stabilitas bbri dan bnii 2011 … 250111

Proyeksi Perbankan Indonesia 2011
Senin, 24 Januari 2011 – 07:31 wib

Ilustrasi
MENGACU pada perkembangan lingkungan usaha yang relatif stabil, diyakini kinerja perbankan Indonesia mengakhiri tahun 2010 dan melewati tahun 2011 akan lebih baik.

Dukungan kestabilan makroekonomi dan sosial politik memberikan sentimen positif bagi masyarakat untuk berhubungan dengan perbankan. Pemulihan ekonomi dunia juga semakin membaik sehingga memberikan sentimen positif bagi dunia usaha nasional.

Alhasil, sentimen positif ini juga akan merembet ke sektor perbankan. Kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional masih tetap tinggi,terlihat dari semakin besarnya DPK dari waktu ke waktu.Untuk tahun 2011,diperkirakan pertumbuhan DPK berkisar 15-17 persen. Permintaan kredit diperkirakan juga akan bergerak naik,bukan saja karena sektor riil membutuhkan dukungan pembiayaan perbankan, juga karena faktor regulatory driven menyusul diberlakukannya kebijakan LDR baru pada kisaran 78 persen-100 persen oleh BI yang berlaku efektif mulai awal Maret 2011.

Regulasi baru ini diperkirakan mendorong perbankan menetapkan target ekspansi kredit lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya. Jika pertumbuhan kredit tahun 2010 diperkirakan berkisar 18 persen-20 persen, maka tahun 2011 berpeluang naik dan mencapai kisaran 22 persen-25 persen.

Target pertumbuhan kredit sebesar ini dimaksudkan untuk dapat menyokong target pertumbuhan ekonomi berkisar 6 persen-6,5 persen.Ini dengan pendekatan,setiap satu persen pertumbuhan ekonomi membutuhkan dukungan pertumbuhan kredit sebesar empat persen.

Dengan asumsi perbankan mampu memenuhi LDR ideal berkisar 78 persen- 100 persen,maka rata-rata perolehan laba bersih perbankan diproyeksikan melonjak sekitar 12 persen-17 persen.Alhasil, pertumbuhan total aset perbankan pun bakal meningkat berkisar 10 persen- 15 persen.

Proyeksi optimistis di atas mendasarkan diri pada analisis lingkungan internal (dalam negeri) dan eksternal (global).Pemulihan ekonomi Eropa dan Amerika Serikat diharapkan membawa pengaruh positif bagi perbankan dan perekonomian nasional.Kondisi pasar domestik yang besar juga menguatkan optimisme bahwa prospek perbankan untuk tumbuh dan berkembang kian terbuka lebar. Pemerintah juga memiliki andil dalam membangun dan memperkuat fondasi perbankan nasional melalui serapan anggaran yang lebih optimal (government spending).Jadi,tidak melulu bertumpu pada public consumption saja.

Dengan perkiraan volume APBN 2011 berkisar Rp1.200 triliun,dengan setengahnya adalah untuk keperluan pembangunan,termasuk untuk dana alokasi umum (DAU) dan dana alokasi khusus (DAK) ke daerah-daerah, maka geliat perekonomian nasional dan daerah-daerah akan lebih cepat lagi.Ini akan membuka peluang lebih besar bagi perbankan untuk mengoptimalkan peran intermediasinya. Kegiatan pembangunan terutama di bidang infrastruktur memberikan peluang besar untuk melibatkan perbankan dalam pembiayaan.

Sarana dan prasarana fisik mustinya bakal digenjot oleh pemerintah sebagai upaya menggerakkan perekonomian,sekaligus meningkatkan daya saing nasional. Sektor konstruksi akan menikmati imbas positif apabila proyek-proyek infrastruktur berjalan efektif. Di samping peluang besar yang bakal dihadapi perbankan Indonesia, terdapat pula sejumlah tantangan sejalan dengan fenomena “flight to quality” ketika masyarakat semakin teredukasi untuk berorientasi pada kualitas bank dalam memilih bank. Oleh karena itu,enam tantangan strategis berikut ini hendaknya menjadi agenda utama yang harus diselesaikan perbankan.

Pertama, menjaga kestabilan likuiditas baik rupiah maupun non rupiah. Likuiditas yang kuat mengindikasikan kemampuan bank dalam menyalurkan fasilitas kredit dan ketahanan bank dalam menghadapi risiko likuiditas. Kedua,menjaga kualitas aset terutama kredit agar senantiasa berada dalam kategori performing asset.Ini akan berdampak pada peningkatan aset produktif (earning assets) yang pada gilirannya akan mendongkrak ROA. Ketiga,menjaga tingkat kesehatan bank melalui NIM yang terkendali.Di tengah tekanan pihak luar agar perbankan nasional menurunkan NIM,sebaiknya NIM ideal berkisar 5 persen-6 persen dapat dipertahankan.

Banjirnya dana asing ke pasar modal untuk memburu saham-saham sektor perbankan, salah satunya dipicu oleh masih tingginya NIM. Keempat,memperbaiki komposisi dana agar lebih sehat dengan cara mengupayakan dominasi dana murah (CASA) ketimbang dana mahal. Dengan dana murah terdiri atas tabungan dan giro dalam jumlah lebih besar memberikan peluang bagi bank menetapkan suku bunga kredit lebih rendah sehingga bisa memberikan insentif bagi sektor riil. Bank ini juga akan lebih kompetitif dibandingkan bank-bank pesaingnya karena mampu menekan suku bunga kreditnya. Kelima,menjaga dan meningkatkan modal inti atau Tier-1 Capital di atas 12 persen sesuai dengan kesepakatan negara-negara G20.

Sebagai catatan,dalam pertemuan G20 di London pada September 2009 dan berlanjut di Seoul,Korsel, November lalu,menyusul krisis keuangan global disepakati agar perbankan di seluruh dunia memperkuat modal intinya agar mampu menahan gejolak yang bisa terjadi secara tiba-tiba. Keenam, perbankan dituntut selalu melaksanakan prinsip-prinsip disiplin pasar (market discipline) karena kecenderungan kegiatan perbankan semakin regulatory driven.Segala sesuatunya kini terkesan serba diatur. Sebagai contoh soal regulasi penetapan LDR, GWM,dan konsolidasi bank.

Mengatur Strategi

Berdasarkan peluang dan tantangan di atas,perbankan nasional seyogianya menerapkan strategi bank follows trade or industry.Di sini perbankan harus jeli mencermati potensi pembiayaan ke sektor infrastruktur yang memberikan efek pengganda yang luas. Seiring dengan itu, perbankan dituntut dapat mengoptimalkan penghimpunan dana murah agar suku bunga kredit bisa ditekan.Ekspansi kredit dan penambahan aset berkualitas membutuhkan penguatan permodalan melalui berbagai aksi korporasi seperti rights issue.

Di sinilah perbankan harus tetap fokus pada perbaikan kualitas aset. Untuk mempercepat pertumbuhan aset dan modal,strategic action melalui merger dan/atau akuisisi menjadi pilihan paling rasional.Dengan demikian,upaya-upaya itu akan mampu memperbaiki capaian rasio-rasio keuangan utama. Perbankan Indonesia juga tetap memberikan perhatian pada sektor usaha mikro,kecil,dan menengah (UMKM) yang secara empiris mampu menjadi penyelamat perekonomian nasional.

Di tengah tekanan krisis keuangan global yang belum tuntas, ada baiknya regulator perbankan tetap melanjutkan relaksasi kebijakan untuk memberikan ruang gerak lebih fleksibel kepada perbankan nasional. (*) RYAN KIRYANTO(Koran SI/Koran SI/wdi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s