RRedenominasi, inflasi, suku bunga … 2601111

REDENOMINASI BISA TURUNKAN INFLASI, BI Rate Senjata Terakhir
Selasa, 25 Januari 2011 | 9:11

JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution menegaskan, BI rate merupakan senjata pamungkas BI dalam meredam inflasi. Bank sentral akan menggunakan berbagai instrumen sebelum menaikkan suku bunga acuan itu.

“BI baru akan menaikkan BI rate jika kondisinya sudah amat mendesak,” ujar Darmin Nasution pada acara silaturahmi dengan pimpinan media massa di Jakarta, Senin (24/1).

Menurut Darmin, untuk menentukan BI rate naik atau tidak, BI terus melakukan kalibrasi terhadap segala aspek yang saling bertentangan agar kebijakan yang dikeluarkan tidak saling bertabrakan.

BI melihat ada empat factor yang perlu dicermati dalam menghadapi dinamika ekonomi saat ini. Pertama, menjaga kurs agar fluktuasinya tidak terlalu tajam. Kedua, menjaga inflasi sesuai target BI tahun ini, yaitu 5% plus-minus 1%.

Ketiga, menjaga agar arus dana asing masuk (capital inflow) tetap bertahan dan tidak terjadi penarikan tiba-tiba (sudden reversal). Keempat, mendorong pertumbuhan kredit perbankan agar target 24% tercapai. “Faktor-faktor tersebut akan kami jaga agar tetap seimbang dan tidak saling bertabrakan,” kata dia.

Dia mencontohkan, dana asing yang keluar secara masif akan menekan kurs rupiah terhadap dolar AS. Selanjutnya, pelemahan dolar yang terlalu tajam akan mendorong inflasi (imported inflation). “Sudden reversal biasanya tercermin pada tingginya penjualan kepemilikan asing pada surat utang negara (SUN). Itu akan membuat harga SUN jatuh dan yield-nya tinggi. Kami harus membuat keseimbangan-keseimbangan,” tuturnya.

Darmin mengungkapkan, kurs rupiah akan dijaga agar tidak menguat atau melemah terlalu tajam. “Kalau menguat terlalu tajam, tentu yang terkena dampaknya adalah eksportir. Tapi kurs melemah terlalu tajam juga bisa mengganggu inflasi,” tandas dia.

Mengenai kapan BI rate naik, kata Darmin, tergantung hasil kalibrasi. “Pada 5 Februari baru diputuskan karena masing-masing deputi memberikan assessment. Yang pasti, kami akan berupaya mengendalikan inflasi.

Tingginya inflasi saat ini memang bukan dipicu inflasi inti, melainkan akibat volatile food. Tapi inflasi harus dijaga agar tidak menimbulkan ekspektasi berlebihan yang bisa memengaruhi inflasi inti,” ucapnya.

Darmin Nasution juga mengungkapkan, BI pada akhir tahun ini mulai menyosialisasikan kebijakan redenominasi rupiah. “Redenominasi sudah final dan pemerintah sudah setuju,” ujarnya.

Dia menegaskan, berdasarkan pengalaman di negara lain, redenominasi tidak akan memicu kenaikan inflasi. Sebaliknya, justru bisa menurunkan inflasi, sepanjang diterapkan saat kondisi ekonomi kondusif. “Kemungkinan sosialisasinya tahun ini. Redenominasi merupakan keputusan nasional, bukan hanya BI,”
tegas dia.

Darmin berharap pasar tidak menafsirkan secara salah kebijakan redenominasi.
Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php

“Inflasi Perampok Uang Rakyat!”
Rabu, 26 Januari 2011 – 15:17 wib
Ade Hapsari Lestarini – Okezone

PONTIANAK – Harga bahan pangan yang naik sehingga membuat inflasi menjadi tinggi sudah pasti membuat banyak pihak menjadi kalang kabut. Hal ini khususnya dialami oleh masyarakat yang sangat terkena dampaknya.

“Inflasi sangat penting untuk kemakmuran masyarakat. Inflasi ini tanpa kita sadari menjadi perampok uang rakyat,” tegas Pimpinan Bank Indonesia di Pontianak Hilman Tisnawan, di Ruang Serbaguna Gedung BI Pontianak, Jalan Ahmad Yani, Pontianak, Rabu (26/1/2011).

Dia mencontohkan, seorang penjual makanan yang mempunyai modal sebesar Rp100 ribu dalam satu malam. Namun karena terjadi inflasi, keesokan harinya malah tidak bisa makan karena harga-harga melambung tinggi. “Ini yang harus kita jaga,” tukasnya singkat.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan inflasi Desember mencapai 0,92 persen. Angka tersebut hampir mendekati angka psikologis satu persen dan lebih tinggi dibanding dengan ekspektasi semula. Di mana inflasi sepanjang tahun 2010, yaitu periode Januari-Desember tercatat sebesar 6,96 persen.

Sementara inflasi inti Desember tercatat sebesar 0,38 persen dan inflasi inti yoy sebesar 4,28 persen. Bahan makanan masih merupakan pemicu inflasi dengan menyumbang inflasi sebesar 0,92 persen, disusul rokok tembakau 0,07 persen dan perumahan dan listrik.

“Inflasi di daerah di lihat dari dua sisi, suplai dan demand. Di daerah kita akan lihat lebih banyak dari sisi suplai. Di sinilah pentingnya kerja sama dengan pemda, provinsi, kabupaten dan kota,” pungkasnya.(wdi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s