bnii KEBUT laba, b:) … 020211

Bisnis Inti Menguat, BII Kembali Cetak Laba
Oleh Thomas E Harefa | Selasa, 1 Februari 2011 | 14:27
investor daily
JAKARTA – PT Bank Internasional Indonesia Tbk (Bank BII) membukukan laba bersih sebesar Rp 461 miliar pada akhir 2010. Laba tersebut meningkat signifikan dibandingkan rugi bersih perseroan senilai Rp 41 miliar yang dialami pada 2009. Kinerja tersebut didukung oleh pertumbuhan seluruh bisnis inti perseroan.

Presiden Direktur dan CEO BII Ridha Wirakusumah mengatakan, perbaikan yang berkelanjutan pada business operations juga mendukung realisasi perolehan laba Bank BII. Sepanjang 2010, perseroan agresif melakukan ekspansi cabang dan ATM dengan menambah 72 kantor baru di seluruh Indonesia.

“Tren pertumbuhan meningkat yang telah dicapai pada 2010. Ini merupakan hasil kerja keras sejak pertengahan tahun 2009, dalam memperbaiki basic fundamental dan membangun fondasi yang kuat,” kata dia dalam keterangan tertulis yang diterima Investor Daily, Senin (31/1).

Data kinerja perseroan menunjukkan, portofolio kredit BII per 31 Desember 2010 tumbuh 35% menjadi Rp 53,6 triliun dibandingkan 31 Desember 2009 senilai 39,6 triliun. Realisasi tersebut melampaui pertumbuhan industri sebesar 20%.

Total aset perseroan pada periode tersebut mencapai Rp 75,2 triliun, meningkat 23% dibandingkan 2009. Total penyisihan kerugian pada 2010 turun 29% menjadi Rp 1,23 triliun dibandingkan 2009 sebesar Rp 1,74 triliun. Sedangkan Provision coverage tetap pada 85,91%.

Kontribusi kredit terbesar berasal dari kenaikan kredit konsumer sebesar 45%. Sisanya pada kredit UKM, komersial, dan korporasi. Pertumbuhan kredit konsumer terutama didukung oleh kredit kendaraan bermotor sebesar 55,9%, kredit pemilikan rumah 28,9% dan kartu kredit 8,8%.

BII juga membukukan dana pihak ketiga (DPK) yang meningkat 26,5% menjadi Rp 59,9 triliun, dibandingkan dibandingkan 2009 senilai Rp 47,3 triliun. Loan to deposit ratio (LDR) perseroan mencapai 89,03%, naik dibandingkan 2009 yakni 82,93%. Rasio non performing loan (NPL) mencapai 1,74%, sedikit meningkat dibandingkan 2009 yakni 1,58%. Sedangkan rasio kecukupan modal (CAR) pada level 12,50%.

Pendapatan bunga bersih perseroan meningkat 19% (yoy) menjadi Rp 3,56 triliun, dibandingkan 2009 senilai Rp 2,99 triliun. Bank BII juga mempertahankan net interest margin pada level 5,89%, sedikit menurun dibandingkan 2009 yakni 6,10%. Fee based income meningkat 7% menjadi Rp 2,06 triliun dibandingkan 2009 senilai Rp 1,93 triliun. Fee based income di antaranya didukung oleh meningkatnya pendapatan jasa dari bisnis korporasi, transaksi tresuri, kartu kredit, trade finance, dan remittances.

Overhead Meningkat

Ridha menjelaskan, BII juga berhasil mengelola biaya sehingga overhead hanya meningkat sebesar 13%menjadi Rp 3,68 triliun. Cost to income BII pada 2010 membaik menjadi 65,44%. “Saya senang, BII telah memperkuat momentum pertumbuhan. Meskipun masih banyak yang harus kita capai untuk mewujudkan pertumbuhan bisnis yang lebih besar,” papar dia.

Maybank Chairman dan Presiden Komisaris BII Tan Sri Dato’ Megat Zaharuddin bin Megat Mohd Nor mengatakan, pihaknya mengapresiasi kinerja Bank BII. “Saya senang kerja keras untuk memperluas jaringan dan meningkatkan layanan kepada nasabah, telah mendukung pertumbuhan yang kuat,” ujar dia.

Tan Sri menambahkan, sinergi dengan Maybank Group telah meningkat melalui akuisisi terhadap perusahaan sekuritas Kim Eng. Sinergi bisnis antara BII dengan Maybank Group diyakini akan semakin meningkat.
PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII) berhasil meraup laba bersih sebesar Rp 461 miliar pada akhir 2010. Ridha Wirakusumah, Presiden Direktur dan CEO BII mengatakan kinerja BNII meningkat signifikan dari tahun sebelumnya yang sempat mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 41 miliar.

Pencapaian laba didukung oleh pertumbuhan kredit yang naik 35% menjadi Rp 53,6 triliun dari tahun lalu yang hanya Rp 39,6 triliun.

Kontribusi pertumbuhan kredit terbesar berasal dari kredit konsumer sebesar 45%, kredit UKM dan komersial 31%, kredit korporasi 29%. Dalam kredit konsumer, porsi kredit kendaraan bermotor paling besar yaitu 55,9%, kemudian kredit kepemilikan rumah (KPR) 28,9% dan kartu kredit 8,8%.

Sayang, meski kinerja secara umum naik, BNII belum mampu menekan rasio kredit macet atau non performing loan (NPL). Ridha membeberkan NPL net BNII pada periode tersebut naik jadi 1,74% dari yang sebelumnya 1,58%.

http://keuangan.kontan.co.id/v2/read/keuangan/57931/BII-mulai-bangkit-dari-kerugian

Sumber : KONTAN.CO.ID
Senin, 31/01/2011 20:57 WIB
Laba BII Naik 1.224%
Wahyu Daniel – detikFinance

Jakarta – PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) berhasil memperoleh laba bersih sebesar Rp 461 miliar di 2010, naik 1.224% dibandingkan 2009 yang mengalami rugi bersih Rp 41 miliar.

Presiden Direktur BII Ridha Wirakusumah mengatakan, pencapaian laba bersih ini didorong oleh peningkatan pendapatan bunga bersih perseroan sebesar 19%, dari Rp 2,997 triliun di 2009 menjadi Rp 3,568 triliun di 2010.

“Namun demikian, di tengah ketatnya persaingan pada industri perbankan dan acuan tingkat suku bunga Bank Indonesia yang tidak berubah selama 2010, BII masih dapat mempertahankan net interest margin pada level 5,89%, sedikit menurun dibandingkan 6,10% pada Desember 2009,” jelas Ridha dalam siaran pers, Senin (31/1/2011).

Perolehan fee based income BII pada 31 Desember 2010 meningkat 7% menjadi Rp 2,066 triliun dibandingkan Rp 1,937 triliun pada periode yang sama tahun lalu, terutama didukung oleh peningkatan pendapatan jasa dari bisnis korporasi, transaksi tresuri, kartu kredit, trade finance, remitansi, dan dari jasa perbankan lainnya.

BII berhasil mengelola biaya sehingga overhead hanya meningkat sebesar 13% dari Rp 3,257 triliun pada Desember 2009 menjadi Rp 3,687 triliun pada Desember 2010 meskipun BII secara agresif telah melakukan ekspansi cabang dan ATM selama 2010.

“Dalam satu tahun ini BII telah menambah 72 kantor baru di seluruh Indonesia terdiri dari kantor cabang induk, kantor cabang pembantu dan kantor kas. Cost to income BII pada 31 Desember 2010 membaik menjadi 65,44%,” jelas Ridha.

Portofolio kredit BII per 31 Desember 2010 tumbuh sebesar 35% dibandingkan akhir 2009, melampaui pertumbuhan industri sebesar 20%. Pertumbuhan kredit yang signifikan ini telah membawa total aset BII pada level Rp 75,2 triliun meningkat sebesar 23% dibandingkan 31 Desember 2009.

Total portofolio kredit BII mencapai Rp 53,6 triliun pada 31 Desember 2010 dibandingkan Rp 39,6 triliun pada periode tahun sebelumnya. Kontribusi pertumbuhan kredit terbesar berasal dari kenaikan kredit Konsumer sebesar 45% diikuti oleh UKM dan Komersial dan Korporasi masing-masing sebesar 31% dan 29%.

Pertumbuhan kredit Konsumer terutama didukung oleh kredit kendaraan bermotor sebesar 55,9%, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar 28,9%, dan Kartu Kredit 8,8%.

Jumlah simpanan nasabah meningkat 26,5% menjadi Rp 59,9 triliun per 31 Desember 2010, naik dari Rp 47,3 triliun yang tercatat pada 31 Desember 2009. Loan to deposit ratio (LDR) mencapai 89,03% per 31 Desember 2010, naik dari 82,93% pada periode tahun sebelumnya.

Rasio Kecukupan Modal (CAR) dengan memperhitungkan risiko kredit, pasar dan operasional pada level 12,5% jauh di atas ketentuan minimum Bank Indonesia sebesar 8%.

(dnl/dnl)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s