Rupiah diancam inflasi n kisruh Mesir … 310111

Krisis Mesir dan Inflasi Tekan Rupiah

Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Senin, 31 Januari 2011 | 17:08 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (31/1) ditutup melemah 20 poin (0,22%) jadi 9.043/9.053 per dolar AS dari posisi akhir pekan lalu 9.023/9.033.

Zulfirman Basir, periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures mengatakan, pelemahan rupiah hari ini salah satunya dipicu oleh faktor memanasnya situasi politik di Mesir. Menurutnya, sejak Jumat (28/1) pekan lalu, pasar khawatir ekspor global terganggu.

Pasalnya, lanjut Firman, Mesir merupakan penghubung antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez. Pasar khawatir suplai minyak akan terganggu. Begitu juga dengan ekspor-impor dari Asia ke Eropa maupun sebaliknya. Rupiah pun dibuka langsung melemah hari ini. “Bahkan, sepanjang perdagangan rupiah sempat melemah ke level 9.059 dan 9.040 sebagai level terkuatnya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (31/1).

Pelemahan rupiah juga dipicu kekhawatiran pasar terhadap infalsi RI yang akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik, Selasa (1/2) besok. “Di dalam negeri, inflasi juga masih jadi kecemasan investor,” ujarnya.

Menurutnya, inflasi Januari ini diperkirakan tinggi seiring tingginya tren harga komoditas dan pangan di dalam negeri. “Jika inflasi terus naik dan BI tidak ingin menaikkan suku bunga acuan (BI rate), return untuk investor asing jadi berkurang baik di pasar obligasi maupun di aset keuangan yang lain. Mereka akan keluar terlebih dahulu untuk sementara sehingga rupaih tertekan,” paparnya.

Hanya saja, lanjut Firman, rupiah mendapat sentimen positif dari penguatan euro jelang pertemuan European Central Bank (ECB), pada Kamis (3/2) pekan ini. “Hal ini didukung oleh positifnya beberapa data ekonomi Eropa dan kenaikan inflasi Eurozone,” ungkapnya.

Apalagi pekan lalu, lanjut Firman, Gubernur ECB Jean-Claude Trichet dan salah satu petinggi ECB Lorenzo Bini Smaghi menyatakan, ECB akan lebih dahulu menarik stimulus ekonominya dibandingkan Bank Sentral AS The Fed. “Karena itu, euro menguat dan investor juga tidak ingin euro melemah sebelum pertemuan ECB Kamis pekan ini,” timpalnya.

Sementara itu, dolar AS ditransakikan varitif terhadap mata uang utama. “Terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa) dolar AS ditransaksikan melemah ke level US$1,3635 dari sebelumnya US$1,3613 per euro,” imbuh Zulfirman. [hid]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s