan pasar obligasi terus memicu apresiasi mata uang lokal menjauh meninggalkan level 9 ribu per dolar AS.

Bank sentral (BI) yang seperti membiarkan rupiah berlari kencang juga turut menopang penguatan mata uang lokal ke level terkuatnya lebih dari tiga setengah tahun terakhir.

Kenaikan harga minyak diatas US$ 86 per barel dan apresiasi dolar AS terhadap mata uang dunia yang cenderung tertahan masih memberikan sentiment positif bagi penguatan bagi rupiah dan mata uang Asia lainnya.

VIVA B. KUSNANDAR
Inflasi Inti AS Angkat Rupiah ke 8.870

Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Jumat, 18 Februari 2011 | 16:53 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (18/2) ditutup menguat 15 poin (0,16%) jadi 8.870/8.875 per dolar AS dari posisi kemarin 8.885/8.890.

Zulfirman Basir, periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures mengatakan, penguatan rupiah akhir pekan ini dipicu oleh rilis data inflasi AS yang naik pesat dalam 15 bulan. Core inflasi AS naik jadi 0,2% dari sebelumnya 0,1%.

Sedangkan headline inflation-nya, turun jadi 0,4% dari sebelumnya 0,5%. Kenaikan core inflasi menjadi tolak ukur The Fed untuk menarik stimulusnya. “Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah sempat menguat ke level 8.840 dan 8.875 sebagai level terlemahnya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (18/2).

Masalahnya, imbuh Firman, semalam, Gubernur The Fed Ben Bernanke menegaskan, pihaknya akan tetap menjalankan kebijakan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing)-nya hingga Juni 2011 dengan jumlah nominal yang sama US$600 miliar. “Karena itu, rupiah menguat karena pernyataan The Fed itu jadi tekanan bagi dolar AS,” ujarnya.

Tapi, setelah menguat hingga 8.840, mata uang RI ini kembali tertekan ke level penutupan 8.870 karena sentimen negatif dari Eropa. Sebab, permintaan perbankan terhadap dana overnight Bank Sentral Eropa (ECB) meningkat tertinggi dalam dua tahun. “Tapi, dibandingkan penutupan kemarin rupiah masih kuat,” tuturnya.

Menurutnya, jika perbankan lebih memilih meminjam dana ke bank sentral daripada antara bank, menandakan, bank-bank di Eropa mengalami kesulitan pendanaan. “Di sisi lain, Portugal dikabarkan akan mengajukan bailout di bulan April,” ucapnya.

Karena itu, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap mata uang gabungan negara-negara Eropa (euro). “Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke level US$1,3588 dari sebelumnya US$1,3601 per euro,” imbuh Firman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s