omdo MELULU … 030211

RI Siapkan Tiga Langkah Hadapi Sudden Reversal
Oleh Wahyu Sudoyo | Selasa, 1 Februari 2011 | 14:31
investor daily
JAKARTA- Pemerintah memiliki beberapa persiapan baik terkait pengelolaan arus modal masuk maupun antisipasi keluarnya modal secara mendadak (sudden reversal). Persiapan tersebut sekaligus memberikan sinyal bahwa Indonesia serius mengembangkan perekonomian dan iklim investasi untuk menjaring investor asing.

“Kami mempunyai beberapa persiapan. Yang paling utama adalah kami memberikan pesan bahwa Indonesia serius dalam mengembangkan ekonomi, iklim investasi, termasuk iklim untuk pembangunan infrastruktur. Dana-dana yang masuk bisa menjadi lebih permanen dalam arti menjadi penanaman modal asing ataupun penanaman modal dalam negeri,” kata Menteri Keuangan (Menkeu) Agus DW Martowardojo, di Jakarta, Senin (31/1)

Menurut Menkeu, pihaknya setidaknya juga telah menyiapkan tiga langkah untuk mengantisipasi pembalikan arus modal secara mendadak (sudden reversal). Ketiga langkah itu adalah optimalisasi peran Bank Indonesia (BI) melalui penggunaan cadangan devisa, memperkuat peran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melalui pembelian kembali (buyback) surat utang negara, serta peningkatan peran dana stabilisasi obligasi (bond stabilization fund/BSF).

Menkeu menjelaskan, saat ini nilai cadangan devisa sudah mencapai US$ 96 miliar. Sebagaian cadangan devisa diyakini dapat digunakan untuk mengantisipasi terjadinya sudden reversal atas diskresi pengelolaan BI.

“Lima tahun lalu, kami punya cadangan devisa US$ 50 miliar, sekarang sudah mencapai US$ 96 miliar. Kalau, dari jumlah itu bisa digunakan US$ 20-30 miliar, itu kan sudah besar sekali,” jelas dia.

Terkait peran Kemenkeu dalam buyback surat utang negara, kata dia , hal itu dapat dilakukan menggunakan dana kas dari APBN . ” Jadi, kalau kami ingin membeli kembali surat utang, itu dimungkinkan,” imbuh dia.

Sedangkan, melalui BSF, kata dia, dana tersebut akan digunakan untuk menjaga agar neraca perdagangan nasional tetap baik sekaligus meminimalisir risiko pembalikan dana.

“Itu langkah-langkah yang sudah disiapkan, tapi yang utama, kami akan menjaga agar neraca perdagangan Indonesia (NPI) baik, fiskal sehat, sistem keuangan dan perbankan sehat, serta kondisi sektor riil semakin kompetitif,” jelas dia.

Tiga Level

Menkeu menambahkan, penyediaan dana stabilisasi obligasi bisa diterapkan dalam tiga level. Level pertama, badan atau lembaga di lingkungan pemerintah yang berperan untuk menyiapkan dana pembelian atau buyback obligasi. Level kedua, dana berasal dari selisih antara penerimaan dan pengeluaran negara. “Jadi, dananya berasal dari selisih antara penerimaan dan pengeluaran negara yang ada surplus-surplus bulanannya,” kata Agus.

Sedangkan, level tiga, BSF berasal dari dana sisa anggaran lebih (SAL). Namun, penerapan pendanaan BSF untuk level tiga tersebut harus mendapatkan persetujuan DPR.

Di sisi lain, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar menjelaskan, pihaknya telah berkomitmen untuk mendukung kebijakan stabilisasi obligasi. Pengalokasian dana BUMN sebesar 10% dari nilai total surat berharga negara yang berjumlah Rp 400 triliun, dinilai sudah cukup besar.

“Kami sudah berkomitmen untuk berjaga-jaga, pertama kan yang berperan BI, kedua Kemenkeu, yang ketiga dari BUMN (FSB),” jelas dia.

Sementara itu, dalam pertemuan ekonomi dunia di Davos, Swiss, juga mengemuka isu terkait upaya untuk mengurangi ketidakseimbangan global (global imbalances) terkait modal. Untuk itu, forum internasional tersebut berupaya mendorong agar negara-negara yang memiliki defisit atau surplus terlalu ekstrim, saling mendekat.

“Fokus Indonesia, saya kira adalah pengelolaan capital inflow. Ada beberapa negara yang mendapatkan capital inflow cukup besar, termasuk Indonesia. Jadi, kami perlu mengupayakan bagaimana mengelolanya dan memastikan kalau sampai ada sudden reversal siap untuk menghadapi,” jelas Menkeu.

Selain itu, Indonesia dinilai dapat menuai hasil memuaskan dari sisi sosial politik. Dalam pertemuan yang dihadiri pemuka bisnis dan pemerintahan tersebut, delegasi yang dipimpin langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, telah mendapat respons positif terkait peran Indonesia ke depan dan sebagai pemimpin Asean. (wyu)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s