bbri, sesama bank bumn … 190111

Laba Bank BUMN Tumbuh 42,79%
Oleh Nasori | Selasa, 18 Januari 2011 | 15:13
JAKARTA – Bank-bank BUMN mencetak laba bersih Rp 20,92 triliun hingga November 2010. Angka itu tumbuh 42,79% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 14,65 triliun.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) yang dirilis Senin (17/1), pertumbuhan laba bank-bank pelat merah ditopang pendapatan operasional yang tumbuh 13,3% menjadi Rp 105,46 triliun dibandingkan tahun sebelumnya Rp 93,06 triliun. Di sisi lain, pendapatan non-operasional tumbuh 35,64% dari Rp 16,47 triliun menjadi Rp 22,34 triliun.

Kecuali itu, beban operasional bank-bank BUMN menurun. Pada periode tersebut, beban operasional mencapai Rp 91,55 triliun, turun 4,6% dibandingkan November 2009. Sedangkan beban non-operasional meningkat 186,53% dari Rp 3,12 triliun menjadi Rp 8,94 triliun.

Pertumbuhan juga terjadi pada sisi penyaluran kredit dengan kenaikan 17,02%. Per November 2009, total kredit yang disalurkan bank-bank BUMN mencapai Rp 531,24 triliun. Angka itu naik per November 2010 menjadi Rp 621,69 triliun.

Adapun dana pihak ketiga (DPK) bank-bank milik negara hingga November 2010 tumbuh 10,69% menjadi 798,12 triliun dibandingkan Rp 720,98 triliun pada November 2009. DPK banyak dikontribusi giro dan tabungan (dana murah) yang mencapai Rp 441,09 triliun atau 55,26% dari keseluruhan. Sisanya adalah deposito Rp 357,03 triliun atau 44,73% dari total DPK.

Dengan pencapaian-pencapaian tersebut, aset bank-bank persero hingga November 2010 tumbuh meyakinkan sebesar 10,21% menjadi Rp 988,87 triliun dibandingkan November 2009 sebesar Rp 897,25 triliun.

Sementara itu, bank-bank umum nasional pada periode sama membukukan laba bersih Rp 53,98 triliun, naik 30,44% dibandingkan tahun sebelumnya Rp 41,38 triliun. Bank umum mencatatkan kenaikan pendapatan operasional sebesar 16,6% menjadi Rp 317,02 triliun. Sedangkan laba operasional naik 24,69% dari Rp 36,57 triliun menjadi Rp 45,60 triliun.

Meski demikian, bank umum nasional masih sulit menekan beban operasional. Itu tercermin pada kenaikan beban operasional dari Rp 235,30 triliun menjadi Rp 271,41 triliun.

Ekspansi Kredit
Wakil Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Evi Firmansyah mengungkapkan, pertumbuhan laba 2010 didorong beberapa hal, di antaranya ekspansi kredit. Adanya kesepakatan 15 bank untuk mematok suku bunga deposito setara BI rate ditambah 50 basis poin (bps) atau maksimal 7% juga turut mendongkrak perolehan laba.

“Kesepakatan 15 bank tersebut mampu meredam persaingan antarbank dalam menghimpun dana, sehingga bank-bank lebih fokus dalam penyaluran kredit. Tahun lalu, kami mencatatkan pertumbuhan kredit 29-30%,” ujarnya.

Tentang pertumbuhan pendapatan nonbunga (fee based income), Evi Firmansyah menjelaskan, secara umum fee based income perseroan tahun lalu meningkat. “Dengan kenaikan kredit, tentu frekuensi transaksi juga meningkat, sehingga fee based income,” paparnya.

Tahun ini, Evi optimistis laba perseroan tetap tumbuh, dengan target pertumbuhan kredit berkisar 25%-30%. “Kami rasa, pertumbuhan tahun ini masih oke. Namun, dibandingkan tahun lalu, kami perkirakan sedikit lebih rendah,” tutur dia.

Menurut dia, pertumbuhan laba tahun ini akan terpengaruh sejumlah faktor, seperti tekanan inflasi dan kemungkinan naiknya BI rate. “Sebenarnya kami sudah memperhitungkan semua itu. Kami memang cukup dilematis. Bila bunga kredit dinaikkan, kredit bermasalah (non performing loan/NPL) akan naik. Tapi saya pribadi lebih mengutamakan kualitas kredit yang lebih baik. Lebih hati-hati, tapi bukan berarti lambat,” tandasnya.

Secara terpisah, Direktur Bank Mega Tbk Kastaman Thayib mengemukakan, laba perbankan tahun lalu meningkat sejalan dengan pertumbuhan DPK dan kredit. “Pertumbuhan bisnis yang semakin berkembang tahun lalu turut menyokong pertumbuhan laba perbankan,” paparnya.

Dia menambahkan, tahun ini perkembangan bisnis akan lebih baik seiring dengan semakin kondusifnya kondisi perekonomian. “Namun, inflasi dan kenaikan BI rate akan tetap membayangi dan harus tetap diwaspadai,” tuturnya.

Menurut Kastaman Thayib, kenaikan BI rate akan mendorong pelaku industri perbankan memilih tiga opsi, yakni mengurangi margin, menaikkan suku bunga kredit, atau meningkatkan ekspansi kredit.

NIM Tinggi
Direktur Indef Ahmad Erany Yustika mengatakan, laba perbankan, khususnya bank-bank BUMN, tahun lalu naik signifikan karena didorong beberapa faktor, di antaranya margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang masih tinggi, yakni 5-6%. “Selain itu, kredit tahun lalu memang lebih tinggi dibandingkan 2009. Faktor lainnya, industri perbankan juga sudah mulai efisien,” ujar dia.

Data BI menunjukkan, pendapatan bunga bank persero hingga November 2010 tumbuh 11,18% menjadi Rp 88,99 triliun dibandingkan periode sama 2009 sebesar Rp 80,04 triliun

Secara umum, kata Ahmad Erany, prospek bisnis perbankan tahun ini masih cerah. Itu tercermin pada pertumbuhan ekonomi nasional yang diproyeksikan lebih tinggi dari tahun lalu, yakni mencapai 6,5%. Pertumbuhan ekonomi sangat berkaitan erat dengan pertumbuhan kredit yang pada akhirnya akan memengaruhi laba perbankan. “Selain itu, selama NIM perbankan tetap tinggi, pertumbuhan labanya pun tetap bagus,” tuturnya.

Dia mengakui, tekanan inflasi akan tetap memengaruhi kinerja keuangan perbankan. “Tapi harus dilihat lagi, sejauh mana pemerintah dapat mengatasi inflasi yang memang lebih banyak disebabkan volatile foods,” tegasnya.

Menurut Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Ryan Kiryanto, kenaikan laba perbankan pada 2010 didorong tiga hal utama, yakni ekpansi kredit, kenaikan fee based income, dan peningkatan efisiensi.

Dia menjelaskan, pada 2010 kredit tumbuh dua kali lipat, mencapai 21% dibandingkan 2009 sebesar 10,6%. Di pihak lain, dengan dinamika yang lebih baik, industri perbankan semakin meningkatkan akumulasi fee based income.
”Bank-bank juga berlomba untuk semakin efisiens,” ucapnya.

Lebih Baik
Ryan Kiryanto yakin tahun ini kinerja perbankan lebih baik ketimbang tahun lalu. Soalnya, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2011 lebih baik dibanding 2010. Dalam APBN-P 2010, asumsi pertumbuhan ekonomi dipatok 5,8%, sedangkan dalam APBN 2011 sebesar 6,4%. Dengan membaiknya perekonomian, penyaluran kredit pun akan tumbuh lebih tinggi, bisa 22-25%.

“Semakin tinggi volume kredit, laba yang diperoleh perbankan akan semakin besar. Apalagi pada 1 Maret 2011 akan diberlakukan ketentuan loan to deposit ratio (LDR) yang dikaitkan dengan giro wajib minimum (GWM) 78-100%. Itu akan mendorong ekspansi kredit lebih tinggi,” papar dia.

Ryan menambahkan, tahun ini perbankan juga akan semakin meningkatkan dan mengembangkan produk fee based income untuk meraup lebih banyak pendapatan. “Misalnya remitansi. Bank-bank juga akan mengejar efisiensi,” tuturnya.

Mengenai inflasi, dia menjelaskan, terlalu dini untuk mengatakan tekanan inflasi pada 2011 menguat. ”Harus dilihat sampai akhir kuartal I, seperti apa perkembangannya. Tapi saya rasa, secara umum pertumbuhan perbankan pada 2011 akan lebih baik ketimbang 2010,” tandas Ryan. (c03)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s