KR3D1+ the BLOODS … 140211

Bunga Kredit Kikis Daya Saing
Kamis, 10 Februari 2011 – 10:34 wib

PEMERINTAH kini dihantui bayang-bayang akan kenaikan suku bunga kredit perbankan pascakenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 25 basis poin ke level 6,75 persen awal Februari ini.

Bisa dibayangkan kerepotan yang bakal terjadi bila industri perbankan nasional tidak bisa menahan godaan untuk menyesuaikan suku bunga kredit terhadap kenaikan BI Rate, terutama dampak langsung terhadap daya saing industri di dalam negeri.

Tak heran bila Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo dan Menteri Perindustrian MS Hidayat dengan penuh harap mengimbau para bankir untuk menahan diri agar tidak mengutak-atik suku bunga kredit dulu demi membantu pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan sebesar 6,4 persen tahun ini.

Hidayat meyakini kenaikan suku bunga kredit pasti akan melemahkan geliat pertumbuhan daya saing industri nasional.

Keputusan BI menaikkan bunga acuan setelah lebih dari setahun bercokol di level 6,5 persen memang mengundang perdebatan tersendiri. Tetapi, bank sentral punya alasan kuat bahwa kebijakan menaikkan suku bunga acuan sebagai upaya meredam ekspektasi inflasi yang terus menunjukkan gejala penguatan.

Namun, harus diingat kebijakan BI tersebut tidak akan berpengaruh tanpa dibarengi kebijakan di sektor riil. Harus disadari pemicu laju inflasi belakangan ini lebih disebabkan oleh faktor nonmoneter.

Mulai dari harga pangan di pasar global yang terus menguat sehingga berpengaruh terhadap harga pangan di pasar domestik, kegagalan produksi pangan dalam negeri akibat perubahan cuaca yang ekstrem, dan tersumbatnya proses distribusi beberapa barang kebutuhan pokok akibat kondisi infrastruktur yang masih jelek. Tentu ke semuanya itu harus diobati dengan kebijakan nonmoneter.

Menggugat kenaikan BI Rate merupakan sebuah upaya mengada-ada. Saat ini tantangan para pengambil kebijakan di negeri ini adalah bagaimana menyinergiskan kebijakan moneter dan kebijakan nonmoneter dalam mengantisipasi laju inflasi yang cenderung naik terus.

Dan, untuk langkah jangka pendek bagaimana merangkul para bankir untuk tidak ikut-ikutan menyahuti kenaikan suku bunga acuan BI tersebut. Memang sejumlah bankir sudah menyatakan tak akan serta-merta merespons kenaikan BI Rate dalam waktu dekat, namun tidak ada jaminan bila suku bunga kredit bakal dinaikkan.

Semua bergantung seberapa besar pengaruh kenaikan suku bunga acuan bank sentral tersebut terhadap risiko bisnis perbankan.

Dan, setiap kenaikan BI Rate dampaknya baru akan terasa dalam tiga bulan mendatang. Berdasarkan data BI, tingkat spread bunga perbankan di Indonesia masih tercatat sangat tinggi dibandingkan industri perbankan di beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina.

Saat ini rata-rata suku bunga dasar kredit tercatat sebesar 11,84 persen dan rata-rata bunga deposito berada pada kisaran 6,4 persen.Jika suku bunga kredit perbankan digenjot lagi, dipastikan memicu penurunan daya saing industri karena harus membayar bunga kredit yang lebih tinggi.

Selain itu, kondisi perbankan nasional sepanjang 2010 juga menunjukkan kinerja yang cemerlang. Dilihat dari sisi kepemilikan aset telah melonjak mendekati Rp500 triliun, dari Rp2.534 triliun pada 2009 menjadi Rp3.008 triliun tahun lalu.

Sedangkan dana pihak ketiga juga mengalami peningkatan dari Rp1.948 triliun menjadi Rp2.338 triliun. Penyaluran kredit terdongkrak dari Rp1.470 triliun ke level Rp1.796 triliun. Dan, rasio kecukupan modal dalam kondisi terjaga.

Berdasarkan fakta tersebut, BI mengklaim industri perbankan nasional semakin solid dan cukup kuat menghadapi risiko. Kini bola ada di tangan para bankir, mampukah untuk tidak tergoda melakukan koreksi terhadap suku bunga kredit yang berlaku saat ini?

Kenaikan BI Rate kali ini hendaknya bisa dimaknai semua pihak sebagai langka antisipatif bank sentral untuk meredam ekspektasi arus inflasi yang cenderung terus bergerak naik.

Apalah artinya pertumbuhan ekonomi yang terus melambung, namun tidak diimbangi pengendalian tingkat inflasi. Sebuah pertumbuhan ekonomi yang semu belaka.(*) (Koran SI/Koran SI/ade)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s