suku bunga acuan BI yang diincar : 130111

Salut pada Sikap BI
Kamis, 13 Januari 2011 | 10:12
Aksi pemodal asing melepas saham secara besarbesaran di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditengarai memiliki motivasi tersembunyi. Kita tidak menafikan adanya ancaman inflasi di tengah anomali cuaca belakangan ini. Namun, kekhawatiran terhadap inflasi yang sampai merontokkan bursa saham belakangan ini sudah berlebihan.

Kita layak mencermati alasan sesungguhnya investor asing melepas saham secara besar-besaran itu. Dalam lima hari terakhir, transaksi jual bersih (net selling) asing tercatat sebesar Rp 5,26 triliun. Ancaman inflasi menjadi alas an para pemodal asing keluar dari pasar saham. Dengan alasan inflasi pula, mereka memindahkan dananya ke instrument pendapatan tetap (fixed income) seperti surat utang negara (SUN) dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Awal Januari ini, porsi kepemilikan asing di SUN meningkat dari 29,9% menjadi 30,4%, sedangkan porsi di SBI melonjak dari 27,5% menjadi 31,1%. Aksi asing menyerbu SUN dan SBI patut diduga sebagai upaya menekan Bank Sentral untuk menaikkan suku bunga. Terlebih lagi, hal itu dilakukan menjelang pelaksanaan lelang SBI yang dijadwalkan 12 Januari 2011. Beberapa hari menjelang lelang SBI, ratarata transaksi harian SBI di pasar sekunder meningkat dari Rp 400 miliar menjadi Rp 2,1 triliun.

Kenaikan transaksi SBI di pasar sekunder itu sudah menjadi pola setiap menjelang lelang SBI di pasar primer. Biasanya, bank-bank pun melepas SBI-nya kepada investor non-resident. Akibatnya, yield spread SBI di pasar sekunder dan pasar primer melebar.

Besarnya permintaan SBI itu juga terkonfirmasi pada lelang SBI di pasar primer. Pada lelang kemarin, total nominal penawaran yang masuk mencapai Rp 69 triliun dengan kisaran bid rate 6-6,8%. Namun, Bank Sentral hanya menyerap Rp 25 triliun dengan suku bunga rata-rata 6,1%, turun dibandingkan Desember 2010 yang rata-rata 6,3%.

Hasil lelang SBI itu tampak sejalan dengan keputusan Bank Sentral untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) tetap 6,5% sejak Agustus 2009. Meski tekanan inflasi membuat pemodal asing gusar, BI yakin inflasi masih terkendali. BI juga tidak luluh oleh tekanan asing untuk menaikkan suku bunga. Sebagai otoritas moneter, BI tentu sangat memahami kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Dalam berbagai kesempatan, Gubernur BI Darmin Nasution menyatakan komitmen Bank Sentral untuk ikut mendorong sektor riil. Salah satu caranya adalah dengan mengupayakan suku bunga yang terjangkau dunia usaha. Sikap BI yang tetap mempertahankan BI rate 6,5% menunjukkan komitmen yang kuat untuk mendorong sektor riil.

Keputusan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa BI tidak gentar terhadap tekanan asing. Meski Dana Moneter Internasional (IMF) berulang kali menyarankan kepada BI untuk menaikkan suku bunga, BI tetap bergeming dengan keyakinannya. Kita layak mengapresiasi keputusan BI yang tidak begitu saja menyerah pada tekanan. Kita percaya BI sudah memperhitungkan daya dukung perekonomian nasional sebelum mengambil keputusan.

Selama ini, BI memadukan kebijakan moneter dan makro prudensial dengan mengoptimalkan semua instrumen secara seimbang dan terukur. Ketimbang menaikkan suku bunga, BI memilih menggunakan instrument giro wajib minimum (GWM) untuk mengatur likuiditas perbankan.

Untuk menghadapi kemungkinan pelarian modal secara tiba-tiba, BI telah memperpanjang jangka waktu (one month holding period) terhadap SBI. Sejauh ini, langkah-langkah BI masih berada dalam jalur yang benar. Meski pemulihan ekonomi global melambat, kinerja ekonomi Indonesia tetap menunjukkan peningkatan. BI sudah sepantasnya tetap mempertahankan suku bunga acuan. Terlebih lagi, bank sentral negara-negara maju masih cenderung mempertahankan suku bunga rendah.

Kebijakan pengelolaan capital inflow yang ditempuh BI dan akumulasi cadangan devisa mendorong ekspektasi positif terhadap perekonomian domestik. Hal itu juga tercermin pada volatilitas nilai tukar rupiah yang relatif terkendali. BI tak mungkin bekerja sendirian.

Untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional, BI perlu dukungan pemerintah, perbankan, dan dunia usaha. BI bertugas menjaga nilai tukar dan inflasi terkendali dengan menggunakan instrument moneter. Pemerintah berkewajiban menjaga pasokan barang dan distribusi tetap lancar. Dalam hal inflasi, pemerintah harus berjuang keras.

Selain mengamankan pasokan dan distribusi barang, pemerintah harus berhati- hati membuat kebijakan yang bisa memengaruhi inflasi. Di tengah kekhawatiran terhadap tekanan inflasi, sudah sepantasnya bila pemerintah tidak menambah beban masyarakat.

Dunia usaha tentu akan mencermati setiap langkah bank sentral dan pemerintah. Bila pemerintah mampu menciptakan rasa nyaman, perbankan dan dunia usaha otomatis akan merasa tenang menjalankan bisnisnya. Sikap cerdas para pejabat pemerintahan sangat dibutuhkan.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s