ayo TUNDUKKAN inflasi, RUPIAH … 080211

Rupiah Rises to Strongest Level Since November After Indonesia’s GDP Data
By Khalid Qayum – Feb 8, 2011
Indonesia’s rupiah strengthened to the highest level in almost three months after the economy expanded at the fastest pace in six years last quarter. Government bonds advanced.

Gross domestic product increased 6.9 percent in the three months through December from a year earlier, the most since the quarter ended December 2004, the statistics bureau said yesterday. The currency has advanced 1.6 percent so far this month, the third-best performance among Asia’s 10 most-traded currencies, as exchange data show overseas funds bought $21 million more shares than they sold during the period.

“Investors are comfortable with the positive outlook on Indonesia’s economy,” said Wiwig Santoso, head of treasury and markets at PT Bank DBS Indonesia in Jakarta. “Funds seem to be flowing into the country.”

The rupiah rose 0.5 percent to 8,913 per dollar as of 3:15 p.m. in Jakarta, according to data compiled by Bloomberg. The currency touched 8,910, the strongest level since Nov. 12.

Bank Indonesia unexpectedly lifted its reference rate to 6.75 percent from a record-low 6.50 percent on Feb. 4, the first increase since October 2008, as inflation accelerated in January.

Consumer prices in Southeast Asia’s biggest economy rose 7.02 percent last month from a year earlier, after a 6.96 percent gain in December, Central Bureau of Statistics data showed Feb. 1.

Government bonds gained for a third consecutive day, with the yield on the 8.25 percent note due July 2021 dropping two basis points to 8.68 percent, according to midday prices by the Inter-Dealer Market Association. A basis point is 0.01 percentage point.

Overseas funds have increased their holdings of Indonesian government debt to 195 trillion rupiah ($21.7 billion) as of Feb. 1, from 191.2 trillion rupiah by the end of November, according to the finance ministry.
Senin, 07/02/2011 18:49 WIB
Pemerintah Kalah Lawan Inflasi di 2010
Ramdhania El Hida – detikFinance

Jakarta – Pemerintah kalah dalam menahan laju inflasi di 2010 lalu. Laju inflasi di 2010 lebih tinggi ketimbang pertumbuhan ekonomi yang dicapai.

Di 2010, inflasi jauh melesat dari target yaitu 6,96%. Padahal dalam target APBN-P 2010, inflasi dipatok 5% plus minus 1% dengan asumsi 5,3%. Sedangkan target pertumbuhan ekonomi melebihi target yang ditetapkan dalam APBN-P 2010 sebesar 5,8%, terealisasi sebesar 6,1%.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyatakan suatu hal yang bisa saja terjadi di mana tingkat inflasi melebihi realisasi pertumbuhan ekonomi.

“Jadi sebetulnya kalau sekarang ini pertumbuhan ekonomi sebesar 6,1% dan inflasi 6,96%, dan itu memang bisa terjadi. Dan kita lihat dari komponen daripada core inflation itu 4,18%, sedangkan selisihnya lebih pada volatile foods dan administered price,” ujar Agus saat ditemui di kantornya, Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin (7/2/2011).

Ke depannya, Agus menyatakan akan meningkatkan koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga inflasi inti dan harga yang bergejolak.

“Jadi tentu kita akan berkordinasi dengan lebih baik di pemerintah. BI akan fokus ke core inflation, pemerintah akan jaga administrated price-nya. Penyediaan pangan dan sumber-sumber kenaikan. Dan juga distribusi akan kita jaga,” kata dia.

Dengan demikian, lanjut Agus, pada tahun ini inflasi dapat terkendali sehingga tidak terjadi kenaikan inflasi yang meningkat seperti pada tahun lalu.

“Pembangunan sendiri selalu ada dampak inflasi. Jadi kita nanti di 2011 ini harus betul-betul bisa kerja lebih baik untuk kendalikan inflasi karena kita nggak ingin inflasi itu nanti akan menjadi tekanan kepada kehidupan masyarakat Indonesia. Kita perkuat dengan lakukan koordinasi lebih baik supaya tercapai. Kita nggak ingin kalah dengan tekanan inflasi itu. Walaupun kita tahu faktor luar negeri ada dan faktor dalam negeri terbatasnya suplai memenuhi,” ujarnya.

Namun, Agus enggan mengakui telah kebablasan menahan inflasi di 2010 lalu. Dia hanya menegaskan akan melakukan yang lebih baik lagi di 2011 ini.

“Kita akan bikin supaya lebih baik,” tandasnya.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan pertumbuhan paling ideal adalah pertumbuhan tanpa inflasi. Namun, hal tersebut merupakan suatu yang sulit terjadi pada negara berkembang.

“Yang ideal adalah non inflationary growth. Artinya pertumbuhan tanpa inflasi itu yang paling ideal. Tetapi dalam ekonomi yang riil itu tidak mungkin, apa lagi kalau ekonominya masih level emerging,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Bambang menilai pertumbuhan tanpa inflasi tersebut sulit tercapai di negara berkembang. Pasalnya, sistem di negara maju berbeda dengan negara berkembang

“Nah kita kan bukan bukan negara ekonomi maju. Kalau ekonomi maju misalnya pertumbuhan ekonominya agak tinggi karena semuanya sudah stabil, sudah mapan system ekonominya, inflasinya mungkin naiknya cuma nol koma sekian persen,” kata Bambang.

Oleh karena itu, Bambang menyatakan suatu hal yang wajar jika terjadi overheating di negara berkembang, di mana pertumbuhan sama dengan atau melebihi inflasi.

“Tapi di emerging, anda lihat China, anda lihat Vietnam, Brazil, India. Pertumbuhan tinggi, inflasi ikut tinggi. Karena itu kan negara-negara yang sedang berkembang. Sedang semangat meningkatkan sesuatu, tetapi dari sisi suplai, dari sisi logistik, sistemnya belum semapan di negara maju. Sehingga wajar kalau terjadi overheating istilahnya. Jadi kalau inflasinya sama dengan pertumbuhan atau lebih tinggi, ya itu overheating,” kata Bambang.

(nia/dnl)

BI Rate dan PDB RI Perkuat Rupiah
Headline

Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Selasa, 8 Februari 2011 | 06:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (8/2) diprediksi konsolidasi cenderung menguat. Kenaikan BI rate dan rilis PDB RI 2010 di level 6,1% jadi katalisnya.

Zulfirman Basir, periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures mengatakan, peluang konsolidasinya rupiah dengan kecenderungan menguat hari ini masih dipicu oleh kombinasi sentimen dari kenaikan BI rate ke level 6,75% dan rilis data pertumbuhan RI. Menurutnya, walaupun kenaikannya suku bunga acuan relatif kecil, tapi diyakini pasar bisa meredam inflasi.

Kondisi itu, akan mendorong investor asing untuk kembali masuk ke Indonesia. “Rupiah akan konsolidasi cenderung menguat dalam kisaran 8.920-8.950 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.

Penguatan rupiah juga didukung oleh Produk Domestik Bruto (PDB) RI 2010 yang angkanya sangat positif mencapai 6,1%, lebih tinggi dari target pemerintah 5,8% yang menjadi sentimen cukup positif.

“Tapi, karena penguatan rupiah dalam dua hari terakhir telalu tajam, akan terjadi profit taking di level 8.920 per dolar AS. Karena itu, rupiah konsolidasi cenderung menguat,” paparnya.

Zulfirman menegaskan, BI rate dan pertumbuhan, sangat berpengaruh positif bagi investor jangka panjang dalam 1-3 bulan ke depan. “Jadi, saya pikir, dana asing akan cepat kembali masuk ke Indonesia, sebab aset-aseat investasi RI masih memberikan yield yang terbaik,” imbuhnya.

Di lain pihak, selain menaikkan suku bunga akhir pekan lalu, Bank Indonesia juga mengindikasikan akan membiarkan pengautan rupaih lebih lanjut agar inflasi terkendali.

Jadi, BI ingin rupiah menguat untuk mempercepat penurunan inflasi. “Mungkin kita tidak akan melihat lagi intervensi BI di pasar untuk menghalagi penguatan rupiah hingga level 8.900 ditembus ke bawah,” imbuh Zulfirman.

Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (7/6) ditutup menguat tajam 40 poin (0,44%) jadi 8.948/8.958 per dolar AS. [mdr]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s