Rupiah, diteduhkan … 150111

Faktor Domestik & Eropa Warnai Pasar

Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Jumat, 14 Januari 2011 | 18:45 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Rupiah melemah terbatas sementara IHSG menguat tipis. Kombinasi sentimen negatif dari potensi kenaikan BI rate serta positifnya lelang obligasi Portugal, Spanyol dan Italia turut mewarnai pasar.

Ariston Tjendra, periset dan analis PT Monex Investindo Futures mengatakan, pelemahan rupiah hari ini dipicu mencuatnya perkiraan bahwa BI rate 2011 akan naik sebesar 75 basis poin. Menurutnya, kenaikan suku bunga acuan itu memang positif bagi rupiah untuk jangka panjang.

Tapi, untuk jangka pendek, sentimennya justru negatif karena dinilai akan mengganggu perekonomian. Sebab, inflasi saat ini lebih banyak dipicu faktor terganggunya suplai bukan besarnya demand.

“Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah sempat melemah ke level 9.064 dan 9.047 sebagai level terkuatnya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (14/1). Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (14/1) ditutup melemah 2 poin (0,02%) jadi 9.047/9.057 per dolar AS dari posisi kemarin 9.045/9.055.

Pelemahan rupiah, lanjut Ariston, juga didorong laju bursa saham yang bergerak negatif sepanjang hari meskipun berhasil kembali mendarat di teritori positif. Padahal, jika dilihat dari pergerakan euro yang menguat, seharusnya rupiah menguat hari ini.

Berbagai sentimen di eurozone justru memperlemah dolar AS. Di antaranya, suksesnya lelang obligasi Spanyol dan Italia yang menyusul kesuksesan lelang obligasi Portugal kemarin.

Pada saat yang sama, hasil Rapat Dewan Gubernur Eropean Central Bank (ECB) memperlihatkan kecenderungan kenaikan inflasi di kawasan itu. Ini jadi sentimen positif karena Eropa mengalami masalah deflasi yang berarti pelemahan ekonomi.

Begitu juga hasil pertemuan Bank of England (BoE) yang juga menegaskan soal inflasi. Bahkan, BoE menyatakan, akan menaikan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Inflasi Inggris naik jadi 3,3% (year on year) dari bulan November 2%.

“Semua itu, memicu risk appetite (hasrat pasar atas aset-aset berisiko) di kawasan itu sehingga euro menguat. Tapi, tidak berhasil membawa rupiah ke area positif. Rupiah melemah tipis,” paparnya.

Sementara itu, dolar AS ditransaksikan variatif terhadap mayoritas mata uang utama. “Terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa), dolar AS ditransaksikan melemah ke level US$1,3390 dari sebelumnya US$1,3354 per euro,” imbuh Ariston.

Gina Novrina Nasution, pengamat pasar modal dari Reliance Securities mengatakan, penguatan tipis indeks saham hari ini dipicu penantian atas data-data ekonomi AS yang diekspektasikan positif sehingga membawa angin segar bagi market. Di sisi lain, kekhawatiran pasar atas melambungnya inflasi sudah mereda meskipun tetap ada.

Tapi, penguatan indeks terbatas. Sebab, yang paling menentukan laju market saat ini adalah penantian pasar pada earning season yang belum dirilis. “Terutama, emiten-emiten perbankan yang biasa merilis terlebih dahulu laporan keuangannya,” imbuhnya.

Menurut Gina, pasar ingin mengetahui net income dari perusahaan di sektor itu sehingga bisa segera meresponnya. Sebab, earning season di 2010 semuanya diharapkan bagus. “Itulah yang diharapkan bisa membuat likuiditas di market kembali marak,” tutur Gina. [mdr]

Jumat, 14/01/2011 14:55 WIB
BI Cari Waktu Tepat Naikkan Suku Bunga
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Bank Indonesia (BI) tengah mengambil ancang-ancang untuk menaikkan suku bunga acuan alias BI Rate. Pasalnya, bank sentral melihat tekanan inflasi masih akan mengancam di 2011.

Demikian disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution ketika ditemui di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (114/1/2011).

“Kita terima inflasi memang tekanannya naik. Tapi kita juga percaya pemerintah mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan komoditi penting, terutama beras. Tapi kita liat tendensi inflasi ini akan terus datang, sehingga lambat atau cepat dia akan menyentuh core inflation. Sehingga kita sendiri sudah bersiap-siap mencari waktu yang pas menaikkan BI rate,” papar Darmin.

Menurut Darmin, inflasi lama kelamaan pasti akan menyentuh pada intinya (core inflation) yang membuat bank sentral tidak punya pilihan lain untuk menaikkan BI Rate. Saat ini bank sentral tengah mencari waku dan besaran yang pas untuk suku bunga acuan tersebut.

Ditengah ancaman inflasi, Darmin mengungkapkan derasnya dana asing yang masuk (capital inflow) juga masih terus masuk. Oleh karena itu, Darmin menilai harus ada perhitungan dan kalibrasi berapa angka kenaikan BI Rate yang pas.

“Termasuk harus memperhitungkan dari sisi sektor perdagangan agar tidak ada yang dirugikan. Arah rupiah juga masih kita biarkan sampai kepada tingkat tertentu,” tuturnya.

Lebih jauh Darmin memproyeksikan tekanan inflasi yang terus meningkat akan diiringi pertumbuhan ekonomi yang juga meningkat. Menurutnya pertumbuhan ekonomi di 2011 akan mencapai posisi 6,3%.

“Kita menutup 2010 dengan cukup baik. Kita lihat bagaimana pertumbuhan ekonomi walaupun angka finalnya di 2010 belum keluar tetapi akan mencapai 6%.Di 2011 kalau saya katakan tadi inflasi masih akan ada tekanannya. Tetapi untuk pertumbuhan ekonomi itu bergeral ke arah 6,3%,” tukasnya.
(dru/ang)
Sabtu, 15/01/2011 10:00 WIB
Dana Asing Rp 6 Triliun ‘Kabur’ dari Surat Utang RI
Wahyu Daniel – detikFinance

Jakarta – Investor asing menjual Rp 6,86 triliun dananya yang ditempatkan di instrumen surat utang negara (SUN). Pada 13 Januari 2011 penempatan dana asing di SUN turun menjadi Rp 191,89 triliun, dari posisi 7 Januari 2011 yang sebesar Rp 198,75 triliun

Demikian data dari Ditjen Pengelolaan Utang Kemenkeu yang dikutip Sabtu (14/1/2011).

Sampai 13 Januari 2011, total SUN yang diperdagangkan mencapai Rp 639,06 triliun. Porsi terbesar masih dipegang oleh perbankan yang jumlahnya mencapai Rp 221,68 triliun.

Kemudian Bank Indonesia (BI) memiliki SUN sebesar Rp 14,65 triliun. Lalu industri reksa dana memiliki SUN sebesar Rp 51,25 triliun, industri asuransi Rp 79,39 triliun, industri dana pensiun Rp 36,71 triliun, industri sekuritas Rp 170 miliar, dan lain-lain Rp 43,33 triliun.

(dnl/dnl)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s